Pada umumnya manusia memiliki tingkat kesejahteraan psikologis
yang berbeda-beda. Ryff (1995), menyatakan bahwa faktor-faktor
sosiodemografis dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis pada diri
individu, yakni:
a. Usia
Penelitian yang dilakukan oleh Ryff (1989) ditemukan adanya
perbedaan tingkat psychological well being pada orang dari berbagai
kelompok usia (Ryff, 1989, 1991; Ryff & Keyes,1995; Ryff & Singer,
1998). Ryff membagi kelompok usia ke dalam tiga bagian yakni young
(25-29tahun), mildlife (30-64tahun), dan older (>65 tahun). Individu
dewasa akhir (older), memiliki skor tinggi pada dimensi otonomi,
hubungan positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan
penerimaan diri sementara pada dimensi pertumbuhan pribadi dan
tujuan hidup memiliki skor rendah. Individu yang berada dalam usia
dewasa madya (mildlife) memiliki skor tinggi dalam dimensi
penguasaan lingkungan, otonomi, dan hubungan positif dengan orang lain sementara pada dimensi pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, dan
penerimaan diri mendapat skor rendah. Individu yang berada dalam usia
dewasa awal (young) memiliki skor tinggi dalam dimensi pertumbuhan
pribadi, penerimaan diri, dan tujuan hidup sementara pada dimensi
hubungan positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan
otonomi memiliki skor rendah (Ryff dalam Ryan & Deci, 2001).
b. Gender
Hasil penelitian Ryff (1989) menyatakan bahwa dalam dimensi
hubungan dengan orang lain atau interpersonal dan pertumbungan
pribadi, wanita memiliki nilai signifikan yang lebih tinggi dibanding
pria karena kemampuan wanita dalam berinteraksi dengan lingkungan
lebih baik dibanding pria. Keluarga sejak kecil telah menanamkan dalam
diri anak laki-laki sebagai sosok yang agresif, kuat, kasar dan mandiri,
sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan
tergantung, tidak berdaya, serta sensitif terhadap perasaan orang lain dan
hal ini akan terbawa sampai anak beranjak dewasa. Tidak mengherankan
bahwa sifat-sifat stereotype ini akhirnya terbawa oleh individu sampai
beranjak dewasa. Sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan
sensitif terhadap perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita
terbiasa untuk membina keadaan harmoni dengan orang-orang di
sekitarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki
psychological well being yang tinggi dalam dimensi hubungan positif karena wanita dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang
lain (Papalia & Feldman, 2008).
c. Status Sosial Ekonomi
Ryff mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan
dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan
pertumbuhan diri (dalam Ryan & Decci, 2001). Perbedaan status sosial
ekonomi dalam psychological well being berkaitan erat dengan
kesejahteraan fisik maupun mental seseorang. Individu dari status sosial
rendah cenderung lebih mudah stres dibanding individu yang memiliki
status sosial yang tinggi (Adler, Marmot, McEwen, & Stewart, 1999).
d. Pendidikan
Pendidikan menjadi satu faktor yang dapat mempengaruhi psychological
well being. Semakin tinggi pendidikan maka individu tersebut akan
lebih mudah mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya
dibanding individu berpendidikan rendah. Faktor pendidikan ini juga
berkaitan erat dengan dimensi tujan hidup individu (Ryff, Magee, Kling
& Wing, 1999).
e. Budaya
Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme atau
kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well being yang
dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki nilai yang tinggi
dalam dimensi penerimaan diri dan otonomi, sedangkan budaya timur
24
yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme memiliki nilai yang tinggi
pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.
f. Dukungan sosial
Dukungan sosial adalah hal-hal yang berkaitan dengan rasa nyaman,
perhatian, penghargaan atau pertolongan yang dipersepsikan. Hal-hal
tersebut dapat didapatkan dari orang-orang yang ada di sekeliling kita.
Menurut Cobb (dalam Lakoy, 2009) dukungan sosial dapat
menimbulkan perasaan dicintai, dihargai, diperhatikan, dan sebagai
bagian dari suatu jaringan sosial, seperti organisasi masyarakat dalam
individu.
g. Evaluasi terhadap bidang-bidang tertentu
Ryff dan Essex dalam Jurnal The Interpretation of Life Experience And
Well Being: The Sample Case of Relocations (Lakoy, 2009)
menyatakan bahwa ada hubungan pengalaman hidup dengan
kesejahteraan psikologis yang di antaranya sebagai berikut: a)
Perbandingan sosial, manusia cenderung membandingkan dirinya
terhadap orang lain. Bila individu membandingkan diri secara positif
terhadap kelompok yang setara, maka semakin besar kemungkinan
untuk mencapai kesehatan dan kepuasan hidup subjektif (Ryff & Essex,
dalam Jurnal The Interpretation of Life Experience And Well Being: The
Sample Case of Relocations, Lakoy, 2009); b) Perwujudan penghargaan
individu dipengaruhi oleh sikap yang ditunjukan oleh orang lain
terhadap dirinya, dan semakin lama individu akan memandang dirinya
25
sesuai pandangan orang lain terhadap dirinya. Umpan balik yang
diterima individu dan orang-orang yang signifikan bagi dirinya pada saat
mengalami pengalaman hidup tertentu merupakan suatu mekanisme
evaluasi diri; c) Pemusatan psikologis konsep diri terbentuk atas masa
lalu dan berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis individu.
Sebelumya harus diketahui dulu sejauh mana peristiwa dan dampaknya
mempengaruhi aspek utama atau aspek samping dari identitas diri
individu, yang berarti bahwa terjadinya perubahan kesejahteraaan
psikologis pada individu, apabila pengalamannya dengan inti konsep
diri. Ryff (1995) berpendapat bahwa pengalaman dalam hidup
berpotensi mempengaruhi kesejahteraan psikologis adalah pengalaman
yang dipandang oleh individu tersebut sebagai pengalaman yang sangat
berpengaruh pada komponen-komponen hidupnya. Pengalaman tersebut
mencakup berbagai bidang kehidupan dalam periode hidup, yang
masing-masing memiliki tantangan tersendiri dalam menjalaninya.
Sebagai contohnya, memiliki bakat dan dikembangkan sehingga meraih
prestasi bakat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar