Menurut Bakker (2008), terdapat empat dampak employee engagement pada
engaged employee diantaranya experience positive emotions, experience better
health, ability to mobilize resources, dan crossover of engagement.
1. Positive Emotions
Penelitian yang dilakukan oleh Schaufeli&Van Rhenen (dalam Bakker, 2008)
menunjukkan bahwa engaged employee seringkali memiliki pengalaman positive
emotion dan berdampak pada produktivitas mereka.
2. Better Health
Penelitian menunjukkan bahwa engagement berhubungan positif dengan
kesehatan dan ini menyiratkan bahwa engaged employee lebih mampu berkinerja
baik. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Schaufeli dan Bakker
(2004) yang ditemukan dalam penelitian mereka di antara empat organisasi
layanan Belanda (Dutch service organizations) yang berbeda dimana karyawan
yang memiliki tingkat engagement yang rendah dilaporkan seringkali mengalami
sakit kepala, masalah kardiovaskular, dan stomache aches. Selain itu penelitian
lainnya yang dilakukan Hakanen et.al (2006) memberikan hasil yang sama dalam
penelitian mereka bahwa di antara guru-guru Finlandia menunjukkan bahwa
keterlibatan kerja berhubungan positif dengan kesehatan dan kemampuan kerja
mandiri. Namun terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa
kesehatan dengan engagement tidak terdapat pengaruh salah satunya seperti
penelitian yang dilakukan oleh Shirom (2003) dimana hasil penelitiannya adalah
bahwa hal tersebut tidak berhubungan dengan kesehatan mental dan fisik. Setelah
mengetahui hasil dari beberapa penelitian mengenai hal ini, yang membedakan
hasilnya adalah kriteria responden yang berbeda sehingga hasil penelitianpenelitian tersebut berbeda.
3. Ability to Mobilize Resources
Menurut Bakker (2008), Salah satu alasan penting mengapa engagament dapat
membuat karyawan lebih produktif yaitu adanya kemampuan karyawan
memobilisasi sumber daya mereka sendiri. Begitu juga yang dinyatakan Schaufeli
et al. (2008) penelitiannya menunjukkan bahwa engagement merupakan prediksi
peningkatan job resources tahun selanjutnya, termasuk dukungan sosial, otonomi,
kesempatan belajar, dan performance feedback. Hal ini menunjukkan bahwa jika
dibandingkan dengan not employee engagement atau disengaged employee,
engaged employee lebih mampu memobilisasi pekerjaan mereka sendiri dan
sumber daya pribadi yang pada akhirnya memicu engagement.
4. Crossover of Engagement
Di sebagian besar perusahaan, kinerja adalah hasil dari usaha gabungan
individu para karyawan. Oleh karena itu dapat dibayangkan bahwa crossover of
engagement di antara anggota tim kerja dapat meningkatkan kinerja. Westman
(2001) mengatakan bahwa “Crossover or emotional contagion can be defined as
the transfer of positive (or negative) experiences from one person to the other”.
Jika satu karyawan dapat mempengaruhi rekan kerjanya dalam hal engagement,
maka kinerja karyawan di perusahaan tersebut akan meningkat.
Jumat, 08 Oktober 2021
Dampak Employee Engagement (skripsi dan tesis)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar