Kalleberg (Nurhasana, dkk, 2019) menyatakan bahwa ketika perusahaan
memberikan kemungkinan praktik work-life balance atau keseimbangan
kehidupan dan kerja, karyawan akan merasakan lebih banyak kepuasan kerja
secara umum. Karyawan wanita yang bekerja dituntut untuk dapat mengatur
keseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan dengan tanggung jawab
kehidupan diluar pekerjaan. Hal ini disebut keseimbangan kehidupan-kerja
atau work-life balance.
Fisher, dkk (2003) menyatakan bahwa didalam work-life balance terdapat
individual behavior dimana hal ini dapat menjadi sumber konflik dan sumber
energi bagi diri sendiri. Jika individu dapat melakukan kedua tanggung jawab
pekerjaan dan kehidupan pribadi maka individu akan merasakan kepuasan
kerja karena individu dapat bekerja dengan baik pada saat di kantor sehingga
tidak perlu terbebani dengan permasalahan kehidupan pribadi.
Hasil studi Haar (2013) menunjukkan bahwa work-life balance memainkan
peran penting dalam menjelaskan pekerjaan dan kepuasan hidup baik pada
pria maupun wanita. Hasil psikologis dari work-life balance memberikan
manfaat tambahan dimana konflik dapat merugikan dan pengayaan kerja
bermanfaat untuk kepuasan hidup. Adanya keseimbangan kehidupan dengan
pekerjaan dapat mengarah ke hasil penting seperti kepuasan kerja, kepuasan
keluarga, kinerja keluarga, kepuasan pernikahan, fungsi keluarga dan
komitmen organisasi (Greenhaus, dkk., 2003).
Kepuasan kerja merupakan perasaan seseorang secara umum terhadap
pekerjaannya (Spector, 1997). Kepuasan kerja adalah hal penting yang harus
diperhatikan oleh perusahaan. Robbins (Munandar, 2012) mengatakan,
karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya dapat meninggalkan
pekerjaan tersebut, sering mengeluh, membangkang, mencuri barang
perusahaan, menghindari tanggung jawab pekerjaan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fisher, Bulger dan Smith (2009)
menjelaskan bahwa keempat dimensi work-life balance memiliki hubungan
positif dengan kepuasan kerja. Pekerjaan meningkatkan kehidupan pribadi
(work enhancement of personal life) atau kehidupan pribadi mengganggu
pekerjaan (personal lofe interference with work) memiliki hubungan positif
dengan kepuasan kerja. Pekerjaan meningkatkan kehidupan pribadi (work
enhancement with personal life) atau kehidupan pribadi meningkatkan
pekerjaan (personal life enhancement with work) memiliki hubungan positif
dengan kepuasan kerja.
Work-life balance dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan dalam
sebuah perusahaan, atau dapat dikatakan bahwa work-life balance membantu
menghasilkan kepuasan kerja. Kepuasan kerja adalah hasil positive dari
terciptanya work-life balance (Agha, dkk, 2017). Apabila work-life balance
karyawan dalam sebuah perusahaan tinggi maka kepuasan kerja karyawan
akan meningkat. Pernyataan ini didukung oleh penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Ganapathi (2016) menunjukkan pengaruh work-life balance
terhadap kepuasan kerja sebesar 42,2%.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Nurhasanah, dkk pada tahun 2019
mengenai The effect of work-life balance on job satisfaction and female
employee performance in commercial bank in Kendari City menghasilkan ada
hubungan signifikan positif antara work-life balance dan kepuasan kerja. Maka
dari itu dapat disimpulkan semakin baik work-life balance seseorang, semakin
tinggi kepuasan kerja yang dirasakan karyawan.
Selasa, 28 September 2021
Hubungan Work-life balance dan Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar