Sabtu, 18 Desember 2021

Manajemen Laba (skripsi dan tesis)


Manajemen laba adalah pilihan yang dilakukan oleh seorang
manajer atas kebijakan akuntansi atau tindakan nyata manajer yang
mempengaruhi laba untuk mencapai tujuan spesifik dari laba yang
dilaporkan (Scott, 2012). Manajemen laba menurut Schipper (1989)
dalam Dechow dan Skinner (2000) adalah suatu intervensi yang dilakukan
manajemen dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan yang
sengaja dilakukan dengan kepentingan pribadi. Menurut Healy dan
Wahlen (1999) manajemen laba terjadi ketika manajemen menggunakan
judgement dalam menyusun transaksi untuk merubah laporan keuangan,
dengan tujuan untuk menyesatkan pemangku kepentingan terkait dengan
kinerja ekonomi perusahaan dan atau untuk mempengaruhi hasil-hasil
kontrak yang tergantung pada praktik pelaporan akuntansi. Dari beberapa
definisi manajamen laba tersebut, terdapat kesamaan yang dapat
disimpulkan, yaitu usaha campur tangan manajemen untuk menaikkan
atau menurunkan laba untuk memperoleh keuntungan tertentu.
Manajemen laba merupakan aktivitas yang berawal dari adanya
konflik kepentingan antara pemilik (principal) dan manajemen (agent).
Pemilik berkepentingan untuk memperoleh laba yang stabil atau
meningkat dan return saham yang memuaskan, sedangkan manajemen
berkepentingan untuk memaksimalkan kontrak kompensasi atau bonus
yang diterima. Setiap pihak berkeinginan untuk mencapai
kepentingannya, hal tersebut yang mendorong terjadinya manajemen
untuk melakukan aktivitas manajemen laba. Selain itu, menurut Jensen
dan Meckling (1976) dalam teori agency manajemen sebagai pihak
pengelola perusahaan (agent) memiliki informasi terkait dengan internal
perusahaan yang lebih banyak dibanding dengan pemilik (principal).
Kondisi ini akan menyebabkan asimetri informasi antara manajemen
dengan pemilik yang berakibat pada praktik manajemen laba.
Aktivitas manajemen laba sering dihubungkan dengan perilaku
manajemen yang negatif karena manajemen laba menyebabkan informasi
yang terkandung dalam laporan keuangan khususnya informasi yang
menyangkut laba tidak mencerminkan keadaan sebenarnya. Informasi
yang menyangkut tentang laba padahal informasi yang dijadikan perhatian
utama oleh pemangku kepentingan karena informasi tersebut digunakan
untuk menilai kinerja dan membuat keputusan. Meskipun tindakan
manajemen laba tidak melanggar prinsip-prinsip akuntansi yang diterima
umum, namun dampaknya dapat mengikis kepercayaan masyarakat
terhadap laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan.
Pola manajemen laba menurut Scott (2012) yaitu adalah:
a. Taking a bath
Disebut juga big baths, bisa terjadi selama periode dimana terjadi
tekanan dalam organisasi atau terjadi reorganisasi, misalnya
pergantian direksi. Jika pola ini dilakukan maka biaya-biaya yang ada
pada periode yang akan datang diakui pada periode berjalan.
Akibatnya, laba di masa yang akan datang akan lebih tinggi meskipun
kondisi yang tidak menguntungkan akan terjadi.
b. Income minimization
Pola meminimalkan laba dilakukan karena motif politik atau motif
meminimalkan pajak. Cara ini dilakukan saat perusahaan memperoleh
laba yang tinggi dengan tujuan agar tidak mendapat perhatian secara
politis. Kebijakan yang dapat diambil perusahaan yaitu dapat berupa
penghapusan atas barang-barang modal dan aktiva tak berwujud,
pembebanan pengeluaran iklan, riset dan pengembangan yang cepat.
c. Income maximization
Pola memaksimalkan laba bertujuan untuk memperoleh bonus yang
maksimal. Tindakan memaksimalkan laba juga bisa dilakukan untuk
menghindari pelanggaran atas kontrak hutang jangka panjang (debt
covenant).
d. Income smooth
Pola ini dilakukan karena perusahaan umumnya lebih memilih
pertumbuhan laba yang stabil daripada menunjukkan pertumbuhan
laba yang meningkat atau menurun secara drastis.
Dua motivasi utama para manajer melakukan manajemen laba,
yaitu tujuan oportunis dan informasi (signaling) kepada investor. Tujuan
oportunis mungkin dapat merugikan pemakai laporan keuangan karena
informasi yang disampaikan manajemen menjadi tidak akurat dan juga
tidak menggambarkan nilai fundamental perusahaan. Sikap oportunis ini
dinilai sebagai sikap curang manajemen perusahaan yang diimplikasikan
dalam laporan keuangannya pada saat menghadapi intertemporal choice
(kondisi yang memaksa eksekutif tersebut menggunakan keputusan
tertentu dalam melaporkan kinerja yang menguntungkan bagi dirinya
sendiri ketika menghadapi situasi tertentu). Sikap curang tersebut
didefinisikan sebagai satu atau lebih tindakan yang disengaja dan didesain
untuk menipu orang lain sehingga menyebabkan hilangnya kekayaan
(Scott, 2012).
Tujuan informatif (signaling) kemungkinan besar membawa
dampak yang baik bagi pemakai laporan keuangan. Manajer berusaha
menginformasikan kesempatan yang dapat diraih oleh perusahaan di masa
yang akan datang. Sebagai contoh, karena manajer sangat erat kaitannya
dengan keputusan yang berhubungan dengan aktivitas investasi maupun
operasi perusahaan, otomatis para manajer memiliki informasi yang lebih
baik mengenai prospek perusahaan masa datang. Oleh karena itu, manajer
dapat mengestimasi secara baik laba masa datang dan diinformasikan
kepada investor atau pemakai laporan keuangan lainya. Manajer dapat
menggunakan diskresi akrual untuk merefleksikan kinerja perusahaan
tersebut melalui laporan laba (Scott, 2012).

Tidak ada komentar: