Karyawan dipandang sebagai sumber daya yang sangat penting dan
perlu mendapatkan perhatian khusus, karena karyawan adalah salah satu
penunjang suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. As’ad
(2002), menjelaskan bahwa berhasil tidaknya suatu organisasi dalam
mencapai suatu tujuan serta efesiensi kerja tergantung pada karyawan yang
melakukan pekerjaan. Kepuasan kerja merupakan hal yang penting bagi
organisasi dalam menciptakan kelangsungan hidup suatu organisasi.
Tujuan organisasi tidak akan tercapai apabila tidak didukung oleh
kepuasan kerja para karyawan. Kepuasan kerja dalam bekerja sangat
berpengaruh terhadap kinerja dan produktifitas perusahaan. Oleh karena
itu perusahaan harus menumbuhkan kepuasan kerja pada karyawannya
agar para karyawan dapat menemukan kebermaknaan dalam bekerja dan
alasannya dalam bekerja, yang akhirnya membuat karyawan mencintai apa
yang dilakukannya.
Steger, Dik, and Duffy (2012) mengemukakan bahwa ada tiga
aspek yang dimiliki oleh individu yang memiliki kebermaknaan dalam
bekerja aspek pertama yaitu kebermaknaan pribadi, kebermaknaan pribadi
dalam konsep ini dapat dipahami melalui empat hal. Pertama, yaitu
pemahaman pribadi dengan mengenali kelebihan-kelebihan dan
kelemahan-kelemahan diri secara objektif, baik yang potensial maupun
yang sudah teraktualisasi. Hal demikian akan memperjelas gambaran
mengenai diri sendiri yang diistilahkan dengan konsep diri. Sebagaimana
yang dikemukakan Calhoun and Acocella (1995) bahwa konsep diri
merupakan gambaran mengenai diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan
tentang diri, pengharapan bagi diri dan penilaian terhadap diri sendiri.
Kedua yaitu bertindak positif, dengan cara membiasakan diri melakukan
tindakan-tindakan yang baik dan bermanfaat sehingga akan memberi
dampak positif pula terhadap perkembangan pribadi dan kehidupan sosial.
Ketiga yaitu pengakraban hubungan, dengan membina hubungan yang
akrab dengan orang lain sehingga dihayati sebagai hubungan yang dekat,
mendalam, saling percaya dan saling memahami. Terakhir yaitu,
melakukan ibadah dengan melaksanakan perintah Tuhan dan mencegah
diri dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya menurut ketentuan agama.
Ibadah yang dilaksanakan dengan khusyu’ dapat menimbulkan perasaan
tentram, mantap dan tabah. Manusia secara hakiki mampu menemukan
makna yang ada dalam dirinya dengan mendekatkan diri pada agama serta
mendapatkan ketenangan menghadapi persoalan-persoalan hidup dan
pekerjaan dengan lebih bijaksana.
Hal – hal di atas sejalan dengan faktor kepuasan kerja yang
dijelaskan oleh Munandar (2001) yang dimana di dalam diri karyawan
memiliki faktor instrinsik yang berbeda – beda seperti halnya kepribadian,
nilai – nilai hidup yang dimiliki serta usia dan pengalaman yang dimiliki
sehingga menjadi patokan bagaimana individu tersebut membawa
pengalaman serta pandangan dan pemikiran yang dimilikinya untuk di
jadikan acuan dalam bertindak untuk mendapatkan kebermaknaan bagi
dirinya sendiri dan orang yang ada di sekitarnya. Selain itu jika di tinjau
dari aspek kepuasan kerja sendiri, orang yang memiliki kebermaknaan
pribadi dapat dikatakan sebagai karyawan yang memiliki potensi untuk
maju dan berkembang pesat. Hal ini dikarenakan karyawan sudah dapat
memandang segala sesuatu dalam dua sisi secara harmonis. Mungkin
sebagian besar karyawan lain akan sangat termotivasi jika mendapatkan
gaji yang besar, namun sangat sedikit karyawan menyadari bahwa gaji
yang besar akan datang jika karyawan tersebut memiliki performa kerja
yang bagus. Darimana datangnya performa kerja yang bagus, jika
karyawan tesebut tidak mengetahui apa kekurangan dan kelebihan yang
ada pada dirinya, padahal dengan mengetahui kekurangan dan kelebihan
tersebut karyawan dapat membangun konsep dirinya dan menjadi pribadi
yang dapat bertindak positif. Setelah memiliki konsep diri yang baik,
semua karyawan juga harus membangun hubungan yang baik antar
karyawan yang lain, karena dengan memiliki konsep diri yang baik
tentunya akan lebih mudah menjalin hubungan yang akrab dengan rekan
kerja, hal ini dikarenakan rekan kerja bukan di anggap sebagai saingan
melainkan hubungan yang saling menguntungkan yang dimana dapat
saling menguatkan, memberi saran atau bahkan tempat mencurahkan
perasaan mengenai beban pekerjaan dan hal lainnya. Lalu setelah
menemukan konsep diri dan rekan kerja yang baik, karyawan seharusnya
tidak lupa untuk senantiasa beribadah, beribadah mungkin akan menjadi
jalan untuk karyawan menemukan kebermaknaan dalam pekerjaan yang
dilakukan, karena selalu bersyukur dan merasa puas dengan apa yang
sudah dimiliki.
Aspek yang kedua adalah makna yang dibuat melalui bekerja,
sebenarnya pekerjaan merupakan sarana yang dapat memberikan
kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan kebermaknaan dalam
bekerja itu sendiri. Kebermaknaan dalam bekerja bukan terletak pada
pekerjaan, melainkan sikap dan cara kerja yang mencerminkan
keterlibatan pribadi pada pekerjaan. Frankl (2004) mengatakan bahwa
yang terpenting dalam aktivitas kerja bukan lingkup atau luasnya
pekerjaan, melainkan bagaimana seseorang bekerja sehingga orang
tersebut mampu mengisi penuh lingkaran aktivitasnya.
Hal ini sejalan dengan aspek – aspek yang ada dikepuasan kerja,
yang dimana Spector (1997) membaginya menjadi sembilan aspek yang
saling menunjang dan paling diinginkan oleh karyawan untuk tersedia di
perusahaan tempatnya bekerja. Pada awalnya karyawan mungkin berpikir
faktor finansial dan kenaikan jabatan adalah hal utama, namun saat semua
sudah pernah dirasakan, maka hanya dengan menemukan kebermaknaan
dalam bekerjalah yang membuat seorang karyawan tersebut dapat
bertahan. Walaupun begitu, pada kenyataannya setiap karyawan pasti
menginginkan hubungan timbal balik yang sepadan dengan apa yang telah
dikerjakannya. Perusahaan yang memahami kondisi ini mungkin akan
menyediakan fasilitas lain untuk menjaga loyalitas karyawannya. Itulah
mengapa di aspek kepuasan kerja terdapat aspek imbalan yang bersifat non
materil, karena terkadang bukan hadiah yang bersifat materil yang di
inginkan oleh karyawan. Karyawan mungkin akan merasa lebih senang
dan di hargai jika pekerjaannya mendapat pujian atau sanjungan dari
atasannya. Selain itu mungkin yang di butuhkan karyawan tersebut adalah
imbalan berupa sebuah seminar yang sudah lama ingin di ikutinya, yang
mungkin dengan seminar itu dapat meningkatkan kemampuan dan
keahliannya. Jadi kepuasan kerja itu bukanlah hal yang selalu berhubungan
dengan materil, karena yang bersifat materil akan selalu di rasa kurang jika
tidak di imbangi dengan pencarian makna dari pekerjaan itu sendiri.
Aspek terakhir dari kebermaknaan dalam bekerja yaitu motivasi
kebaikan yang lebih besar, dimana seorang karyawan memiliki keinginan
untuk menjadi orang yang dapat menularkan pemikiran – pemikirin positif
bagi dirinya dan orang sekitarnya sehingga mampu memotivasi
lingkungannya untuk bekerja, berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan
penting lainnya secara bermakna, hingga akhirnya akan menimbulkan
kebahagiaan dan kepuasan dalam menjalani pekerjaan yang ditekuni.
Selain itu pada aspek ini biasanya karyawan tersebut sudah memiliki
kepuasan kerja dan aktualisasi diri yang baik sehingga karyawan tersebut
mampu meningkatkan motivasi karyawan lainnya dalam bekerja, membuat
karyawan lain mengerti akan kebermaknaan dalam bekerja yang tidak lagi
bersifat transaksional, namun benar-benar tulus karena telah
menemukan kebermaknaan dalam bekerja di setiap pekerjaannya.
Karyawan yang sudah memiliki kepuasan kerja dan aktualisasi diri yang
baik juga akan mampu menanggung semua beban seberat apa pun dalam
bekerja. Karyawan yang memiliki semangat seperti ini, akan mampu
membuat perusahaan bangkit di tengah tantangan sehebat apa pun.
Seperti pada penjelasan di atas, tentunya seorang karyawan yang
dapat menularkan hal – hal yang positif adalah karyawan yang memiliki
pengaruh besar untuk menuju kebaikan itu sendiri. Hal yang harus di ingat
adalah untuk menuju kebaikan itu pastinya karyawan itu sendiri juga harus
menjadi individu yang baik. Individu yang baik di sini dapat dikatakan
dengan individu yang sudah mengenl dirinya secara mendalam serta
mengetahui eksistensi dirinya. Karyawan seperti ini bukan lagi orang –
orang yang bertanya seberapa besar imbalan yang akan di dapat tetapi
sejauhmana kontribusi yang akan diberikan untuk kemajuan perusahaan.
Jika sudah mencapai pemikiran mengenai kontribusi, tentunya karyawan
ini akan berusaha untuk membangkitkan semangat rekan kerjanya untuk
dapat mencapai atau melebihi target yang telah di tetapkan. Jika sudah ada
kesamaan dalam pandangan visi dan misi, tentunya target akan lebih
mudah untuk di raih dan kepuasan kerja akan lebih mudah di dapatkan.
Hal ini di karenakan semua karyawan merasakan adanya kelekatan dengan
pekerjaan yang dilakukan, komunikasi dengan rekan kerja maupun atasan
berjalan dengan baik, serta kondisi pekerjaan bukanlah suatu beban
melainkan menjadi suatu hal yang menyenangkan dan tantangan yang
menarik untuk segera di selesaikan
Selasa, 28 September 2021
Hubungan Antara Kebermaknaan dalam Bekerja dan Kepuasan Kerja Karyawan (skripsi dan tesis)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar