Selasa, 28 September 2021

Definisi Psychological Well Being (skripsi dan tesis)

Teori psychological well being dikembangkan oleh Ryff pada tahun 1989. Psychological well being merujuk pada perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Segala aktivitas yang dilakukan oleh individu yang berlangsung setiap hari dimana dalam proses tersebut kemungkinan mengalami fluktuasi pikiran dan perasaan yang dimulai dari kondisi mental negatif sampai pada kondisi mental positif, misalnya dari trauma sampai penerimaan hidup dinamakan psychological well being (Bradburn dalam Ryff & Keyes,1995). Ryff & Keyes (1995) dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul “The Structure of Psychological Well Being Revisited”, mengatakan bahwa manusia memiliki dua fungsi positif untuk meningkatkan kesejahteraan psikologisnya. Pertama adalah tentang bagaimana individu membedakan hal positif dan negatif akan memberikan pengaruh untuk pengertian kebahagiaan. Konsep yang kedua adalah menekankan kepuasan hidup sebagai kunci utama kesejahteraan. Kesejahteraan psikologis (psychological well being) adalah tingkat kemampuan individu dalam menerima dirinya apa adanya, membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, mandiri terhadap tekanan sosial, 13 mengontrol lingkungan eksternal, memiliki arti dalam hidup, serta merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu (Ryff & Keyes,1995). Menurut Ryff (1989) manusia dapat dikatakan memiliki kesejahteraan psikologis yang baik adalah bukan sekedar bebas dari indikator kesehatan mental negatif, seperti terbebas dari kecemasan, tercapainya kebahagiaan dan lain-lain. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah kepemilikan akan penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, kemampuan untuk memiliki rasa akan pertumbuhan dan pengembangan pribadi secara berkelanjutan. Ryff juga menyebutkan bahwa kesejahteraan psikologis menggambarkan sejauh mana individu merasa nyaman, damai, dan bahagia berdasarkan penilaian subjektif serta bagaimana mereka memandang pencapaian potensi-potensi mereka sendiri. Ryff (dalam Carr, 2004) mendefinisikan psychological well being sebagai suatu dorongan untuk menggali potensi diri individu secara keseluruhan. Dorongan tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat psychological well being individu menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki keadaan hidup yang akan membuat psychological well being individu tersebut menjadi tinggi (Ryff & Keyes, 1995). Individu yang memiliki psychological well being yang tinggi adalah individu yang merasa puas dengan hidupnya, kondisi emosional yang positif, mampu melalui pengalaman-pengalaman buruk yang dapat menghasilkan kondisi emosional negatif, memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, mampu menentukan nasibnya sendiri tanpa bergantung 14 dengan orang lain, mengontrol kondisi lingkungan sekitar, memiliki tujuan hidup yang jelas, dan mampu mengembangkan dirinya sendiri (Ryff, 1989). Psychological well being menggunakan pandangan eudaimonic, dimana memformulakan well being dalam konsep aktualisasi potensi manusia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan (Keyes, Shmotkin, & Ryff, 2002). Waterman (1993) mengemukakan bahwa konsepsi well being dalam pandangan eudaimonic menekankan pada bagaimana cara manusia untuk hidup dalam daimon-nya, atau dirinya yang sejati (true self). Diri yang sejati ini terjadi ketika manusia melakukan aktivitas yang paling kongruen atau sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan dilakukan secara menyeluruh serta benar-benar terlibat di dalamnya (fully engaged) (Ryan & Deci, 2001). Daimon juga mengacu pada potensi yang dimiliki tiap-tiap individu, yakni realisasi yang merepresentasikan pemenuhan hidup yang niscaya setiap individu mampu melakukannya (Walterman, dalam Strumfer, 2002). Oleh karena itu, pendekatan eudaimonic berfokus pada realisasi diri, ekspresi pribadi, dan sejauh mana seorang individu mampu untuk mengaktualisasikan potensi dirinya (Walterman, dalam Ryan & Deci, 2001). Pandangan eudaimonic dalam psychological well being berbeda dengan aktivitas-aktivitas hedoic dalam psychological well being yang dilakukan dengan mengejar kenikmatan dan menghindari rasa sakit akan menimbulkan well being yang bersifat sementara dan berkembang menjadi sebuah kebiasaan sehingga lama-kelamaan kehilangan esensi sebagai suatu 15 hal yang bermakna. Sedangkan aktivitas-aktivitas eudaimonic ternyata lebih dapat mempertahankan kondisi well being dalam waktu yang relatif lama dan konsisten (Steger, Kahdan, & Oishi, 2007). Aktivitas-aktivitas eudaimonic yang dimaksud terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Baumeister dan Leary (1995); Myers (2000); Lucas, Diener dan Suh (1996); serta Ryff dan Singer (1998) bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup dirasakan lebih besar ketika individu mengalami pengalaman membina hubungan dengan orang lain dan merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu (relatedness dan belongingness), dapat menerima dirinya sendiri, dan memiliki makna dan tujuan dari hidup yang mereka jalani (Steger, Kashdan & Oishi, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh Kasser dan Ryan (1993, 1996); Oishi, Diener, Suh, dan Lucas (1999); Ryan et al. (1999); Sheldon & Kasser (1995); Sheldon, Ryan, Deci, dan Kasser (2004) menunjukan bahwa mengejar dan mencapai sebuah tujuan yang paling kongruen dengan nilai dan keyakinan diri berkontribusi dalam meningkatkan well being (Steger, Kahdan, & Oishi, 2007). Sheldon dan Elliot (1999) menemukan bahwa mengejar dan mencapai tujuan yang dapat memunculkan rasa kemandirian, kompetensi, dan menciptakan hubungan yang baik dengan orang lain juga berpotensi untuk meningkatkan well being. Menurut Doyle, Hanks, & Mac Donald (dalam Lakoy, 2009), kesejahteraan psikologis (psychological well being) adalah refleksi dari happiness, emotional well being, dan positive mental health. Emotional well 16 being adalah pikiran dan perhatian berkenaan dengan perasaan depresi, anxiety dan frustasi, harapan hidup, kemampuan untuk relaks, dan berbahagia dengan hidup

Tidak ada komentar: