Selasa, 28 September 2021

Indikator-indikator Psychological Well Being (skripsi dan tesis)

Ryff (dalam Pratidina, 2013) dalam jurnal ilmiah berjudul “Happiness Is Everything, or Is It ? Explorations On The Meaning of Psychological Well-Being”, mengembangkan kesejahteraan psikologis menjadi enam dimensi. Enam dimensi psychological well being ini merupakan intisari dari teori-teori positive function psychology yang dirumuskan Ryff (dalam Ryff, 1989; Ryff dan Keyes, 1995), Keenam dimensi psychological well being tersebut antar lain : 1. Dimensi penerimaan diri (self acceptance) Teori perkembangan manusia menjelaskan bahwa self acceptance berkaitan dengan penerimaan diri individu pada masa kini dan masa  lalunya. Selain itu dalam literature positive psychological functioning, self acceptance juga berkaitan dengan sikap positif terhadap diri sendiri (Ryff, 1989). Seorang individu dikatakan memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri apabila individu tersebut memiliki sikap positif terhadap dirinya sendiri, menghargai dan menerima berbagai aspek yang ada pada dirinya, baik kualitas diri yang baik maupun yang buruk. Orang yang memiliki nilai penerimaan diri yang tinggi juga dapat merasakan hal yang positif dari kehidupan di masa lalu (Ryff, 1995). 2. Dimensi hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others). Kemampuan untuk mencintai dipandang sebagai komponen utama dari kondisi mental yang sehat. Teori self actualization mengemukakan konsepsi hubungan positif dengan orang lain sebagai perasaan empati dan afeksi kepada orang lain serta kemampuan untuk membina hubungan yang mendalam dan identifikasi dengan orang lain. Membina hubungan yang hangat dengan orang lain merupakan salah satu dari criterion of maturity yang dikemukakan oleh Allport (dalam Ryff, 1989). Teori perkembangan manusia juga menekankan intimacy dan generativity sebagai tugas utama yang harus dicapai manusia dalam tahap perkembangan tertentu. Seorang yang memiliki hubungan positif dengan orang lain mampu membina hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan dengan orang lain. Selain itu, individu tersebut memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain dapat menunjukan empati, 18 afeksi, dan intimitas, serta memahami prinsip memberi dan menerima dalam hubungan antar pribadi. 3. Dimensi otonomi (autonomy). Teori self actualization mengemukakan otonomi dan resistensi terhadap perubahan yang terjadi dalam lingkungannya. Roger (1961) mengemukakan bahwa seseorang dengan fully functioning digambarkan sebagai seorang individu yang memiliki internal locus of evaluation, dimana orang tersebut tidak selalu membutuhkan pendapat dan persetujuan orang lain, namun mengevaluasi dirinya sendiri dengan standar personal (Ryff, 1989). Teori perkembangan memandang otonomi sebagai rasa kebebasan yang dimiliki seseorang untuk terlepas dari norma-norma yang mengatur kehidupan sehari-hari. Ciri utama dari seorang individu yang memiliki otonomi yang baik antara lain dapat menentukan segala sesuatu seorang diri (self determining) dan mandiri. Individu mampu untuk mengambil keputusan tanpa tekanan dan campur tangan orang lain. Orang tersebut memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan sosial, dapat mengatur tingkah laku dari dalam diri, serta dapat mengevaluasi diri dengan standar personal (Ryff, 1995). 4. Dimensi penguasaan lingkungan (environmental mastery). Karakteristik dari kondisi kesehatan mental adalah kemampuan individu untuk memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi psikisnya. Ryff (1989) menyebutkan bahwa individu yang matang akan mampu berpartisipasi dalam aktivitas di luar dirinya.  Teori perkembangan menyebutkan bahwa manusia dewasa yang sukses adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan perbaikan pada lingkungan dan melakukan perubahan-perubahan yang dinilai perlu melalui aktivitas fisik dan mental serta mengambil manfaat dari lingkungan tersebut. Seseorang yang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan memiliki keyakinan dan kompetensi dalam mengatur lingkungannya. Individu dapat mengendalikan berbagai aktivitas eksternal yang berada di lingkungannya termasuk mengatur dan mengendalikan situasi kehidupan sehari hari, memanfaatkan kesempatan yang ada di lingkungannya, serta mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai pribadi. 5. Dimensi tujuan hidup (purpose in life). Kondisi mental yang sehat memungkinkan individu untuk menyadari bahwa individu memiliki tujuan tertentu dalam hidup yang dijalani serta mampu memberikan makna pada hidup yang dijalaninya. Allport (1961) menjelaskan bahwa salah satu ciri kematangan individu adalah memiliki tujuan hidup, yakni rasa keterarahan (sense of directedness) dan rasa bertujuan (intentionality) (Ryff, 1989). Teori perkembangan juga menekankan pada berbagai perubahan tujuan hidup sesuai dengan tugas perkembangan dalam tahap perkembangan tertentu. Rogers (1961) mengemukakan bahwa fully functioning person memiliki tujuan dan cita-cita serta rasa keterarahan yang membuat dirinya merasa bahwa hidup ini bermakna (Ryff, 1989). Seseorang yang memiliki nilai 20 tinggi dalam dimensi tujuan hidup memiliki rasa keterarahan (directedness) dalam hidup, mampu merasakan tujuan hidup, serta memiliki tujuan dan target yang ingin dicapai dalam hidup (Ryff, 1995). 6. Dimensi pertumbuhan pribadi Ryff (1989) menjelaskan bahwa Optimal psychological functioning tidak hanya bermakna pada pencapaian terhadap karakteristikkarakteristik tertentu, namun pada sejauh mana seseorang terus menerus mengembangkan potensi dirinya, bertumbuh, dan meningkatkan kualitas positif pada dirinya. Kebutuhan akan aktualisasi diri dan menyadari potensi diri merupakan perspektif utama dari dimensi pertumbuhan diri. Keterbukaan akan pengalaman baru merupakan salah satu karakteristik dari fully functioning person (Ryff, 1989). Teori perkembangan juga menekankan pada pentingnya manusia untuk bertumbuh dan menghadapi tantangan baru dalam setiap periode pada tahap perkembangannya. Seorang yang memiliki pertumbuhan pribadi yang baik ditandai dengan adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berkesinambungan dalam dirinya, memandang diri sendiri sebagai individu yang selalu tumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, memiliki kemampuan dalam menyadari potensi diri yang dimiliki, dapat merasakan peningkatan yang terjadi pada diri dan tingkah lakunya setiap waktu, serta dapat berubah menjadi pribadi yang lebih efektif dan memiliki pengetahuan yang bertambah (Ryff, 1995).

Tidak ada komentar: