Selasa, 28 September 2021

Faktor-faktor yang mempengaruhi Psychological Well Being (skripsi dan tesis)

 
Pada umumnya manusia memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang berbeda-beda. Ryff (1995), menyatakan bahwa faktor-faktor sosiodemografis dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis pada diri individu, yakni: a. Usia Penelitian yang dilakukan oleh Ryff (1989) ditemukan adanya perbedaan tingkat psychological well being pada orang dari berbagai kelompok usia (Ryff, 1989, 1991; Ryff & Keyes,1995; Ryff & Singer, 1998). Ryff membagi kelompok usia ke dalam tiga bagian yakni young (25-29tahun), mildlife (30-64tahun), dan older (>65 tahun). Individu dewasa akhir (older), memiliki skor tinggi pada dimensi otonomi, hubungan positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan penerimaan diri sementara pada dimensi pertumbuhan pribadi dan tujuan hidup memiliki skor rendah. Individu yang berada dalam usia dewasa madya (mildlife) memiliki skor tinggi dalam dimensi penguasaan lingkungan, otonomi, dan hubungan positif dengan orang  lain sementara pada dimensi pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, dan penerimaan diri mendapat skor rendah. Individu yang berada dalam usia dewasa awal (young) memiliki skor tinggi dalam dimensi pertumbuhan pribadi, penerimaan diri, dan tujuan hidup sementara pada dimensi hubungan positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan otonomi memiliki skor rendah (Ryff dalam Ryan & Deci, 2001). b. Gender Hasil penelitian Ryff (1989) menyatakan bahwa dalam dimensi hubungan dengan orang lain atau interpersonal dan pertumbungan pribadi, wanita memiliki nilai signifikan yang lebih tinggi dibanding pria karena kemampuan wanita dalam berinteraksi dengan lingkungan lebih baik dibanding pria. Keluarga sejak kecil telah menanamkan dalam diri anak laki-laki sebagai sosok yang agresif, kuat, kasar dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, tidak berdaya, serta sensitif terhadap perasaan orang lain dan hal ini akan terbawa sampai anak beranjak dewasa. Tidak mengherankan bahwa sifat-sifat stereotype ini akhirnya terbawa oleh individu sampai beranjak dewasa. Sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita terbiasa untuk membina keadaan harmoni dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki psychological well being yang tinggi dalam dimensi hubungan positif  karena wanita dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain (Papalia & Feldman, 2008). c. Status Sosial Ekonomi Ryff mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan diri (dalam Ryan & Decci, 2001). Perbedaan status sosial ekonomi dalam psychological well being berkaitan erat dengan kesejahteraan fisik maupun mental seseorang. Individu dari status sosial rendah cenderung lebih mudah stres dibanding individu yang memiliki status sosial yang tinggi (Adler, Marmot, McEwen, & Stewart, 1999). d. Pendidikan Pendidikan menjadi satu faktor yang dapat mempengaruhi psychological well being. Semakin tinggi pendidikan maka individu tersebut akan lebih mudah mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya dibanding individu berpendidikan rendah. Faktor pendidikan ini juga berkaitan erat dengan dimensi tujan hidup individu (Ryff, Magee, Kling & Wing, 1999). e. Budaya Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme atau kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan otonomi, sedangkan budaya timur 24 yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme memiliki nilai yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain. f. Dukungan sosial Dukungan sosial adalah hal-hal yang berkaitan dengan rasa nyaman, perhatian, penghargaan atau pertolongan yang dipersepsikan. Hal-hal tersebut dapat didapatkan dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Menurut Cobb (dalam Lakoy, 2009) dukungan sosial dapat menimbulkan perasaan dicintai, dihargai, diperhatikan, dan sebagai bagian dari suatu jaringan sosial, seperti organisasi masyarakat dalam individu. g. Evaluasi terhadap bidang-bidang tertentu Ryff dan Essex dalam Jurnal The Interpretation of Life Experience And Well Being: The Sample Case of Relocations (Lakoy, 2009) menyatakan bahwa ada hubungan pengalaman hidup dengan kesejahteraan psikologis yang di antaranya sebagai berikut: a) Perbandingan sosial, manusia cenderung membandingkan dirinya terhadap orang lain. Bila individu membandingkan diri secara positif terhadap kelompok yang setara, maka semakin besar kemungkinan untuk mencapai kesehatan dan kepuasan hidup subjektif (Ryff & Essex, dalam Jurnal The Interpretation of Life Experience And Well Being: The Sample Case of Relocations, Lakoy, 2009); b) Perwujudan penghargaan individu dipengaruhi oleh sikap yang ditunjukan oleh orang lain terhadap dirinya, dan semakin lama individu akan memandang dirinya 25 sesuai pandangan orang lain terhadap dirinya. Umpan balik yang diterima individu dan orang-orang yang signifikan bagi dirinya pada saat mengalami pengalaman hidup tertentu merupakan suatu mekanisme evaluasi diri; c) Pemusatan psikologis konsep diri terbentuk atas masa lalu dan berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis individu. Sebelumya harus diketahui dulu sejauh mana peristiwa dan dampaknya mempengaruhi aspek utama atau aspek samping dari identitas diri individu, yang berarti bahwa terjadinya perubahan kesejahteraaan psikologis pada individu, apabila pengalamannya dengan inti konsep diri. Ryff (1995) berpendapat bahwa pengalaman dalam hidup berpotensi mempengaruhi kesejahteraan psikologis adalah pengalaman yang dipandang oleh individu tersebut sebagai pengalaman yang sangat berpengaruh pada komponen-komponen hidupnya. Pengalaman tersebut mencakup berbagai bidang kehidupan dalam periode hidup, yang masing-masing memiliki tantangan tersendiri dalam menjalaninya. Sebagai contohnya, memiliki bakat dan dikembangkan sehingga meraih prestasi bakat

Tidak ada komentar: