Ada beberapa tokoh yang mempengaruhi seorang karyawan
meninggalkan pekerjaannya.
a. Usia dan Generasi
Yussoff, Quelri, Zakaria, dan Hisham (2013) mengemukakan bahwa
pekerja muda memiliki tingkat turnover yang lebih tinggi dibandikan
karyawan yang lebih tua. Penelitian-penelitian terdahulu juga menunjukkan
adanya hubungan yang signifikan antara usia dan intensi turnover. Beberapa
ahli mempercayai bahwa generasi Y memiliki kecenderungan yang cukup
unik yaitu memiliki keinginan untuk berpindah kerja yang cukup intensif. Para
ahli mencoba menjelaskan terkait hal tersebut. Generasi Y dirasa memiliki
kecenderungan untuk mencoba segala hal yang baru. Mereka memiliki mental
sebagai petualang dan merasa masih muda sehingga mengambil dan mencoba
segala kesempatan yang ada.
b. Lama Kerja
Dalam berbagai hasil penelitian juga diungkapkan bahwa lama kerja
memiliki korelasi yang negatif terhadap keinginan karyawan untuk keluar dari
pekerjaannya. Waktu yang terbuang bersama perusahaan tentu membuat
karyawan menjadi paham terhadap kinerja perusahaan. Semakin lama
karyawan bekerja tentu pengenalan terhadap perusahaan menjadi lebih baik
lagi. Selain itu penelitian-penelitian juga mengungkapkan bahwa turnover
lebih banyak terjadi pada karyawan dengan masa kerja yang lebih singkat
(Yussoff, Quelri, Zakaria, dan Hisham, 2013).
c. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan rupanya juga memiliki keterkaitan terhadap keinginan
karyawan untuk keluar dari pekerjaannya. Hal ini terkait dengan tingkat
intelegensi seseorang terhadap turnover. Tingkat pendidikan yang sesuai
dengan pekerjaan yang digeluti akan membuat karyawan lebih bertahan
dibandingkan dengan mereka yang memiliki pekerjaan dan pendidikan yang
berbeda (Almalki, Fitzgerald, dan Clark, 2012).
d. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja juga merupakan alasan seorang karyawan tetap bertahan
pada perusahaan. Hal ini terbukti dalam beberapa penelitian seperti penelitian
milik Pawesti dan Wikansari (2016) yang menunjukkan kepuasan kerja
mengambil peranan penting dalam keputusan seseorang dalam bertahan pada
pekerjaannya. Pada penelitian ini kepuasan kerja terkait dengan segala
benefit yang didapat oleh karyawan pada perusahaan. Ketika karyawan
merasa puas dengan apa yang didapatkan dari perusahaan tentu solusi untuk
keluar dari pekerjaan sangatlah jauh dari keputusannya.
e. Budaya Perusahaan
Budaya dalam perusahaan juga dianggap memiliki andil dalam membuat
karyawan jauh dari pemikiran untuk keluar dari perusahaan. Penelitian yang
dilakukan oleh Smirnova (2015) mengungkapkan adanya pengaruh budaya
organisasi terhadap keinginan karyawan untuk melakukan turnover. Hasil
menunjukkan adanya pengaruh yang bersifat negatif. Dari hasil penelitian
juga ditunjukkan adanya kaitan kepuasan kerja yang disebabkan budaya
perusahaan yang dinilai buruk sehingga memicu karyawan untuk keluar dari
perusahaannya.
f. Ketidakamanan Kerja (Job Insecurity)
Beberapa penelitian seperti penelitian yang dilakukan oleh Laine et al.
(2009) mengungkapkan bahwa job insecurity juga menjadi salah satu penentu
sesorang meninggalkan pekerjaannya. Kekhawatiran ini dapat timbul dari
berbagai macam penyebab seperti kekhawatiran yang ditimbulkan tentang
masa depannya di perusahaan, kekhawatiran terkait dengan peluang karir,
kekhawatiran terkait dengan lingkungan kerja, dan lain-lain. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa job insecurity memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap turnover intention yang bersifat positif. Jadi semakin tinggi job
insecurity seseorang, maka akan diikuti dengan turnover intention yang
tinggi juga
g. Work engagement
Work engagement juga disebut sebagai faktor yang mempengaruhi
terhadap tingkat turnover intention seorang karyawan. Hasil ini terbukti dari
hasil penelitian Geldenhuys (2014) yang mengungkapkan bahwa variabel
work engagement merupakan predictor karyawan untuk tetap bertahan pada
perusahaannya. Mereka yang memiliki loyalitas tinggi, komitmen tinggi, dan
dapat memaknai pekerjaan dengan baik biasanya diikuti dengan work
engagement yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar