Selasa, 28 September 2021

Pengertian Kebermaknaan dalam Bekerja (skripsi dan tesis)


Kebermaknaan dalam bekerja berhubungan erat dengan kebermaknaan
hidup. Bahkan adanya kebermaknaan dalam bekerja merupakan hasil dari
pengembangan dari teori kebermaknaan dalam hidup. Tidak sedikit orang
menjalani hidup dengan tanpa makna. Manusia mengalami hidup sebagai sebuah
kesia-siaan. Bahkan diri sendiri dalam ukuran tertentu mungkin pernah (atau
akan) mengalami kekosongan hidup. Penderitaan manusia yang paling dalam
adalah hidup yang tidak bermakna.
Victor Frankl menyebut fenomena penderitaan batin yang disebabkan oleh
ketiadaan makna hidup ini sebagai kehampaan eksistensial. Salah satu wujud dari
kehampaan eksistensial adalah rasa bosan secara mendasar, yakni situasi
ketiadaan makna dari apa yang dilakukan. Kehampaan eksistensial juga muncul
dalam bentuk terselubung berupa pencarian kekuasaan dan kekayaan. Kegagalan
menemukan makna hidup dikompensasikan ke dalam dorongan meraih kuasa dan
harta. Secara tidak sadar manusia mengalihkan penderitaan batin akibat
ketidakbermaknaan hidup ke dalam perjuangan diri meraih kekuasaan, kekayaan
atau mencari kesenangan. (Triyono, 2010).
Keluhan kekosongan hidup bahkan tidak jarang diungkapkan oleh individu
yang mengalami kesuksesan dalam karier dan keuangan. Permasalahan
kebermaknaan dalam hidup lalu menjadi akar adanya teori kebermaknaan dalam
bekerja. Hal ini juga di dukung dengan sejarah pertama kali manajemen ilmiah
atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan, dibahas pada sekitar tahun
1900an oleh Frederick Taylor. Teori manajemen ilmiah yang dicetuskan Taylor
membuat banyak pekerja merasa frustrasi dikarenakan adanya otomatisasi pola
kerja yang cenderung meminggirkan aktivitas pikiran dan perasaan. Para pekerja
harus mengikuti semua peraturan yang ada, diperlakukan seperti mesin agar dapat
meningkatkan produktivitas dalam organisasi. Selain itu, teori Taylor ini
menimbulkan rasa takut bagi para pekerja karena para pekerja beranggapan bahwa
pekerja yang bekerja lebih keras atau lebih cepat akan cepat menghabiskan
pekerjaan apapun yang tersedia dan akan berakibat pemberhentian pekerja serta
mereduksi manusia.
Berdasarkan teori manajemen dari Taylor tersebut, terciptalah penelitian
mengenai kebermaknaan dalam bekerja yang salah satunya dikembangkan oleh
Steger, Dik, and Duffy (2012). Kebermaknaan dalam bekerja (Meaningful Work)
menurut Steger, Dik, and Duffy (2012) tidak hanya sebagai pekerjaan apapun
yang bermakna bagi seseorang, tetapi sebagai pekerjaan yang bersifat signifikan
dan positif dalam valensi (kebermaknaan). Dalam hal ini pengalaman yang
signifikan terjadi ketika seorang individu mampu mencerminkan tentang arti
pekerjaannya berdasarkan nilai-nilai moralnya dan tujuan hidup dan bukan ketika
individu mendapatkan makna tersebut berdasarkan warisan orang yang
sebelumnya.
Sejalan dengan definisi kebermaknaan dalam bekerja menurut Steger, Dik,
and Duffy (2012), dalam pandangan Islam bekerja akan lebih bermakna jika
dalam diri individu tersebut meniatkan apapun yang dikerjakan adalah sematamata ibadah yang mengharapkan keridhoan Allah SWT. Pernyataan ini diperkuat
dengan Al-Qur’an surah Adz Dzaariyaat: 56 yang berbunyi “Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Pada
intinya, arti hidup dalam Islam ialah ibadah. Keberadaan individu di dunia ini
tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah yang dimaksud
tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puasa, zakat,
dan haji saja, tetapi ibadah dalam setiap aspek kehidupan termasuk bekerja.
Sedangkan Arnold, Turner, Barling, Kelloway, and McKee (2007),
mendefinisikan kebermaknaan dalam bekerja sebagai menemukan tujuan dalam
bekerja, merupakan hal yang lebih besar dalam pekerjaan daripada hasil ekstrinsik
dari pekerjaan tersebut. Sementara itu pengertian kebermaknaan dalam bekerja
menurut May, Gilson, and Harter (2004) mengacu pada tujuan kerja maupun
tujuan lainnya yang menjadi penilai dari standar cita – cita yang terdapat dalam
diri individu yang bersangkutan.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan
bahwa, kebermaknaan dalam bekerja merupakan sebuah tujuan maupun cita – cita
yang dibawa oleh seseorang ke dalam lingkungan pekerjaannya, yang dimana
dengan adanya kebermaknaan dalam bekerja orang tersebut lebih memahami
makna dari pekerjaan yang dilakukan bukan hanya dari segi materil namun lebih
mengarah kepada aktualisasi dirinya

Tidak ada komentar: