Rabu, 11 Mei 2022

Aspek Pengambilan Risiko (skripsi tesis dan disertasi)

Dewett (2006) menjelaskan bahwa terdapat dua aspek yang dapat mengukur pengambilan risiko, diantaranya adalah sebagai berikut.a.Autonomy (Otonomi)Otonomi mengacu pada pekerjaan yang memberikan individu kebebasan, kemerdekaan,dan kebijaksanaan dalam menentukan prosedur yang digunakan dalam menjalankan tugasnya (Hackman & Oldham, 1980). Individu membutuhkan kebebasan untuk memperluas jangkauan dimana kemungkinan solusi dari permasalahan dapat diciptakan (Abbey & Dickson, 1983; Shalley dkk., 2000). Otonomi memungkinkan kebebasan individu dari aturan kerja yang kaku dan kemampuan untuk mengembangkan diri jauh lebih baik. Kebebasan inilah yang akan mendorong individu untuk mengambil risiko.Individu dengan tingkat otonomi akan diberdayakan untuk berani mengambil keputusan dari peluang yang ada dan berinisiatif untuk berpartisipasi dalam tugasnya di organisasi. Pentingnya individu merasa diberdayakan adalah dirinya lebih mudah menawarkan pemikiran kreatif untuk kemajuan organisasi walaupun terkadang memiliki risiko. Individu perlu tahu bahwa idenya akan didengar dan dihormati sehingga hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri dan menumbuhkan kemampuan seseorang untuk mengambil risiko (Wong & Pang, 2003).Dalam perspektif psikologis, karyawan akan memandang otonomi sebagai peluang untuk memengaruhi pekerjaannya, yang membangun antusiasme dan komitmen dalam bekerja. Akibatnya, karyawan akan
rela mengambil lebih banyak risiko dibandingkan dengan rekan-rekan mereka dengan tingkat otonomi yang lebih rendah (Globocnik & Salomo, 2015). Otonomi juga akan meningkatkan tanggung jawab dan orientasi peran yang fleksibel yang akan mendorong karyawan untuk mencurahkan lebih banyak upaya untuk membawa perubahan ke tempat kerja meskipun perubahan tersebut memilki risiko yang cukup tinggi (Salanova & Schaufeli, 2008).b.Encouragement (Dorongan)Dorongan dan antusiasme untuk mengambil risiko di semua tingkatan organisasi cenderung akan mengalami pengulangan (Abbey & Dickson, 1983; Amabile, 1996). Dorongan yang diberikan akan menghasilkan kesediaan individu yang lebih tinggi untuk mengambil risiko. Pendapat ini juga didukung oleh Kahn (1990) yang menganjurkan bahwa pemberian semangat daripihakmanajemen secara langsung akan menghasilkan peningkatan kenyamanan individu dalam berisiko. Dukungan ini memungkinkan individu untuk mencoba dan tidak takut akan konsekuensi kegagalan.Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat dua aspek yang menyusun variabel pengambilan risiko, yaitu aspek autonomy (otonomi) danencouragement(dorongan).Dewett (2006) menjelaskan bahwa terdapat dua aspek yang dapat mengukur pengambilan risiko, diantaranya adalah sebagai berikut.a.Autonomy (Otonomi)Otonomi mengacu pada pekerjaan yang memberikan individu kebebasan, kemerdekaan,dan kebijaksanaan dalam menentukan prosedur yang digunakan dalam menjalankan tugasnya (Hackman & Oldham, 1980). Individu membutuhkan kebebasan untuk memperluas jangkauan dimana kemungkinan solusi dari permasalahan dapat diciptakan (Abbey & Dickson, 1983; Shalley dkk., 2000). Otonomi memungkinkan kebebasan individu dari aturan kerja yang kaku dan kemampuan untuk mengembangkan diri jauh lebih baik. Kebebasan inilah yang akan mendorong individu untuk mengambil risiko.Individu dengan tingkat otonomi akan diberdayakan untuk berani mengambil keputusan dari peluang yang ada dan berinisiatif untuk berpartisipasi dalam tugasnya di organisasi. Pentingnya individu merasa diberdayakan adalah dirinya lebih mudah menawarkan pemikiran kreatif untuk kemajuan organisasi walaupun terkadang memiliki risiko. Individu perlu tahu bahwa idenya akan didengar dan dihormati sehingga hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri dan menumbuhkan kemampuan seseorang untuk mengambil risiko (Wong & Pang, 2003).Dalam perspektif psikologis, karyawan akan memandang otonomi sebagai peluang untuk memengaruhi pekerjaannya, yang membangun antusiasme dan komitmen dalam bekerja. Akibatnya, karyawan akan
rela mengambil lebih banyak risiko dibandingkan dengan rekan-rekan mereka dengan tingkat otonomi yang lebih rendah (Globocnik & Salomo, 2015). Otonomi juga akan meningkatkan tanggung jawab dan orientasi peran yang fleksibel yang akan mendorong karyawan untuk mencurahkan lebih banyak upaya untuk membawa perubahan ke tempat kerja meskipun perubahan tersebut memilki risiko yang cukup tinggi (Salanova & Schaufeli, 2008).b.Encouragement (Dorongan)Dorongan dan antusiasme untuk mengambil risiko di semua tingkatan organisasi cenderung akan mengalami pengulangan (Abbey & Dickson, 1983; Amabile, 1996). Dorongan yang diberikan akan menghasilkan kesediaan individu yang lebih tinggi untuk mengambil risiko. Pendapat ini juga didukung oleh Kahn (1990) yang menganjurkan bahwa pemberian semangat daripihakmanajemen secara langsung akan menghasilkan peningkatan kenyamanan individu dalam berisiko. Dukungan ini memungkinkan individu untuk mencoba dan tidak takut akan konsekuensi kegagalan.Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat dua aspek yang menyusun variabel pengambilan risiko, yaitu aspek autonomy (otonomi) danencouragement(dorongan).

Tidak ada komentar: