Selasa, 26 Oktober 2021

Loyalitas Merek (Brand Loyalty) (skripsi dan tesis)


Loyalitas merek memiliki hubungan antara konsumen dengan merek, yang
dimana ukuran tersebut digunakan untuk memberikan sebuah gambaran bagaimana
seorang kosumen pindah ke merek yang berbeda. Loyalitas merek menunjukkan
sebauh relasi antara konsumen dengan merek yang dipilihnya harus diperhatikan
dengan adanya pembelian kedua dan seterusnya yang dilakukan oleh konsumen.
Menurut Mowen dalam Sengkey (2015), loyalitas berdasarkan pada
perilaku pembelian yang terjadi pada suatu produk yang dihubungkan dengan
adanya peningkatan jumlah pembelian. Konsep Loyalitas Merek dalam karya
(Jacoby and Kyner, dalam Odin et al. 2001) menjelaskan tentang proses bagaimana
konsumen memutuskan dan mengajukan usulan enam poin yaitu non-random,
Perilaku respon, Menyatakan dari waktu ke waktu, Unit pengambilan keputusan,
terkait dengan satu atau lebih merek alternatif dari satu merek dan Fungsi dari
proses psikologis.
Menurut Aaker (1997) loyalitas merek adalah suatu ukuran hubungan
seorang konsumen terhadap sebuah merek. Ada beberapa pangkat atau lapisan
dalam loyalitas merek :
a. Switches, pembeli tidak memiliki loyalitas, tidak minat pada
merek perusahaan, berpindah-pindah, serta tidak lalai dalam
memperhatikan perubahan terhadap harga.
b. Habitual buyer, pembeli yang kepuasan terhadap produk, atau
bersifat berulang, sehingga tidak mempunyai alasan untuk
berpindah. Setidaknya tidak terjadi ketidakpuasan.
c. Satiesfied buyer, pembeli yang merasa terpuaskan, namun mereka
menanggung biaya peralihan (switching cost), biaya dalam
waktu, uang, atau risiko kinerja berkaitan dengan tindakan
perpindahan merek.
d. Likes the brand, pembeli yang benar – benar menyukai merek,
memandang merek sebagai sahabat.
e. Committed buyer, konsumen yang loyal, mempunyai perasaan
bangga dalam menjadi bagian dalam suatu merek.

Tidak ada komentar: