Jumat, 08 Oktober 2021
Dampak Turnover (skripsi dan tesis)
Beberapa peneliti berpendapat bahwa intensi meninggalkan pekerjaan telah
mendapat dukungan empiris dan teoritis sebagai predictor penting terhadap pindah
ataupun keluarnya (turnover) karyawan (Kraut, 1975; Stell & Ovalle, 1984; Mobley,
Horner & Hollongsworth, 1987; Preshold, Lanc & Mathew, 1987; Tett & Mayer, 1993).
Intensi meninggalkan pekerjaan biasanya selalu diikuti dengan pindah ataupun keluarnya
karyawan (Hom, Griieth & Sellaro, 1984; Steel & Ovale, 1984).
Turnover telah lama menjadi area penelitian penting dari beberapa disiplin ilmu
seperti psikologi, sosiologi, ekonomi dan perilaku organisasi (William and Hazer, 1986).
Biasanya turnover dipandang sebagai suatu masalah di dalam organisasi, namun
pandangan ini tidak selamanya berlaku.
Psikologi industri dan organisasi membagi dua jenis turnover yaitu functional
turnover dan dysfunctional turnover. Dimana functional turnover dapat menguntungkan perusahaan-perusahaan dan dapat pula merugikan perusahaan. Dalam functional
turnover, organisasi mempunyai kesempatan untuk mengganti performa jelek yang
ditinggalkan menjadi performa yang baik. Dysfunctional turnover berharga bagi
organisasi karena ditinggalkannya performa yang baik. Dalam analisa penelitian Mc
Evloy dan Cascio (1987) menemukan hubungan yang negatif diantara turnover dan
performa. Ini disebabkan karena lebih banyak turnover pada performa yang jelek. Salah
satu faktor yang mendorong keputusan meninggalkan pekerjaan adalah tersediannya
pekerjaan yang lain.
Menurut Muchinsky dan Morrow (1980), seorang lebih mungkin untuk
meninggalkan pekerjaan pada saat banyak pekerjaan lain tersedia dari pada saat pekerjaan
sulit diperoleh. Sebuah penelitian meta analisis mengenai kepuasan dan turnover
mendukung pendapat ini. Ketidakpuasan lebih terprediksi pada turnover saat penuh
lowongan pekerjaan (Carsten & spector, 1987). Gerhart (1990) selanjutnya menjelaskan
bahwa seorang dapat memandang banyak pekerjaan diluar dan memutuskan untuk
mencari pekerjaan lain, tetapi bila alternative terbatas, kenyataan ini mencegah orang
untuk meninggalkan pekerjaan.
Tingkat performance dapat memberi gambaran tentang keputusan untuk
meninggalkan atau tetap dalam pekerjaan walaupun belum jelas secara pasti. Spector dan
Steers (1981) berpendapat bahwa performance dapat berinteraksi dengan keputusan di
dalam menentukan turnover. Mereka menemukan bahwa turnover bukan hanya
disebabkan oleh performa yang jelek, namun performa yang jelek pada orang tidak puas
lebih mungkin untuk meninggalkan pekerjaan. McEvoy dan Cascio (1987) berpendapat
bahwa secara umum hampir sama baik pada pekerja yang baik maupun pekerja yang
jelek, tetapi efeknya tidak berhubungan. Mereka menyimpulkan bahaya pekerja yang baik
lebih banyak meninggalkan pekerjaan dari biasanya pada saat pasar kerja berkembang,
sedangkan pekerja yang jelek meninggalkan pekerjaannya walaupun pada saat pasar kerja
jelek.
Dari penjelasan diatas menunjukkan ada beberapa variabel penting dalam
menentukan niat meninggalkan pekerjaan yang dilanjutkan dengan turnover yaitu:
tingkat untuk kerja, pekerja secara umum dan sikap kerja seperti kepuasan dan stess
kerja. Semua variabel ini menunjukkan hubungan yang kompleks. Secara umum lebih
banyak pekerja yang jelek dan pekerja yang tidak puas serta tidak mempunyai
komitmen meninggalkan pekerjaannya. Namun hal ini tidak berlaku pada semua orang. Pekerja yang tidak puas cenderung meninggalkan pada saat pekerjaan penuh,
dimana pekerja yang jelek mungkin saja meninggalkan pekerjaannya pada saat
pengangguran tinggi. Tingkat performa dan kepuasan kerja tampak menjadi dua alasan
yang independent mengapa orang meninggalkan pekerjaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar