Mengelola diri (self management) berarti menangani perasaan agar
perasaan dapat terungkap dalam tingkatan yang terkendali (Goleman, 1995
dan 1998). Kecakapan ini sangat bergantung pada kesadaran diri seseorang.
Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam ketrampilan ini akan terus
menerus bertarung melawan perasaan murung sedangkan orang yang dapat
menangani perasaan dengan baik akan dapat bangkit kembali dengan jauh
lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. Inti dari
kemampuan ini bukan menjauhi perasaan yang tidak menyenangkan agar
selalu bahagia namun tidak membiarkan perasaan menderita berlangsung
tidak terkendali sehingga menghapus semua suasana hati yang
menyenangkan.
Dimensi ini terdiri dari enam kompetensi (Boyatzis, dalam Winarno, 2008)
yaitu:
1) Self control (mengendalikan emosi-emosi gerakan-gerakan hati yang
mengganggu)
Seseorang yang memiliki kendali diri emosional dapat menemukan
cara-cara mengelola perasaannya yang sedang terganggu oleh pihak lain
atau atas dorongan-dorongan dirinya sendiri, dan bahkan dapat menyalurkannya ke dalam cara-cara yang bermanfaat. Ciri individu yang
memiliki kompetensi kendali diri emosional yang baik adalah orang yang
tetap tenang dan berfikiran jernih ketika berada dalam tekanan tinggi
atau ketika berada dalam suasana krisis atau seseorang yang tidak goyah
meskipun berhadapan dengan situasi yang menantang ketahanannya.
2) Trustworthiness (menjaga standar-standar kejujuran dan integritas)
Seseorang yang dapat dipercaya mempertahankan nilai-nilai yang
diyakininya. Istilah lain dari kompetensi ini adalah transparansi, suatu
keterbukaan yang sungguh-sungguh kepada orang lain mengenai
perasaan, keyakinan, dan tindakan seseorang, yang memampukan
seseorang untuk memiliki integritas. Orang semacam ini mengakui secara
terbuka kesalahan yang diperbuat, menentang perilaku yang tidak etis
kepada orang lain, dan tidak berpura-pura tidak tahu.
3) Conscientiousness (bertanggung-jawab terhadap prestasi pribadi)
Orang dengan conscientiousness umumnya berhati-hati, dapat
diandalkan, teratur, dan bertanggung jawab. Seseorang dengan
conscientiousness memiliki nilai kebersihan dan ambisi. Selain itu
mereka punya kontrol terhadap lingkungan sosial, berpikir sebelum
bertindak, menunda kesenangan, taat aturan, terencana, terorganisir, dan
memprioritaskan tugas. Orang-orang ini well organize, tepat waktu, dan
ambisius.
29
4) Adaptability (fleksibel dalam menghadapi perubahan)
Adaptabilitas merupakan kompetensi yang memampukan
seseorang dapat menyesuaikan diri, dapat menghadapi berbagai tuntutan
tanpa kehilangan fokus atau energi, dan tetap nyaman berada pada
situasi-situasi yang tidak menentu yang sering tidak dapat dihindarkan
dalam kehidupan organisasi. Orang itu luwes dalam menyesuaikan
dirinya dengan tantangan baru, cekatan dalam menyesuaikan dengan
perubahan yang berlangsung cepat, dan berfikiran gesit ketika
menghadapi realitas baru.
5) Achievement Orientation (berusaha keras untuk meningkatkan hasil)
Mendorong prestasi membuat seseorang memiliki standar pribadi
yang tinggi yang mendorongnya untuk terus melakukan perbaikan
kinerja baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain, terutama ketika
orang tersebut sedang memimpin. Orang dengan kompetensi ini bersikap
pragmatis, menetapkan tujuan-tujuan yang terukur namun tetap
menantang, dan mampu memperhitungkan resiko sehingga tujuan-tujuan
yang dicita-citakan layak untuk dicapai. Ciri utama kompetensi ini adalah
kesediaan untuk terus belajar dan membelajarkan berbagai cara untuk
melakukan segala sesuatu dengan lebih baik.
6) Initiative (selalu siap bertindak setiap ada peluang)
Kemampuan seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang baru atau
asli. Orang yang memiliki inisiatif ini mampu dalam menemukan
peluang, menemukan ide, mengembangkan ide serta cara-cara baru
30
dalam memecahkan suatu problem. Aspek ini ditunjukkan dengan adanya
ciri-ciri yaitu kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara original
serta kreatif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar