Kamis, 28 April 2022

Teori Structure-Conduct-Performance (skripsi dan tesis)

Teori SCP (Structure-Conduct-Performance) merupakan sebuah paradigma yang berkembangan dalam bidang ilmu ekonomi yang membahas mengenai hubungan antara struktur pasar, perilaku, dan kinerja dari sebuah industri maupun perusahaan.
 
Aspek structure, didefinisikan sebagai aspek konsentrasi pasar. Variabel konsentrasi pasar merupakan sebuah variabel yang mengukur tingkat pangsa pasar sebuah perusahaan. Selanjutnya aspek conduct yaitu bentuk perilaku perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Aspek perilaku ini dapat berupa persaingan (competitive) atau kerjasama (collusive), seperti misalnya dalam penetapan harga, iklan, produksi, dan predation. Selanjutnya aspek terakhir yaitu performance yang merupakan bentuk keuntungan yang diperoleh perusahaan (profitabilitas). Paradigma SCP (Structure-Conduct-Performance) dibangun berdasarkan didasarkan pada beberapa hipotesis yaitu: 1.Hipotesis bahwa struktur pasar sebuah perusahaan dalam industri dapat mempengaruhi perilaku perusahaan tersebut. Semakin rendah konsentrasi pasar, maka semakin tinggin tingkat persaiangan yang ada di pasar industri tersebut. 2.Hipotesis yang menyatakan bahwa perilaku perusahaan dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingginya persaingan atau kompetisi pada sebuah pasar, maka akan mengakibatkan rendahnya keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan tersebut akibat kekuatan pasar yang semakin rendah.3.Hipotesis ketiga yaitu struktur pasar dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa bentuk konsentrasi pasar yang semakin rendah maka akan mengakibatkan tingkat kolusi juga akan semakin menurun.
 
Berdasarkan pemaparan pada ketiga jenis hipotesis tersebut, dapat dipahami bahwa bentuk struktur pasar akan dapat mempengaruhi kineja perusahaan (termasuk perbankan syariah) yang berada pada dunia industri tertentu. Menurut sejarah, analisis SCP (Structure-Conduct-Performance) pertama kali dikembangkan oleh Bain pada tahun 1952 dengan menganalisis kondisi industri manufaktur di Amarika. Sering berjalannya waktu, analisis SCP (Structure-Conduct-Performance) juga digunakan untuk menganalisis kondisi struktur pasar pada industri perbankan syariah dengan tujuan untuk mengetahui dampak dari struktur pasar terhadap kinerja perbankan syariah. Kemudian berdasarkan kajian yang telah dilakukan di Amerika pada objek perbankan dengan melakukan merger pada tahun 60an menemukan bahwa adanya peningkatan kondisi konsentrasi pasar (market concentration) dapat meningkatkan keuntungan perbankan sebab hal tersebut mengindikasikan bahwa perbankan mampu menguasai pasar. Penelitian selanjutnya yang telah dilakukan oleh Caves (Sarita, 2006: 21) menemukan bahwa kondisi konsentrasi pasar yang pekat akan memberikan dampak yang buruk kepada pesaing baru untuk dapat memasuki industri tersebut. Selain itu, penelitian Caves (Sarita, 2006: 21) juga menjelaskan bahwa kondisi konsentrasi pasar yang tinggi akan dapat mempengaruhi perilaku perbankan untuk bertindak kolusi dengan melakukan kesepakatan dengan beberapa bank yang terlibat seperti kebijakan harga dan lain sebagainya. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan kinerjanya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hannan (Sarita, 2006: 22) dan Lucey (dalam Sarita, 2006: 22) juga menemukan hasil yang sama
 
 
bahwa stuktur pasar memiliki hubungan yang positif terhadap kinerja perusahaan dikarenakan perusahaan yang bersifat oligopoli dapat melakukan berbagai kebijakan penetapan harga sehingga perusahaan-perusahaan tersebut mempu mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. Berdasakan beberapa hasil penelitian tersebut, dapat dipahami bahwa teori SCP (Structure-Conduct-Performance) menggambarkan bahwa struktur pasar mampu mempengaruhi kinerja sebuah industri. Hal ini dikarenakan struktur pasar yang pekat mampu mempengaruhi perusahaan dalam berperilaku sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan tersebut. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa struktur pasar yang terkonsentrasi cenderung mengakibatkan perusahaan untuk berperilaku tidak sehat dalam meningkatkan profitnya. Burgess (Murty dan Deb, 2008: 40), menjelaskan bahwa untuk melakuka analisis pada perbakan, maka perlu berbagai variabel yang terkait langsung dengan perbankan yang menjadi objek penelitian. Hal ini dikarenakan, perbankan cenderung memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan lain yang berada pada industri yang lain. Burgess (Murty dan Deb, 2008: 40) memberikan kesimpulan bahwa variabel-variabel tersebut dapat berupa beberapa hal sebagai berikut: 1.Kondisi dasar, seperti sejarah, hukum/perundang-undangan, teknologi, serta elastisitas permintaan dan penawaran. 2.Struktur, meliputi variabel konsentrasi, skala ekonomi, hambatan masuk, dan diferensiasi produk.
 
 
3.Perilaku meliputi branch network, spread, NPA, Metro Branches, Staff, Diversification, Advertising, Financing, Merger, dan Pengeluaran Operasional. 4.Kinerja, meliputi ROA, ROE, stabilitas, profitabilitas per cabang, produktivitas per cabang, allocative efficiency, technical efficiency, dan X- efficiency. Menurut SCP (Structure-Conduct-Performance), pada industry perbankan semua variabel yang terkait merupakan variabel endogen dikarenakan variabel tersebut memiliki ketergantungan antara beberapa variabel seperti struktur pasar, perilaku dan kinerja dan efek umpan balik pada kondisi dasar dan kebijakan publik seperti dinyatakan oleh Scherer/Ross 1990, dan Schwalbach 1994 (Neuberger, 1997: 4). Berdasarkan hal tersebut, guna menggunakan paradigma SCP (Structure-Conduct-Performance) pada perbankan, maka aspek-aspek ketidaksempurnaan pasar seperti ketidakpastian, asimetris informasi, dan biaya transaksi yang tinggi, hasil dimasukkan pada kondisi dasarnya. Khusus pada aspek asimetris informasi dan biaya mengumpulkan informasi akan memiliki dampak langsung pada kegiatan bank, struktur dan kinerjanya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, SCP (Structure-Conduct-Performance) memaparkan bahwa konsentrasi pasar dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Berdasarkan hal tesebut, pada dasarnya terdapat tiga hipotesis yang menjelaskan hubungan antara konsentrasi pasar, pangsa pasar, dan kinerja perusahaan, yaitu: 1.Traditional hypothesisMerupakan hipotesis yang berpendapat bahwa konsentrasi pasar yang tinggi dapat mengakibatkan perusahaan dapat berperilaku kolusi sehingga
 
 
dapat mengakibatkan tingginya profit yang supernormal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi pasar berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan profitabilitas. 2.Differentiation hypothesisYaitu hipotesis yang menjelaskan bahwa pangsa pasar muncul sebagai akibat dari kegiatan difrensiasi produk yang dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan yang mampu menerapkan difrensiasi produk, selanjutnya akan dapat menetapkan harga yang lebih tinggi sehingga profit yang diperoleh juga akan meningkat. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pangsa pasar dapat berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan profitabilitas. 3.Efficient structure hypothesisMerupakan hipotesis yang berpendapat bahwa konsentrasi pasar dan pangsa pasar merupakan hasil dari kegiatan efisiensi perusahaan (hal ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi pasar tidak mengakibatkan kolusi). Hal ini dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang mampu menerapkan kebijakan efisiensi, bisa mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar sehingga kondisi pasar pada industri tersebut dapat lebih terkonsentrasi

Tidak ada komentar: