Seperti juga kondisi ketunaan yang lain, kondisi kelainan pada
fungsi anggota tubuh atau tunadaksa dapat terjadi pada saat sebelum anak
lahir (pre natal), saat lahir (neo natal), dan setelah lahir (post natal).
Insiden kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang terjadi
sebelum bayi lahir atau ketika dalam kandungan, diantaranya karena
faktor genetik dan kerusakan pada sistem syaraf pusat. Faktor lain yang
menyebabkab kelainan pada bayi selama dalam kandungan ialah (1)
anoxia prenatal, hal ini disebabkan pemisahan bayi dari plasenta,
penyakit anemia, kondisi jantung yang gawat, shock¸ percobaan aborsi;
(2) gangguan metabolisme pada ibu; dan (3) faktor rhesus.
Kondisi ketunadaksaan yang terjadi pada masa kelahiran bayi
diantaranya kesulitan saat persalinan karena letak bayi sungsang atau
panggul ibu terlalu kecil, pendarahan otak pada saat kelahiran, kelahiran
prematur, dan gangguan placenta yang dapat mengurangi terjadinya
anoxia.
Adapun kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang
terjadi pada masa setelah anak lahir, diantaranya: a. Faktor penyakit, seperti meningitis (radang selaput otak), encephalitis
(radang otak), influenza, diphteria, partusis.
b. Faktor kecelakaan, misalnya kecelakaan lalu lintas, terkena benturan
benda keras dll
c. Pertumbuhan tubuh yang tidak sempurna. (Efendi, 2009: 122-123)
Sedangkan menurut Smart (2012: 46-48), ada beberapa penyebab
yang menjadikan seseorang mengalami tunadaksa. Salah satu contohnya
adalah kerusakan yang terjadi pada jaringan otak. Seperti apa yang anda
ketahui, otaklah yang mengendalikan semua kerja sistem pada tubuh. Jika
jaringan otak rusak, jaringan yang lain pun ikut rusak. Selain karena
rusaknya jaringan otak, tunadaksa juga bisa disebabkan oleh rusaknya
jaringan sumsum tulang belakang, yaitu pada sistem muskulus skeletal.
Jika dilihat dari kerusakan otak, bisa terlihat pada saat sebelum lahir,
saat lahir, dan sesudah lahir. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam uraian
berikut:
1. Sebelum lahir (pre-natal)
a. Pada saat hamil, ibu hamil mengalami trauma atau terkena infeksi/
penyakit sehingga otak bayi pun ikut terserang dan menimbulkan
kerusakan. Misalkan infeksi, syphilis, rubella dan typhus
abdominalis.
b. Terjadinya kelainan pada kehamilan sehingga menyebabkan
peredaran darah terganggu, tali pusar tertekan, dan pembentukan
syaraf-syaraf dalam otak pun ikut terganggu c. Bayi dalam kandungan terkena radiasi secara langsung. Sedangkan,
radiasi langsung dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat sehingga
struktur maupun fungsinya terganggu.
d. Ibu yang sedang hamil mengalami trauma (kecelakaan) yang dapat
mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat.
Misalnya ibu jatuh dan perutnya terbentur cukup keras yang
kemudian secara kebetulan menganggu kepala bayi, maka dapat
merusak sistem syaraf pusat.
2. Faktor keturunan
3. Usia ibu pada saat hamil
4. Pendarahan pada waktu hamil, dan
5. Keguguran yang dialami ibu
6. Saat kelahiran
a. Akibat proses kehamilan yang terlalu lama sehingga bayi
kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan
terganggunya sistem metabolisme dalam otak, akibatnya jaringan
otak mengalami kerusakan
b. Pemakaian alat bantu, seperti yang pada saat proses melahirkan
dapat merusak jaringan saraf oatak bayi
c. Pemakaian obat bius yang berlebihan pada ibu yang melahirkan
dengan caesar dapat mempengaruhi persarafan ataupun fungsinya.
7. Setelah melahirkan
a. Kecelakaan/trauma kepala, amputasi . Infeksi penyakit yang menyerang otak
c. Anoxia atau Hipoxia
8. Trauma
Tidak dapat dipungkiri bahwa fungsi motorik dalam kehidupan
manusia sangat penting, terutama jika seseorang itu ingin mengadakan
kontak dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan
alam sekitarnya. Maka peranan motorik sebagai sarana yang dapat
mengantarkan seseorang untuk melakukan aktivitas mempunyai posisi
yang sangat strategis, disamping kesertaan indera yang lain. Dalam
aplikasinya baik dilakukan bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Oleh
karena itu, dengan terganggunya fungsi motorik sebagai akibat dari
penyakit, kecelakaan atau bawaan sejak lahir, akan berpengaruh terhadap
keharmonisan indera yang lain dan pada gilirannya akan berpengaruh
pada kondisi kejiwaanya (Efendi, 2009: 124)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar