Beberapa motivasi yang mendorong manajer untuk melakukan manajemen
laba (Scott, 2016) yaitu :
1. Motivasi bonus (Bonus Purpose)
Perusahaan berusaha memacu dan meningkatkan kinerja karyawan
(dalam hal ini manajemen) dengan cara menetapkan kebijakan pemberian
bonus setelah mencapai target yang ditetapkan. Sering kali laba dijadikan
sebagai indikator dalam menilai prestasi manajemen dengan cara menetapkan
tingkat laba yang harus dicapai dalam periode tertentu. Oleh karena itu,
manajemen berusaha mengatur laba yang dilaporkan agar dapat
memaksimalkan bonus yang akan diterimanya.
2. Motivasi Kontraktual Lainnya (Other Contractual Motivation)
Manajer memiliki dorongan untuk memilih kebijakan akuntansi yang
dapat memenuhi kewajiban kontraktual termasuk perjanjian hutang yang harus
dipenuhi karena bila tidak perusahaan akan terkena sanksi. Oleh karena itu,
manajer melakukan manajemen laba untuk memenuhi perjanjian hutangnya. 3. Motivasi Politik (Political Motivation)
Perusahaan besar dan industry strategic akan menjadi perusahaan
monopoli. Dengan demikian, perusahaan melakukan manajemen laba untuk
menurunkan visibilitinya dengan cara menggunakan prosedur akuntansi untuk
menurunkan laba bersih yang dilaporkan.
4. Motivasi Pajak (Taxation Motivation)
Manajemen termotivasi melakukan praktik manajemen laba untuk
mempengaruhi besanya pajak yang harus dibayar perusahaan dengan cara
menurunkan laba untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayar.
5. Pergantian CEO (Chief Executif Officier)
Motivasi manajemen laba akan ada di sekitar waktu pergantian CEO.
CEO yang akan diganti melakukan pendekatan strategi dengan cara
memaksimalkan laba supaya kinerjanya dinilai baik.
6. Initial Public Offering (IPO)
Perusahaan yang pertama kali akan go public belum memiliki nilai pasar.
Oleh karena itu, manajemen akan melakukan manajemen laba pada laporan
keuangannya dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.
7. Pemberian Informasi kepada Investor (Communicate Information to Investors)
Manajemen melakukan manajemen laba agar laporan keuangan
perusahaan terlihat lebih baik. Hal ini dikarenakan kecenderungan investor
untuk melihat laporan keuangan dalam menilai suatu perusahaan. Pada
umumnya investor lebih tertarik pada kinerja keuangan perusahaan di masa
datang dan akan menggunakan laba yang dilaporkan pada saat ini untuk
meninjau kembali kemungkinan apa yang akan terjadi di masa yang akan
datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar