Jumat, 24 September 2021

Faktor Penyebab Tunadaksa (skripsi dan tesis)

Seperti juga kondisi ketunaan yang lain, kondisi kelainan pada fungsi anggota tubuh atau tunadaksa dapat terjadi pada saat sebelum anak lahir (pre natal), saat lahir (neo natal), dan setelah lahir (post natal). Insiden kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang terjadi sebelum bayi lahir atau ketika dalam kandungan, diantaranya karena faktor genetik dan kerusakan pada sistem syaraf pusat. Faktor lain yang menyebabkab kelainan pada bayi selama dalam kandungan ialah (1) anoxia prenatal, hal ini disebabkan pemisahan bayi dari plasenta, penyakit anemia, kondisi jantung yang gawat, shock¸ percobaan aborsi; (2) gangguan metabolisme pada ibu; dan (3) faktor rhesus. Kondisi ketunadaksaan yang terjadi pada masa kelahiran bayi diantaranya kesulitan saat persalinan karena letak bayi sungsang atau panggul ibu terlalu kecil, pendarahan otak pada saat kelahiran, kelahiran prematur, dan gangguan placenta yang dapat mengurangi terjadinya anoxia. Adapun kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang terjadi pada masa setelah anak lahir, diantaranya: a. Faktor penyakit, seperti meningitis (radang selaput otak), encephalitis (radang otak), influenza, diphteria, partusis. b. Faktor kecelakaan, misalnya kecelakaan lalu lintas, terkena benturan benda keras dll c. Pertumbuhan tubuh yang tidak sempurna. (Efendi, 2009: 122-123) Sedangkan menurut Smart (2012: 46-48), ada beberapa penyebab yang menjadikan seseorang mengalami tunadaksa. Salah satu contohnya adalah kerusakan yang terjadi pada jaringan otak. Seperti apa yang anda ketahui, otaklah yang mengendalikan semua kerja sistem pada tubuh. Jika jaringan otak rusak, jaringan yang lain pun ikut rusak. Selain karena rusaknya jaringan otak, tunadaksa juga bisa disebabkan oleh rusaknya jaringan sumsum tulang belakang, yaitu pada sistem muskulus skeletal. Jika dilihat dari kerusakan otak, bisa terlihat pada saat sebelum lahir, saat lahir, dan sesudah lahir. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam uraian berikut: 1. Sebelum lahir (pre-natal) a. Pada saat hamil, ibu hamil mengalami trauma atau terkena infeksi/ penyakit sehingga otak bayi pun ikut terserang dan menimbulkan kerusakan. Misalkan infeksi, syphilis, rubella dan typhus abdominalis. b. Terjadinya kelainan pada kehamilan sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu, tali pusar tertekan, dan pembentukan syaraf-syaraf dalam otak pun ikut terganggu c. Bayi dalam kandungan terkena radiasi secara langsung. Sedangkan, radiasi langsung dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat sehingga struktur maupun fungsinya terganggu. d. Ibu yang sedang hamil mengalami trauma (kecelakaan) yang dapat mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat. Misalnya ibu jatuh dan perutnya terbentur cukup keras yang kemudian secara kebetulan menganggu kepala bayi, maka dapat merusak sistem syaraf pusat. 2. Faktor keturunan 3. Usia ibu pada saat hamil 4. Pendarahan pada waktu hamil, dan 5. Keguguran yang dialami ibu 6. Saat kelahiran a. Akibat proses kehamilan yang terlalu lama sehingga bayi kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam otak, akibatnya jaringan otak mengalami kerusakan b. Pemakaian alat bantu, seperti yang pada saat proses melahirkan dapat merusak jaringan saraf oatak bayi c. Pemakaian obat bius yang berlebihan pada ibu yang melahirkan dengan caesar dapat mempengaruhi persarafan ataupun fungsinya. 7. Setelah melahirkan a. Kecelakaan/trauma kepala, amputasi . Infeksi penyakit yang menyerang otak c. Anoxia atau Hipoxia 8. Trauma Tidak dapat dipungkiri bahwa fungsi motorik dalam kehidupan manusia sangat penting, terutama jika seseorang itu ingin mengadakan kontak dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam sekitarnya. Maka peranan motorik sebagai sarana yang dapat mengantarkan seseorang untuk melakukan aktivitas mempunyai posisi yang sangat strategis, disamping kesertaan indera yang lain. Dalam aplikasinya baik dilakukan bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Oleh karena itu, dengan terganggunya fungsi motorik sebagai akibat dari penyakit, kecelakaan atau bawaan sejak lahir, akan berpengaruh terhadap keharmonisan indera yang lain dan pada gilirannya akan berpengaruh pada kondisi kejiwaanya (Efendi, 2009: 124)

Tidak ada komentar: