Aaker (1997: 56), mendefinisikan bahwa brand loyalty adalah sebuah
ukuran ketertarikan konsumen terhadap suatu merek. Menurut Rangkuti
(2002: 60), loyalitas merek adalah satu ukuran kesetiaan konsumen
terhadap suatu merek.
Simamora (2001: 70), menyatakan bahwa loyalitas merek adalah
ukuran kedekatan konsumen pada sebuah merek. Sedangkan menurut
Durianto, dkk (2004: 126), loyalitas merek merupakan suatu ukuran
keterkaitan seorang konsumen kepada sebuah merek.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa loyalitas merek
merupakan ukuran kesetiaan, kedekatan atau keterkaitan konsumen pada
Persepsi Kualitas
Alasan untuk membeli
Diferensiasi/posisi
Harga optimum
Minat saluran distribusi
Perluasan merek
sebuah merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang
mungkin tidaknya seorang konsumen beralih ke merek produk yang lain,
terutama jika pada merek tersebut dihadapi adanya perubahan, baik
menyangkut harga maupun atribut lainnya.
Dalam kaitannya dengan loyalitas merek suatu produk, didapati
adanya beberapa tingkatan loyalitas merek. Masing-masing tingkatannya
menunjukkan tantangan pemasaran yang harus dihadapi sekaligus aset
yang dapat dimanfaatkan. Adapun tingkatan loyalitas merek tersebut
menurut Durianto, dkk (2004: 19), seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 4 adalah sebagai berikut:
1) Switcher (Berpindah-pindah)
Adalah tingkatan loyalitas paling dasar. Semakin sering
pembelian konsumen berpindah dari suatu merek ke merek
yang lain mengindikasikan bahwa mereka tidak loyal, semua
merek dianggap memadai. Dalam hal ini merek memegang
peranan kecil dalam keputusan pembelian. Ciri yang paling
tampak dari jenis konsumen ini adalah mereka membeli suatu
produk karena harganya murah dan banyak konsumen lain
yang membeli merek tersebut.
2) Habitual Buyer (Pembeli yang Bersifat Kebiasaan)
Adalah pembeli yang tidak mengalami ketidakpuasan dalam
mengonsumsi suatu merek produk. Tidak ada alasan yang kuat
baginya untuk membeli merek produk lain atau berpindah
merek, terutama jika peralihan itu membutuhkan usaha, biaya,
atau pengorbanan lain. Jadi, pembeli ini dalam membeli suatu
merek karena alasan kebiasaan.
3) Satisfied Buyer (Pembeli yang Puas dengan Biaya Peralihan)
Adalah kategori pembeli yang puas dengan merek yang
dikonsumsi. Namun pembeli ini dapat saja berpindah merek
dengan menanggung biaya peralihan (switching cost), seperti
waktu, biaya, atau resiko yang timbul akibat tindakan peralihan
merek tersebut. Untuk menarik minat pembeli kategori ini,
pesaing perlu mengatasi biaya peralihan yang harus
ditanggung pembeli dengan menawarkan berbagai manfaat
sebagai kompensasi.
4) Likes the Brand (Menyukai Merek)
Adalah kategori pembeli yang sungguh-sungguh menyukai
merek tersebut. Rasa asosiasi yang berkaitan dengan simbol,
rangkaian pengalaman menggunakan merek itu sebelumnya,
atau persepsi kualitas yang tinggi. Dan mereka menganggap
merek sebagai sahabat.
5) Committed Buyer (Pembeli yang Berkomitmen)
Adalah kategori pembeli yang setia. Pembeli ini mempunyai
kebanggaan dalam menggunakan suatu merek. Merek tersebut
bahkan menjadi sangat penting baik dari segi fungsi maupun
sebagai ekspresi siapa sebenarnya penggunanya. Ciri yang
tampak pada kategori ini adalah tindakan pembeli untuk
merekomendasikan/mempromosikan merek yang
digunakannya kepada orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar