Dalam suatu organisasi, keberhasilan organisasi bergantung kepada
potensi sumber daya manusia di dalamnya. Oleh karena itu keberhasilan seorang
pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orangorang di sekitarnya (Rivai, 2013).
Kepemimpinan memiliki banyak definisi yang tak terbatas dan yang
menuju pada suatu tugas yang dipandang perlu oleh dunia. Richard L.Hughes, et
al (Wirawan, 2013), berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan suatu sains
(science) dan seni (art). Aneka teori kepemimpinan menunjuk pada suatu definisi
bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses interaksi yang saling memengaruhi
15
antara pemimpin dengan para pengikutnya untuk merealisasikan visi. Proses ini
memerlukan waktu, bukan sesuatu yang terjadi seketika (Wirawan, 2013).
Kim Cameron menggambarkan pengaturan organisasi yang positif
merupakan hasil proses ‘mengangkat’ atau meningkatkan kinerja umum melebihi
harapan, menghasilkan sesuatu yang spektakuler, mengejutkan dan luar biasa
(Carolyn, 2013). Pengaturan organisasi yang positif tidak lepas dari gaya
kepemimpinan yang positif pula.
Secara tradisional, sebagian besar teori kepemimpinan cenderung
berorientasi secara positif dan menawarkan pula definisi kepemimpinan secara
positif.
Dalam Journal of World Business (Carolyn, 2013), Kepemimpinan Positif
didefiniskan sebagai sifat, proses, dan perilaku disengaja yang sistematis dan
terintegrasi dan merupakan manifestasi dan hasil kinerja yang meningkat,
memberi hasil yang luar biasa dan afirmasi dari kekuatan, kemampuan dan
potensi perkembangan pemimpin, para pengikutnya dan organisasi itu sendiri dari
waktu ke waktu dan sesuai dengan konteksnya. Penjabaran dari definisi ini
menunjukkan kebutuhan akan Kepemimpinan Positif yang sistematis dan
terintegrasi. Selain itu adanya kebutuhan akan perseptif yang lebih luas dan
penilaian yang terintegrasi dari berbagai komponen dari suatu sistem dalam
rentang waktu dan batas-batas kontekstual. Pemimpin yang positif
(dan juga organisasi) perlu terus memantau beberapa aspek nilai-nilai dan
tindakan mereka, karena satu insiden negatif dapat merusak reputasi mereka untuk
waktu yang lama (Carolyn, 2013).
16
Kepemimpinan Positif secara fakta juga dibangun di atas kombinasi sifatsifat yang stabil, mudah dibentuk, dan faktor situasional yang telah dibangun
dalam literatur kepemimpinan yang masih ada. Sifat-sifat, proses, prilaku dan
hasil kinerja yang terwujud di berbagai tingkatan, baik bagi pemimpin, anggota,
dan juga organisasi tersebut (Carolyn, 2013).
Teori dan praktek yang terintegrasi dapat diterapkan untuk membantu para
pemimpin untuk menjadi lebih positif dan efektif dalam konteks global, sehingga
diharapkan dapat mencapai tingkat keberhasilan yang benar-benar luar biasa.
Aneka teori kepemimpinan berfokus pula pada kualitas hubungan antara
pemimpin dan pengikut yang dapat menyebabkan rasa saling percaya,
keterbukaan, dan kolaborasi, sangat relevan untuk saling merangkul, menghargai
dan memanfaatkan keragaman ketika memimpin dalam konteks global. Maka dari
itu, teori-teori kepemimpinan karismatik dan transformasional juga penting dalam
menyoroti kebutuhan untuk mempengaruhi dan menginspirasi para anggota atau
pengikutnya dan menyelaraskan tujuan mereka dengan visi pemimpin.
Kepemimpinan transformasional menekankan perkembangan pengikutnya melalui
pertimbangan individual dan intelektual sehingga mereka dapat menjadi lebih
mandiri, yang sangat relevan untuk kepemimpinan global, di mana pemimpin
mungkin harus memimpin dari kejauhan.
Carolyn dan Luthan (Carolyn, 2013) berpendapat Kepemimpinan Positif
secara tulus menghargai dan toleran terhadap aneka bentuk budaya. Keberagaman
dipandang sejajar dan memandang permasalahan akibat perbedaan perlu diatasi
atau dipecahkan dengan toleransi atau kadang bahkan dihindari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar