Pada dasarnya, definisi operasional dari manajemen laba (earning
management) menurut Belkaoui (2015) adalah perilaku yang dilakukan oleh
manajer perusahaan untuk meningkatkan atau menurunkan laba dalam proses
pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya
sendiri.
Definisi manajemen laba menurut Djamaluddin (2015) adalah perilaku yang
dilakukan manajer menggunakan kebijakan (judgment) dalam pelaporan keuangan
dan dalam menyusun transaksi untuk mengubah laporan keuangan dan
menyesatkan stakeholders mengenai kinerja ekonomi perusahaan, atau untuk
mempengaruhi contractual outcomes yang tergantung pada angka akuntansi yang
dilaporkan.
Definisi menurut Yulianti (2016) manajemen laba dalam arti sempit
didefinisikan perilaku manajer dengan komponen discretionary accruals dalam
menentukan besarnya laba. Sedangkan dalam arti luas manajemen laba
didefinisikan tindakan manajer untuk meningkatkan atau mengurangi laba yang
dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa
mengakibatkan peningkatan atau penurunan probilitas ekonomis jangka panjang.
Berdasarkan definisi di atas, pengertian manajemen laba adalah suatu usaha yang
dilakukan oleh manajemen untuk memanipulasi angka-angka akuntansi yang
dilaporkan kepada pihak eksternal dengan tujuan untuk keuntungan bagi dirinya
sendiri dengan cara mengubah atau mengabaikan standar akuntansi yang telah
ditetapkan, sehingga menyajikan informasi yang tidak sebenarnya.
Laporan keuangan sering digunakan sebagai indikator penilaian kinerja,
maka perilaku manajemen laba dimungkinkan dapat terjadi karena manajemen
mempunyai informasi lebih banyak dan lebih akurat daripada prinsipal. Beberapa
tujuan manajemen melakukan manajemen laba menurut Suranggane (2016)
adalah menghindari kerugian, menghindari pelaporan penurunan laba, Avoiding
failing meet or beat analyst forecast, dan Invoke an earnings bigbath.
Menurut Scott (2016) praktek manajemen laba yang biasa dilakukan oleh
manajemen adalah sebagai berikut :
1. Taking big bath
yaitu manajemen mencoba mengalihkan expected future cost ke periode
kini agar memiliki peluang yang lebih besar mendapatkan laba di masa datang.
Biasanya dilakukan bila perusahaan mengadakan restrukturisasi atau
reorganisasi.
2. Income minimization
yaitu manajemen mencoba memindahkan beban ke masa kini agar
memiliki peluang yang lebih besar mendapatkan laba di masa mendatang.
3. Income maximization
yaitu manajemen mencoba meningkatkan laba masa kini dengan
memindahkan beban ke masa mendatang. Biasanya dilakukan manajer dalam
rangka memperoleh bonus tahunan. 4. Income smooting
yaitu tindakan di mana manajemen memperhalus fluktuasi laba dari
periode ke periode dengan cara memindahkan laba dari periode yang memiliki
laba tinggi ke periode yang memiliki laba rendah.
Teknik merekayasa laba menurut Damayanti (2015) sebagai berikut :
1. Perubahan metode akuntansi
Mengubah metode akuntansi yang berbeda dengan metode sebelumnya
sehingga dapat menaikkan atau menurunkan angka laba. Misalnya: merubah
metode depresiasi aset tetap dan metode jumlah angka tahun ke metode
depresiasi garis lurus, dan merubah metode penilaian persediaan dan metode
LIFO ke metode FIFO atau sebaliknya.
2. Memainkan kebijakan perkiraan akuntansi
Manajemen mempengaruhi laporan keuangan dengan cara memainkan
kebijakan perkiraan akuntansi. Misalnya: kebijakan mengenai perkiraan jumlah
piutang tidak tertagih dan kebijakan mengenai perkiraan umur aset tetap
berwujud dan tidak berwujud.
3. Menggeser periode biaya atau pendapatan
Menggeser periode biaya atau pendapatan sering juga disebut sebagai
manipulasi keputusan operasional. Misalnya: mempercepat atau menunda
pengeluaran promosi sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau
menunda pengiriman produk ke pelanggan.
Perataan laba mengidentifikasi batas pelaporan laba (earnings threshold)
dan menemukan bahwa perusahaan yang berada dibawah earnings threshold akan
berusaha untuk melewati batas tersebut dengan melakukan manajemen laba.
Yulianti (2016) menyebutkan bahwa terdapat dua macam earnings threshold,
yakni :
1. Titik pelaporan laba nol, yang menunjukkan usaha manajemen laba untuk
menghindari pelaporan kerugian.
2. Titik perubahan laba nol, yang menunjukkan usaha manajemen laba untuk
menghindari penurunan laba. Menurut Belkoui (2016) manajemen laba merupakan suatu hasil usaha
untuk melewati ambang batas. Tiga ambang batas penting bagi para eksekutif
adalah :
1. Untuk melaporkan laba positif yaitu melaporkan laba yang diatas nol.
2. Untuk menjaga kinerja saat ini yaitu membuat paling tidak sama dengan
kinerja tahun lalu.
3. Untuk memenuhi harapan analis khususnya analis untuk peramalan laba.
Manajemen laba yang dilakukan baik yang bersifat konservatif sampai
dengan yang ekstrim (froud) dapat menyesatkan para pengguna laporan keuangan
(users) karena informasi yang disajikan tidak menunjukkan kinerja yang
sesungguhnya. Manajemen laba bisa dikategorikan sebagai suatu penipuan yang
bisa merugikan pihak-pihak yang berkepentingan seperti user, investor dan
pemerintah. Dengan demikian informasi yang diberikan tidak mencerminkan
kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar