Menurut kamus psikologi, kreatif adalah kemampuan menghasilkan
bentuk baru dalam seni atau bidang lainnya, atau dalam memecahkan masalahmasalah dengan metode baru. Kreatif berkenaan dengan penggunaan atau upaya
memfungsikan kemampuan mental produktif dalam menyelesaikan/memecahkan
masalah-masalah atau upaya pengembangan bentuk-bentuk artistik dan mekanis,
dengan maksud agar mampu menggunakan informasi yang tidak berasal dari
pengalaman langsung atau proses belajar secara langsung, akan tetapi berasal dari
perluasan konseptual dari sumber-sumber informasi tadi..
Dari segi sifat, para individu yang kreatif secara umum bersifat
merangsang diri sendiri, bebas, sensitif, berorientasi kepada sasaran, dan mampu
mengarahkan upaya mereka sendiri. Mereka juga lebih terbuka dan fleksibel
secara emosional dibandingkan dengan orang-orang yang kurang kreatif
(Wirawan, 2013).
Perilaku Kinerja Kreatif, didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang
dapat diamati dan tidak dapat diamati, saling tergantung yang terjadi dalam
menanggapi tugas non-algoritmik, merupakan produk kreatif, yang didefinisikan
sebagai ide-ide, prototipe yang relevan dan dapat dinilai oleh pemangku
kepentingan (stakeholder) untuk menjadi sesuatu yang baru dan berguna. Menurut
Amabile et al, kreativitas karyawan atau anggota organisasi merupakan produk
ide-ide, produk atau prosedur yang ; baru/orisinil dan secara potensial bermanfaat
bagi organisasi (Wirawan, 2013).
18
Penelitian mengenai kepemimpinan diasumsikan memiliki pengaruh
terhadap peningkatan kreatifitas anggota. Wirawan berpendapat pula bahwa
kepemimpinan memerlukan pemimpin dan pengikut yang kreatif dan inovatif.
Pemimpin juga harus mengembangkan budaya kreativitas dan inovasi dalam
organisasinya. Budaya kreativitas akan mendorong semua pengikutnya untuk
kreatif dan inovatif; mendorong mereka untuk lebih produktif (Wirawan, 2013).
Herman menyatakan bahwa teori kepemimpinan lebih berperan dalam
membangun suatu lingkungan atau menghasilkan kreatifitas anggotanya. Para
pemimpin mendukung dan menstimulus para pengikutnya untuk
mengembangkan ide-ide baru dan bila terjadi kegagalan, mereka tidak akan
menyalahkan (Herman, 2014). Melalui peranannya, para leader/pemimpin
diharapkan mampu mengkomunikasikan visi yang menarik bagi anggotanya
serta meningkatkan motivasi yang dapat menggerakkan anggota untuk meraih
visi organisasi tersebut. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan sangat
mempengaruhi Kinerja Kreatif para anggota dan memiliki karakteristik yang
lebih umum, interpersonal dan lintas situasi.
Gupta menuliskan, prilaku Kinerja Kreatif didefinisikan sebagai sebuah
rangkaian kegiatan yang dapat diamati dan tidak dapat diamati, saling berkaitan
dalam menanggapi tugas non algoritmik, sebagai produk atau hasil kreatif,
didefinisikan pula sebagai ide-ide, prototype, dan produk baru dan berdaya guna
(Gupta, 2014).
Wirawan menjelaskan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk
menciptakan ide-ide baru, menemukan cara baru untuk memahami problem
19
yang dihadapi dan memahami adanya peluang dan memproduksi barang dan jasa
baru untuk menyelesaikan problem (Wirawan, 2013). Seorang pemimpin
mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis problem yang
dihadapi oleh organisasi atau sistem sosial.
Janssen et al (Gupta, 2014) membuat klasifikasi Kinerja Kreatif secara
luas ke dalam prilaku problem identification, information search, idea
generation, dan idea promotion. Prilaku mengidentifikasikan masalah, pencarian
informasi, melahirkan ide, dan mempromosikan ide berujung atau memuncak
pada lahirnya ide inovasi untuk menghadapi sebuah masalah.
Prilaku kreatif didukung pula oleh faktor-faktor lain seperti sumbersumber pekerjaan dan non pekerjaan yang membantu membentuk suasana hati
yang mencukupi untuk pelaksanaan pekerjaan mereka. Selain itu tantangantantangan pekerjaan, diberikannya kepercayaan dengan level otonomi yang lebih
tinggi dan kontrol atas pekerjaan mereka, dan evaluasi ide-ide atas pekerjaan
mereka. Imbalan dan bonus yang esensial dan lingkungan kerja yang kreatif juga
menjadi dukungan bagi lahirnya inovasi baru sebagai hasil Kinerja Kreatif
(Wirawan, 2013).
Menurut Woodman, et al (Gupta, 2014), kreativitas dapat dipahami
sebagai hasil/produk dari individu dan lingkungannya. Selain menunjukkan
perilaku kreatif dalam pengawasan/kontrol karyawan, ada sejumlah faktor
lingkungan luar lain di luar kendali karyawan (misalnya kerja sama tim, sumber
daya yang tersedia untuk mengimplementasikan ide-ide yang dihasilkan, tren
20
ekonomi, permintaan pasar) yang dapat membantu mendorong efektivitas hasil
(Aisha Zubair, 2015).
Amabile, dkk menyatakan, banyak penelitian yang telah menunjukkan
bahwa kreativitas karyawan memainkan peranan penting di dalam meningkatkan
kemajuan organisasi, inovasi, efektivitas, dan daya tahan di pasar yang kompetitif
(Aisha Zubair, 2015).
Janssen, dkk (Aisha Zubair, 2015) menyatakan pula bahwa Perilaku
Kinerja Kreatif dapat secara luas diklasifikasikan ke dalam identifikasi masalah
(problem identification), pencarian informasi (information search), generasi ide
(idea generation) dan perilaku promosi ide (idea promotion).
Menurut Reiter-Palmon dan Illies (Gupta, 2014), identifikasi masalah,
pencarian informasi dan gagasan generasi perilaku berakhir dengan lahirnya ideide inovatif untuk mengatasi masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar