Menurut Janssen (2000) ada tiga aspek yang dapat mengukur perilaku inovatif, adalah sebagai berikut.a.Menghasilkan Ide (Idea Generation)Kemampuan individu dalammenghasilkan ide dengan cara mengenali masalah yang ada pada organisasi. Produksi dari ide-ide ini berguna dalam konteks apapun yang ada di organisasi, baik dalam pekerjaan, ketidaksesuaian, diskontinuitas,dan tren atau isu terbaru yang sedang berkembang. Ide tersebut dapat bersifat benar-benar asli (orisinil) maupun hasil modifikasi dari produk dan proses kerja yang telah ada sebelumnya.b.Promosi Ide (Idea Promotion)Keadaan dimana individu mempromosikan ide atau solusi baru yang telah diciptakan kepadarekan yang dirasa potensialdalam pengembangan ide. Individu ini harus terlibat dalam mencari teman atau sponsor yang bertujuan untuk membangun kelompok pendukung. Hal ini nantinya mampu memberikan kekuatan agar ide tersebut dapat diimplementasikan dalam organisasi.c.Realisasi Ide (IdeaRealization)Sikap memproduksi model ide yang dimiliki individu menjadi produk dan proses kerja sehingga dapat dipraktikkan secara nyata baik dalam lingkup pekerjaan, kelompok,maupun organisasi secara keseluruhan.Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga aspek dalam perilaku inovatif, yaitu aspek menghasilkan ide
(idea generation), promosi ide (idea promotion),dan realisasi ide (idea realization).3.Faktor yang Mempengaruhi PerilakuInovatifMenurut Li dan Zheng (2014), terdapat faktor individual dan faktor organisasional yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku inovatif, antara lain sebagai berikut.a.Faktor pada Level Individual1)Komitmen OrganisasiKomitmen organisasi mengacu pada kondisi mental yang ingin dipertahankan karyawan dari keanggotaannya dalam organisasi serta menunjukkan tujuannya mengapa ingin tetap bekerja di organisasi tersebut. Janssen (2000) menambahkan bahwasisipsikologis karyawan akan menentukan keterlibatannya dalam kegiatan inovasi. Karyawan juga dapat menentukan komitmen pribadinya terhadap organisasi yang telah menyediakan berbagai sumber daya.2)Modal PsikologisModal psikologis individu adalah keadaan dimana individu mengembangkan pikiran dan perilakupsikologis yang positif. Karyawan dengan modal psikologis tinggi cenderung akan memiliki perilaku yang lebih inovatif (Xu dkk., 2011).Sebagai contoh, dengan memunculkan perilaku kepercayaan diri, optimisme, harapan, ketangguhan (Luthans & Avolio, 2003 dalam Li & Zheng, 2014). Karyawan cenderung lebih bersedia mengambil risiko kegagalan
dalam inovasi dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan inovasi apabila terdapat kesamaanpadakarakteristik psikologis mereka(Han & Yang, 2011).Kecenderungan akan pengambilan risiko dipandang sebagai bentuk dari ciri personalitassehingga dianggap sebagai suatu hal yang stabil sepanjang waktu (Sitkin & Weingart, 1995). Berdasarkan sudut pandang ini,Delmar (1994) menjelaskan bahwa kecenderunganakan pengambilanrisiko mengisyaratkan dua hal, yaitu risk-prone(senang menghadapi risiko) danrisk-averse(menghindari risiko).Weber dan Miliman(1997)juga menyebutkan bahwapengambilan risiko bisadikaitkan dengan faktor-faktor kepribadiansehingga lebih mengarah pada karakteristikpsikologisindividu.Perilakupengambilan risiko tidak hanya tergantungpada kecenderungan individu untuk mengambil risiko, tetapi biasanya dikondisikan oleh fakta bahwa beberapaorang sering menemukan dirinya berada dalamsituasi yanglebih rentan terhadap pengambilan risiko.Perbedaan dari pendekatan "kemampuan mengambil risiko" adalah bahwa di sini perilaku juga diarahkanoleh faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi pelaku usaha. Sehingga perilakuinovasi dan pengambilan risiko harusdipelajari menggunakan kerangka psikologis dan sosial-psikologis(Kahneman & Tversky, 1984).
b.Faktor pada Level Organisasional1)Iklim Inovatif OrganisasiAmabile dkk (1996) berpendapat bahwa suasana organisasi adalah hasil daripersepsi terhadap tingkat dukungan untuk memunculkan perilakuinovasi yang dapat dirasakan oleh anggota organisasi. Artinya, apakah organisasi telah berhasil menyediakan lingkungan pembelajaran dan suasana inovasi yang kondusif pada setiap tingkat komponen di organisasi. Penelitian yang mendukung teori ini adalah penelitiandariLian (2013) yang menunjukkan bahwa iklim organisasi inovatif memiliki efek langsung pada perilaku inovatif individu.2)KepemimpinanPerilaku inovatif karyawan tidak hanya bergantung dari segi internal seperti kognitif, motivasi intrinsik, modal psikologis tetapi juga dari lingkungan eksternal, yaitu kepemimpinan dan motivasi (Mumford dkk., 2002). Kepemimpinan diyakini mampu meningkatkan perilaku inovatif karyawan melaluipemberiandorongan langsung atau dengan cara menetapkan tujuan inovasi bagi karyawan (Wang Duanxu dkk., 2010, dalam Li & Zheng, 2014).3)Modal SosialInteraksi sosial dapat menciptakan timbal balik emosional dan rasa saling percaya diantara anggota lain. Hal ini mendorong karyawan untuk saling berbagi pengalaman belajar dan pengetahuan akan teknologi serta memperluas bidang visi, mempromosikan ide-ide baru, dan menghasilkan ide-ide baru
Yang & Chen, 2005). Peningkatan cadangan pengetahuan lebih memungkinkan terciptanya perilaku inovasi (Lin & Sun, 2013). Madjar (2005) juga menyampaikan hal serupa, bahwa kreativitas bukanlah hasil pemikiran independen dari satu anggota organisasi, melainkan dihasilkan dari proses interaksi yang seringterjalinantar anggota. Tidak hanya interaksi antar anggota organisasi, melainkan interaksi pada konsumen juga dirasa sangat penting. Komunikasi dengan konsumen dapat membuat karyawan memahami perbedaan karakteristik produk, kebutuhan, dan tren (isu) terkini dengan lebih mudah. Di sisi lain, hal ini juga dapat mengembangkan pemikiran kreatif, danmempromosikan ide karyawan lebih besar.4)Karakter PekerjaanPerilaku inovatif karyawan berkaitan erat dengan pengalaman kerja dan karakteristik pekerjaan karyawan. Sepanjang perjalanan karyawan dalam bekerja, mereka akan menemukan tips bekerja, cara mengatasi ketakutan akan kegagalan dalam berinovasi,dan menjadi lebih percaya diri ketika berinovasi. Karyawan juga akan terus belajar dalam menyelesaikan masalah yang ada, sehingga terbentuk keterampilan inovatif yang memadai dan karyawan akan menerapkan perilaku inovatif secara mendalam.Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat faktor individual dan organisasional yang dapat mempengaruhi perilaku inovatif. Faktor individual terdiri atas
komitmen organisasi dan modal psikologis sertafaktor organisasional yang terdiri atas iklim inovatif organisasi, kepemimpinan, modal sosial dan karakteristik pekerjaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar