Setiap orang yang bekerja, selalu mengharapkan kepuasan dalam berkerja
di tempat kerjanya. Menurut (Robbins, 2003:78) kepuasan kerja merupakan
sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukkan perbedaan antara
jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka akan terima.
Menurut Luthans (2006) mengemukakan bahwa kepuasan kerja adalah
ungkapan kepuasan karyawan tentang bagaimana pekerjaan mereka dapat
memberikan manfaat bagi organisasi, yang berarti bahwa apa yang diperoleh
dalam bekerja sudah memenuhi apa yang dianggap penting. Pada dasarnya
kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individu, setiap individu memiliki
tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai-nilai yang
berlaku pada dirinya, ini disebabkan oleh adanya perbedaan pada dirinya dan
masing-masing individu. Seorang yang puas lebih menyukai situasi
pekerjaannya daripada karyawan yang tidak puas.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja
merupakan sikap pekerja yang menjelaskan suatu perasaan positif tentang
pekerjaan, yang dihasilkan dari suatu evaluasi pekerjaan yang telah dilakukan.
Karyawan dengan tingkat kepuasan yang tinggi memiliki perasaan yang positif
terhadap pekerjaannya, sedangkan karyawan dengan level yang rendah memiliki
perasaan negatif.
Dari beberapa teori kepuasan, menggunakan teori Two Factor, yang
merupakan teori kepuasan keja yang menganjurkan bahwa satisfaction
(kepuasan) dan dissatisfaction (ketidakpuasan). Pada teori ini ketidakpuasan
dihubungkan dengan kondisi disekitar pekerjaan (seperti, kondisi kerja,
pengupahan, keamanan, kualitas, pengawasan, dan hubungan dengan orang lain)
dan bukan dengan pekerjaan itu sendiri. Sebaliknya, kepuasan ditarik dari faktor
yang terkait dengan pekerjaan itu sendiri, seperti sifat pekerjaan, prestasi dalam
pekerjaannya, peluang promosi, dan kesempatan untuk pengembangan diri dan
pengakuan.
Tolak ukur kepuasan kerja yang mutlak sulit untuk dicari karena setiap
individu memiliki strandar kepuasan yang berbeda. Dalam Luthans (2006) ada
5 indikator yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, yaitu:
Kepuasan terhadap pembayaran, seperti gaji dan upah, yaitu jumlah dan
rasa keadilannya yang menunjukkan kesamaan antara jumlah
penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini
seharusnya mereka terima. Karena karyawan menginginkan sistem
penggajian yang mereka anggap tidak ambigu, dan sejalan dengan
harapan mereka. Bila pembayaran itu kelihatan adil berdasarkan pada
permintaan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar
pembayaran masyarakat, kepuasan mungkin dihasilkan.
Kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri, yaitu kondisi pekerjaan itu
dapat dinikmati atau tidak, karyawan lebih menyukai pekerjaanpekerjaan yang memberi mereka peluang untuk menggunakan
keterampilan dan kemampuan mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas
yang beragam.
Kepuasan terhadap rekan kerja, dari bekerja orang mendapatkan lebih
dari sekedar uang atau prestasi prestasi yang berwujud. Bagi sebagian
karyawan kerja juga dapat mengisi kebutuhan akan interaksi sosial. Oleh
karena itu, tidak heran jika seorang karyawan mengharapkan memiliki
rekan kerja yang suportif dan bersahabat dapat meningkatkan kepuasan
kerja mereka.
Kepuasan terhadap promosi, pada saat dipromosikan pegawai pada
umumnya menghadapi peningkatan tuntutan keahlian, kemampuan serta
tanggungjawab. Sebagian besar pegawai merasa positif jika
dipromosikan. Dengan promosi memungkinkan organisasi untuk
mendayagunakan kemampuan dan keahlian pegawai setinggi mungkin
kepuasan terhadap pengawasan kerja (supervisi) yaitu adanya Keadilan
dan kompetensi penugasan manajerial oleh penyedia.
Pengawasan (Supervisi), kemampuan penyelia untuk memberikan
bantuan teknis dan dukungan perilaku. Supervisi mempunyai peran yang
penting dalam suatu organisasi karena berhubungan dengan pegawai
secara langsung dan mempengaruhi pegawai dalam melakukan
pekerjaannya. Pada umumnya pegawai lebih suka mempunyai supervisi
yang adil, terbuka dan mau bekerjasama dengan bawahan.
Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Marihot Tua Efendi
(2002:291) yaitu :
Pembayaran (Gaji)
Gaji merupakan alat ukur kuantitatif yang telah diberikan oleh karyawan
terhadap perusahaannya. Dipersepsikan terhadap nilai keadilan
berdasarkan permintaan kerja, tingkat ketrampilan individu, standar
pembayaran gaji dan prestasi kerja.
Pekerjaan
Karyawan cenderung mengerjakan pekerjaan yang dapat memberikan
peluang jenjang karir yang lebih tinggi.
Kesempatan Promosi
Promosi diberikan sesuai dengan penghargaan perusahaan kepada
karyawannya dengan kriteria dan senioritas berdasarkan lama waktu
bekerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Penyelia
Salah satu pimpinan dalam perusahaan yang menangani karyawan secara
langsung. Atasan harus dapat meningkatkan jumlah dan jenis
penghargaan yang ada terhadap perusahaan.
Rekan Kerja
Pegawai sebagai manusia makhluk sosial sehingga karyawan akan
berkembang dalam bekerja sama dengan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar