Jumat, 24 September 2021

Kinerja Kreatif Anggota (skripsi dan tesis)

Menurut kamus psikologi, kreatif adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni atau bidang lainnya, atau dalam memecahkan masalahmasalah dengan metode baru. Kreatif berkenaan dengan penggunaan atau upaya memfungsikan kemampuan mental produktif dalam menyelesaikan/memecahkan masalah-masalah atau upaya pengembangan bentuk-bentuk artistik dan mekanis, dengan maksud agar mampu menggunakan informasi yang tidak berasal dari pengalaman langsung atau proses belajar secara langsung, akan tetapi berasal dari perluasan konseptual dari sumber-sumber informasi tadi.. Dari segi sifat, para individu yang kreatif secara umum bersifat merangsang diri sendiri, bebas, sensitif, berorientasi kepada sasaran, dan mampu mengarahkan upaya mereka sendiri. Mereka juga lebih terbuka dan fleksibel secara emosional dibandingkan dengan orang-orang yang kurang kreatif (Wirawan, 2013). Perilaku Kinerja Kreatif, didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang dapat diamati dan tidak dapat diamati, saling tergantung yang terjadi dalam menanggapi tugas non-algoritmik, merupakan produk kreatif, yang didefinisikan sebagai ide-ide, prototipe yang relevan dan dapat dinilai oleh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menjadi sesuatu yang baru dan berguna. Menurut Amabile et al, kreativitas karyawan atau anggota organisasi merupakan produk ide-ide, produk atau prosedur yang ; baru/orisinil dan secara potensial bermanfaat bagi organisasi (Wirawan, 2013). 18 Penelitian mengenai kepemimpinan diasumsikan memiliki pengaruh terhadap peningkatan kreatifitas anggota. Wirawan berpendapat pula bahwa kepemimpinan memerlukan pemimpin dan pengikut yang kreatif dan inovatif. Pemimpin juga harus mengembangkan budaya kreativitas dan inovasi dalam organisasinya. Budaya kreativitas akan mendorong semua pengikutnya untuk kreatif dan inovatif; mendorong mereka untuk lebih produktif (Wirawan, 2013). Herman menyatakan bahwa teori kepemimpinan lebih berperan dalam membangun suatu lingkungan atau menghasilkan kreatifitas anggotanya. Para pemimpin mendukung dan menstimulus para pengikutnya untuk mengembangkan ide-ide baru dan bila terjadi kegagalan, mereka tidak akan menyalahkan (Herman, 2014). Melalui peranannya, para leader/pemimpin diharapkan mampu mengkomunikasikan visi yang menarik bagi anggotanya serta meningkatkan motivasi yang dapat menggerakkan anggota untuk meraih visi organisasi tersebut. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan sangat mempengaruhi Kinerja Kreatif para anggota dan memiliki karakteristik yang lebih umum, interpersonal dan lintas situasi. Gupta menuliskan, prilaku Kinerja Kreatif didefinisikan sebagai sebuah rangkaian kegiatan yang dapat diamati dan tidak dapat diamati, saling berkaitan dalam menanggapi tugas non algoritmik, sebagai produk atau hasil kreatif, didefinisikan pula sebagai ide-ide, prototype, dan produk baru dan berdaya guna (Gupta, 2014). Wirawan menjelaskan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru, menemukan cara baru untuk memahami problem 19 yang dihadapi dan memahami adanya peluang dan memproduksi barang dan jasa baru untuk menyelesaikan problem (Wirawan, 2013). Seorang pemimpin mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis problem yang dihadapi oleh organisasi atau sistem sosial. Janssen et al (Gupta, 2014) membuat klasifikasi Kinerja Kreatif secara luas ke dalam prilaku problem identification, information search, idea generation, dan idea promotion. Prilaku mengidentifikasikan masalah, pencarian informasi, melahirkan ide, dan mempromosikan ide berujung atau memuncak pada lahirnya ide inovasi untuk menghadapi sebuah masalah. Prilaku kreatif didukung pula oleh faktor-faktor lain seperti sumbersumber pekerjaan dan non pekerjaan yang membantu membentuk suasana hati yang mencukupi untuk pelaksanaan pekerjaan mereka. Selain itu tantangantantangan pekerjaan, diberikannya kepercayaan dengan level otonomi yang lebih tinggi dan kontrol atas pekerjaan mereka, dan evaluasi ide-ide atas pekerjaan mereka. Imbalan dan bonus yang esensial dan lingkungan kerja yang kreatif juga menjadi dukungan bagi lahirnya inovasi baru sebagai hasil Kinerja Kreatif (Wirawan, 2013). Menurut Woodman, et al (Gupta, 2014), kreativitas dapat dipahami sebagai hasil/produk dari individu dan lingkungannya. Selain menunjukkan perilaku kreatif dalam pengawasan/kontrol karyawan, ada sejumlah faktor lingkungan luar lain di luar kendali karyawan (misalnya kerja sama tim, sumber daya yang tersedia untuk mengimplementasikan ide-ide yang dihasilkan, tren 20 ekonomi, permintaan pasar) yang dapat membantu mendorong efektivitas hasil (Aisha Zubair, 2015). Amabile, dkk menyatakan, banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa kreativitas karyawan memainkan peranan penting di dalam meningkatkan kemajuan organisasi, inovasi, efektivitas, dan daya tahan di pasar yang kompetitif (Aisha Zubair, 2015). Janssen, dkk (Aisha Zubair, 2015) menyatakan pula bahwa Perilaku Kinerja Kreatif dapat secara luas diklasifikasikan ke dalam identifikasi masalah (problem identification), pencarian informasi (information search), generasi ide (idea generation) dan perilaku promosi ide (idea promotion). Menurut Reiter-Palmon dan Illies (Gupta, 2014), identifikasi masalah, pencarian informasi dan gagasan generasi perilaku berakhir dengan lahirnya ideide inovatif untuk mengatasi masalah.

Tidak ada komentar: