Kepuasan kerja merupakan bentuk perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya, situasi kerja dan hubungan dengan rekan kerja. Kepuasan kerja
merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki oleh seorang karyawan, dimana
karyawan dapat berinteraksi dengan lingkungan kerjanya sehingga pekerjaan
dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan tujuan perusahaan. Spector
(1997) menjelaskan bahwa kepuasan kerja (job satisfaction) mengarah pada
bagaimana seseorang merasakan pekerjaannya dan aspek – aspek yang berbeda
dari pekerjaannya, dengan kata lain kepuasan kerja merupakan perkembangan dari
sekedar perasaan suka (puas) atau tidak suka (tidak puas) pada pekerjaannya.
Sementara itu, menurut Handoko (2000) kepuasan kerja adalah keadaan
emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, bagaimana para
karyawan memandang pekerjaannya. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan
seseorang terhadap pekerjaannya. Sama halnya dengan As’ad (2002) yang
mendefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaan seseorang terhadap pekerjaanya.
Kreitner and Kinicki (2003) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai efektivitas
atau respon emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan. Menurut Mathis and
Jackson (2001), kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang positif dari
mengevaluasi pengalaman kerja seseorang. Kepuasan kerja memiliki banyak
aspek secara umum, tahap yang diamati adalah kepuasan dalam pekerjaan itu
sendiri, gaji, pengakuan, hubungan antara supervisor dengan tenaga kerja, dan
kesempatan untuk maju.
Teori-teori kepuasan kerja menurut Wexley dan Yukl (1997) ada tiga
macam, yaitu :
a. Discrepancy theory
Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih
antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan. Jadi kepuasan
atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh karyawan merupakan hasil dari
perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap
berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi
harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh karyawan tersebut bila perbedaan
atau kesenjangan antara standar pribadinya dengan apa yang diperoleh dari
pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh karyawan bila
perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadinya dengan apa yang
diperoleh dari pekerjaan besar.
b. Equity theory
Prinsip dari teori ini adalah bahwa orang akan merasakan adanya keadilan
(equity) atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity dan inequity atas suatu
situasi. Ada tiga elemen dari teori equity yaitu :
1. Input adalah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai
sumbangan terhadap pekerjaan. Selain itu input dapat juga diartikan sebagai
faktor bernilai bagi karyawan yang dianggap mendukung pekerjaannya
seperti pendidikan, pangalaman, kecakapan, jumlah tugas dan peralatan atau
perlengkapan yang digunakan untuk melakukan pekerjaannya.
2. Outcomes adalah sesuatu yang dianggap bernilai oleh seorang karyawan
yang diperoleh dari pekerjaannya seperti upah/gaji, keuntungan sampingan,
simbol, status, pengahargaan dan kesempatan untuk berhasil atau aktualisasi
diri.
3. Comparison person adalah perbandingan yang dilakukan oleh karyawan
terhadap rasio input-out comes yang dimiliknya dengan yang dimiliki oleh
karyawan lain. Jadi menurut teori ini, setiap karyawan akan
membandingkan rasio input hasil orang lain. Bila perbandingan itu dianggap
cukup adil, maka karyawan akan merasa puas. Bila perbandingan itu tidak
seimbang tetapi menguntungkan bisa menimbulkan kepuasan, tetapi bisa
pula tidak. Tetapi bila perbandingan itu tidak seimbang akan timbul
ketidakpuasan.
c. Two factor theory
Menurut Herzberg (dalam Munandar, 2001) teori kepuasan kerja yang
dinamakan teori dua faktor terdiri dari faktor hygiene dan faktor motivator.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang
mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam
diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau
pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti
bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam
kehidupan seseorang. Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor
motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih,
kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain.
Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain
status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan
atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik
penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem
administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan kepuasan kerja adalah perasaan puas yang timbul akibat tercapainya suatu
tujuan atau terpenuhinya harapan – harapan dalam melakukan pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar