Steger, Dik, and Duffy (2012) mengemukakan bahwa ada tiga aspek
kebermaknaan dalam bekerja, yaitu: a. Kebermaknaan Pribadi
Pengalaman subjektif yang bermakna yang telah dilakukan seseorang
dalam kegiatannya. Maksudnya yaitu dimana individu telah banyak melalui
asam garam dalam pekerjaanya, sehingga dalam bekerja individu tersebut
membawa pengalaman serta pandangan dan pemikirannya untuk di jadikan
acuan dalam bertindak untuk mendapatkan kebermaknaan bagi dirinya sendiri
dan orang yang ada di sekitarnya.
b. Makna yang Dibuat Melalui Bekerja
Ketika seseorang sepenuhnya dapat menghubungkan kebermaknaan yang
ada di dalam dirinya ke dalam pekerjaannya untuk kebermaknaan hidupnya
maka orang tersebut dapat dikatakan mendapatkan kebermaknaan dalam
bekerja melalui rasa aman, bahagia, dan menyenangkan yang didapatkan oleh
pekerjaan yang dilakukannya. Maka dari itu kebermaknaan dalam bekerja bagi
individu seperti ini menjadi lebih luas cakupannya, bukan hanya sekedar
mengejar kebutuhan materi namun kepada kebutuhan aktualisasi dirinya
sendiri.
c. Motivasi Kebaikan yang Lebih Besar
Mencerminkan ide – ide bahwa bekerja itu akan lebih bermakna jika bisa
membawa dampak positif bagi orang lain. Individu yang memiliki
kebermaknaan dalam bekerja akan selalu menyumbangkan energi positif bagi
lingkungannya, karena individu ini cenderung memberikan semangat, ide – ide
baru, dan motivasi bagi lingkungannya. Sehingga dikala adanya naik turun
dalam perkembangan perusahaan individu ini akan dapat mempengaruhi
lingkungan kerjanya untuk bersikap tenang, tidak berputus asa dan pantang
menyerah.
Sementara itu, Morin (2006) membagi kebermaknaan dalam bekerja ke dalam
tiga aspek. Aspek - aspek tersebut adalah:
1. Signifikansi kelekatan individu untuk bekerja.
Aspek ini berhubungan dengan representasi dan nilai-nilai atribut individu
untuk pekerjaan yang dilakukannya. Maksudnya yaitu dimana individu sudah
memahami makna yang ada didalam pekerjaannya. Hal ini didapatkan
individu dari hasil kepuasan kerja yang dimana individu tersebut sudah paham
betul akan apa yang dikerjakan dan menjadi tanggung jawabnya.
2. Orientasi Individu.
Aspek ini berhubungan dengan pengenalan diri, melihat, meninjau dan
mengenal diri sendiri, mengenal siapa diri dan keberadaan/eksistensi diri.
Maksudnya yaitu dimana individu dapat mengetahui sejauhmana kemampuan
yang dimilikinya karena individu yang memiliki kebermaknaan dalam bekerja
yang baik tentu sudah paham betul tentang kekurangan dan kelebihan yang
ada pada dirinya sehingga individu tersebut bukan hanya dapat
mengembangkan kemampuan yang dimiliki namun juga jeli untuk
mengembangkan kemampuan orang – orang yang ada di lingkungannya.
3. Koherensi Individu dan Pekerjaan.
Aspek ini merupakan suatu hubungan timbal balik antara individu dengan
apa yang dikerjakannya. Jika individu memiliki keterikatan dengan pekerjaan
yang dilakukan maka otomatis individu tersebut akan merasa terlibat dengan
pekerjaan dan perusahannya. Individu mencintai apa yang dikerjakan dan
merasa bersemangat untuk datang bekerja.
Seperti penjelasan di atas, peneliti menggunakan aspek Steger, Dik, and
Duffy (2012), yang dimana menurut Steger, Dik, and Duffy (2012) aspek – aspek
kebermaknaan dalam bekerja terbagi menjadi tiga aspek. Aspek – aspek ini
dijadikan sebagai indikator dalam penelitian yang nantinya akan digunakan dalam
pembuatan skala kebermaknaan dalam bekerja
Selasa, 28 September 2021
Aspek – aspek Kebermaknaan dalam bekerja(skripsi dan tesis)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar