Karyawan merupakan salah satu asset penting bagi suatu perusahaan. Salah
satu alasannya adalah karyawan dapat membantu perusahaan untuk mencapai
keunggulan kompetitif sebab karyawan tidak dapat diduplikasi atau ditiru oleh
kompetitor. Untuk itu, perusahaan harus dapat mempertahankan karyawannya
salah satunya dengan membangun hubungan agar timbul keterlibatan pada
karyawan. Menurut Baumruk (2004), “employee engagement is considered to be
the most powerful factor to measure a company’s vigour”. Selain itu, terdapat
pendapat lain menurut Hewitt Associates LLC dalam J. Anita (2013) employee
engagement didefinisikan sebagai “the state in which individuals are emotionally
and intellectually committed to the organisation or group, as measured by three
primary behaviours: Say, stay, strive”. Berikut ketiga perilaku umum dari
engaged employee.
1) Say (Berbicara), karyawan merekomendasikan perusahaan tempatnya
bekerja kepada orang lain dan karyawan berbicara positif mengenai
perusahaan tempat ia bekerja.
2) Stay (Bertahan), karyawan memiliki komitmen dan loyal pada perusahaan
meskipun memiliki kesempatan untuk bekerja di perusahaan lain dan
berkeinginan untuk menjadi bagian dari organisasi.
3) Strive (Bekerja keras), karyawan dapat mengerjakan pekerjaan melebihi apa
yang diperintahkan oleh perusahaan untuk berkontribusi pada kesuksesan
perusahaan dan menggunakan waktu, usaha, juga inisiatif yang lebih untuk
berkontribusi penuh pada perusahaan.
Pada awalnya konsep employee engagement ditemukan oleh Kahn pada 1990
dalam jurnal “Psychological conditions of personal engagement and
disengagement at work” yang mengungkapkan bahwa “the harnessing of
organization members’ selves to their work roles; in engagement, people employ
and express themselves physically, cognitively, and emotionally during role
performances” (J, Anita: 2013). Penelitian lainnya dilakukan oleh (Schaufeli et al,
2002) yang mendefinisikan employee engagement as a positive, fulfilling, workrelated state of mind that is characterized by vigor, dedication, and absorption.
Schaufeli&Bakker (2004) menyimpulkan terdapat tiga dimensi employee
engagement, diantaranya vigor, dedication, dan absorption.
1) Vigor
Vigor dinilai oleh enam hal yang menunjukkan tingginya energi dan ketahanan,
kerelaan untuk berusaha, tidak mudah lelah, dan ketekunan dalam menghadapi
kesulitan. Mereka yang memiliki nilai tinggi pada vigor biasanya memiliki
banyak energi, semangat dan stamina saat bekerja.
2) Dedication
Dedication dinilai oleh lima hal yang mengacu pada pentingnya pekerjaan
seseorang, merasa antusias dan bangga dengan pekerjaannya, dan merasa
terinspirasi dan tertantang oleh pekerjaannya. Mereka yang berprestasi tinggi
dalam dedikasi, mengidentifikasikan dirinya dengan pekerjaannya karena hal itu
dialami dan dianggap sebagai sesuatu yang bermakna, inspiratif, dan menantang.
Selain itu, mereka biasanya merasa antusias dan bangga dengan pekerjaan
mereka. Mereka yang memiliki nilai rendah, tidak mengidentifikasi dirinya
dengan pekerjaannya karena mereka tidak mengalaminya dan menjadi bermakna,
tidak terinspirasi, atau menantang, tidak antusias atau bangga dengan pekerjaan
mereka.
3) Absorption
Absorption diukur dengan enam hal yang mengacu pada totalitas, karyawan
“tenggelam” dalam pekerjaan dan mengalami kesulitan memisahkan diri dari
pekerjaan sehingga waktu berlalu dengan cepat dan seseorang melupakan hal lain
yang ada di sekitarnya. Mereka yang memiliki nilai tinggi pada absorption
biasanya senang dengan pekerjaan mereka, mereka merasa “tenggelam” oleh
pekerjaan dan memiliki kesulitan untuk melepaskannya. Sebagai konsekuensinya,
segala sesuatu lainnya yang ada di sekitar dilupakan dan waktu tidak terasa
berjalan dengan cepat. Mereka yang memiliki nilai absorption rendah tidak
merasa senang atau “tenggelam” dalam pekerjaan mereka, mereka tidak memiliki
kesulitan untuk melepaskan diri darinya, juga tidak melupakan segala sesuatu di
sekitar mereka, termasuk waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar