Rabu, 11 Mei 2022

Pengertian Kecerdasan Menghadapi Rintangan (skripsi tesis dan disertasi)

Kecerdasan menghadapi rintangansendiri bila diartikan dalam bahasa Indonesia bermakna kesulitan atau kemalangan, dan dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidakbahagiaan, kesulitan, atau ketidak beruntungan(Handaru, et al., 2015). Menurut Rifameutia (dalam Akbar-Hawadi, 2005) kecerdasan menghadapi rintangandalam kajian psikologididefinisikan sebagai tantangan dalam kehidupan.Nashori (dalam Stoltz,2000) berpendapat bahwa kecerdasan
 menghadapi rintanganmerupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untuk mengarahkan, mengubah cara berpikirdan tindakannya ketika menghadapi hambatan dan kesulitan yang bisa menyengsarakan dirinya. Stoltz (2004) mendefinisikan kecerdasan menghadapi rintangansecara ringkas, yaitu sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah.Beberapa definisi di atas yang cukup beragam, terdapat fokus atau titik tekan, yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang, baik fisik ataupun psikis dalam menghadapi problematika atau permasalahan yang sedang dialami.Setiap orang pasti memimpikan sebuah kesuksesan. Akan tetapi dalam mencapai kesuksesan itu sendiri butuh perjuangan yang tidak mudah, pasti akan selalu ada cobaan, rintangan maupun kesulitan yang menghadang. Stoltz (2010)menyatakan bahwa“adversity” berarti kemalangan, kesulitan, dan penderitaan. Banyak orang yang dengan mudah takluk kepada berbagai kesulitan yang menghadang, Sebagian dari mereka mencoba untuk menghadapinya tetapi mundur teratur oleh terjalnya sebuah penderitaan. Hans (2006)mengungkapkan bahwakecerdasan menghadapi rintanganadalah kegigihan dalam mengatasi segala rintangan dalam mendaki puncak sukses yang diinginkan. Kecerdasan menghadapi rintanganmerupakan faktor yang paling menentukan bagi kesuksesan jasmani maupun rohani, karena pada dasarnya setiap orang memendam hasrat untuk mencapai kesuksesan. Hal ini juga selarasdengan pendapat Agustian (2001), kecerdasan menghadapi rintanganadalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan bertahan hidup. Hal tersebut diperkuat kembali oleh Ginanjar (Bayani dan Hafizhoh, 2011) yang menyatakan bahwakecerdasan menghadapi rintangan
 bagi seseorang bagai diukur kemampuannya dalam mengatasi setiap persoalanhidup untuk tidak berputus asa. Secara sederhana kecerdasan menghadapi rintangandapat didefinisikan sebagai kecerdasan individu dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, hambatan-hambatan maupun tantangan dalam hidup. Sinamo (2010) menyatakan bahwa kecerdasan menghadapi rintanganadalah sebuah daya kecerdasan budi, akhlak, iman manusia untuk menundukan tantangan-tantangannya, menekuk kesulitan-kesulitannya, dan meringkus masalah-masalahnya sekaligus mengambil keuntungandari kemenangan-kemenangan itu. Kecerdasan menghadapi rintanganbukan hanya persoalan kemampuan individu dalam mengatasi sebuah kesulitan yang ada sekaligus mengambil kemenangan, akan tetapi individu tersebut juga diharapkan dapat mengubah pandangannya akan sebuah kesulitan sebagai sebuah peluang baru untuk mencapai kesuksesan yang dinginkan. Setiap kesulitanmerupakan tantangan, setiap tantangan merupakan suatu peluang, dan setiap peluang harus disambut dengan baik (Stoltz, 2000). Hal ini mungkin dipandang sebagai hal yang sulit bahkan hal yang mustahil oleh banyak orang. Akan tetapi dengan kecerdasan menghadapi rintanganyang dimiliki setiap individu diharapkan dapat memaksimalkan hal tersebut. Kecerdasan menghadapi rintangandipandang sebagai kecerdasan individu yang mampu meramalkan kemampuan dalam bertahan menghadapi kesulitan serta cara mengatasinya, kesanggupan seseorang bertahan dalam menjalani hidup. Pada dasarnya kecerdasan individu pada setiap orang berbeda-beda, tingkat kemampuan inilah yang berdampak pada kemampuan seseorang dalam
 
kesanggupannya menjalani kehidupan ini. Garmezy dan Michael (Pranandari, 2008), mengatakan “saat kita dihadapkan pada kesulitan hidup, sebagian individu gagal dan tidak mampu bertahan dimana mereka mengembangkan pola-pola perilaku yang bermasalah. Sebagian lainnya bisa bertahan dan mengembangkan perilaku yang adaptif bahkan lebih baik lagi bila mereka bisa berhasil keluar dari kesulitan dan menjalani kehidupan yang sehat. Rahastyana dan Rahman(2007) mengatakanbahwakecerdasan menghadapi rintanganmempunyai fungsi untuk meramalkan antara lain: (a) Memberi tahu seberapa jauh seseorang dapat bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan kita untuk mengatasinya. (b) Meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siap yang akan hancur. (c) Meramalkan siapa yang akan melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa yang akan gagal. (d) Meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan. Dalam arti yang luas, kecerdasan menghadapi rintanganmerupakan keinginan seseorang untuk meraih sebuah kesuksesan, ketahanan seseorang, kemampuan untuk bangkit serta tidak terhalangi dalam setiap usahanya. kecerdasan menghadapi rintanganmenunjukan daya tahan, daya bangkit serta sikap pantang menyerah seseorang. Greenberg dan Baron (2006) menyatakan “Adversity quotient is the will you succeed, your resilience, the ability to bounce back, not be deterred in your quest”. Kemampuan seseorang bertahan dalam kesulitan hidup sebenarnya disadari atau tidak merupakan manfaat yang ditimbulkan dari kecerdasan menghadapi rintanganitu sendiri. Jadi seseorang yang memiliki kecerdasan menghadapi rintanganbaik, akan mampu menghadapi setiap kesulitan yang ada. Sementara sebaliknya seseorang
 yang memiliki kecerdasan menghadapi rintanganyang kurang baik akan mengalami kesulitan besar atas masalah yang dihadapinya. Mengenai hal yang telah dipaparkan tersebut, sesuai dengan pendapat Wangsadinata dan Suprayitno (2008) kecerdasan menghadapi rintanganadalah suatu kemampuan atau kecerdasan ketangguhan berupa seberapa baik individu bertahan atas cobaan yang dialami dan seberapa baik kemampuan individu dapat mengatasinya. Untuk mendapatkan kecerdasan menghadapi rintanganyang tinggi, seorang individu harus mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan pola pikirnya untuk memperoleh keberhasilan. Perubahandiciptakan dengan mempertanyakan pola-pola lama dan secara sadar membentuk pola-pola baru. Dalam membantu individu untuk menciptakan perbaikan permanen kecerdasan menghadapi rintanganpada dirinya, teknik-teknik yang dipergunakan yakni rangkaian LEAD. Secara singkat langkah-langkah rangkaian LEAD meliputi, “(1) Listen: Apakah itu respons Adversity quotientyang tinggi atau rendah, Dimensi manakah respons yang paling tinggi atau paling rendah. (2) Explore: Apakah kemungkinan asal-usul kesulitan ini, Mengingat asal-usul serta seberapa banyakkah yang merupakan kesalahan individu, Secara khusus apakah individu dapat mengerjakannya dengan lebih baik lagi, Aspek-aspek apa sajakah dari akibat-akibatnya yang harus individu akui, Apa yang tidak harus individu akui. (3) Analyze: Apakah buktinya bahwa individu tidak memiliki kendali, Apakah buktinya bahwa kesulitan harus menjangkau wilayah-wilayah lain kehidupannya, Apakah buktinya bahwa kesulitan harus berlangsung lebih lama daripada semestinya. (4) Do: Tambahkan informasi apakah yang individu perlukan, Apa yang bisa individu
 
lakukan untuk mendapatkan sedikit kendali atas situasi ini, Apa yang bisa individu lakukan untuk membatasi jangkauan kesulitan ini, Apa yang bisa individu lakukan untuk membatasi berapa lama berlangsungnya kesulitan ini dalam keadaannya yang sekarang (Stoltz, 2000).Stoltz (2004) menambahkan bahwa individu yang memiliki kemampuan untuk bertahan dan terus berjuang dengan gigih ketika dihadapkan pada suatu problematika hidup, penuh motivasi, antusiasme, dorongan, ambisi, semangat, serta kegigihan yang tinggi, dipandang sebagai figur yang memiliki kecerdasan menghadapi rintanganyang tinggi, sedangkan individu yang mudah menyerah, pasrah begitu saja pada takdir, pesimistik dan memiliki kecenderungan untuk senantiasa bersikap negatif, dapat dikatakan sebagai individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversityyang rendah. Werner (Stoltz, 2002), dengan didasarkan pada hasil penelitiannya mengemukakan bahwa anak yang ulet adalah seorang perencana, orang yang mampu menyelesaikan masalahnya dan orang yang mampu memanfaatkan peluang. Orang yang mengubah kegagalannya menjadi batu loncatan mampu memandang kekeliruan atau pengalaman negatifnya sebagai bagian dari hidupnya, belajar darinya dan kemudian maju terus.Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan menghadapi rintanganmerupakan kemampuan individu untuk dapat bertahan dalam menghadapi segala macam kesulitandan kegagalansampai menemukan jalan keluar, memecahkan berbagai macam permasalahan, mereduksi hambatan dan rintangan dengan mengubah cara berpikirdan sikap terhadap kesulitan tersebut.

Tidak ada komentar: