Menurut pendapat Belkaoui (1989) dalam Suartana (2010),
slack atau senjangan adalah kecenderungan dari organisasi atau
individu untuk tidak mengoptimalkan sumber daya yang tersedia dan
kecenderungan untuk tidak melakukan efisiensi. Senjangan anggaran
merupakan selisih antara jumlah yang dianggarkan dengan
kemampuan atau kebutuhan riil yang dimiliki pengguna anggaran
(Mahmudi, 2011). Senjangan anggaran merupakan permasalahan
umum yang sudah sering atau bahkan pasti terjadi dalam
penganggaran. Meskipun senjangan anggaran tidak mungkin
dihilangkan dalam proses penyusunan anggaran, harus tetap dilakukan
upaya untuk mengurangi besarnya senjangan anggaran tersebut karena senjangan anggaran yang terlalu tinggi akan berdampak pada kinerja
organisasi yang sudah ditetapkan.
Slack anggaran adalah perbedaan antara anggaran yang
dinyatakan dengan estimasi anggaran terbaik yang secara jujur dapat
diprediksikan. Manager menciptakan slack dengan mengestimasikan
pendapatan lebih rendah dan biaya lebih tinggi (Suartana, 2010).
Armaeni (2012:36) mengemukakan bahwa dalam keadaan terjadinya
budgetary slack bawahan cenderung mengajukan anggaran dengan
merendahkan pendapatan dan menaikkan biaya dari estimasi terbaik
yang diajukan, sehingga target akan mudah dicapai. Ada tidaknya
slack dalam anggaran organisasi sektor publik hanya diketahui oleh
pihak-pihak yang ikut dalam pembuatan anggaran tersebut.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong manager melakukan
budgetary slack (Apriyandi,2011) yaitu :
a. Seringnya atasan atau managemen tingkat atas mengubah atau
memotong anggaran yang diusulkan tanpa mendiskusikan dengan
bawahan. Untuk mengantisipasi hal tersebut biasanya manager atau
bawahan melakukan budgetary slack.
b. Adanya ketidakpastian pasar yang menyebabkan perkiraan volume
tidak tepat. Untuk mengantisipasi hal tersebut manager cenderung
menggunakan budgetary slack.
Hermanto (2003) dalam Falikhatun (2007:2) menyebutkan tiga
alasan utama seorang manager melakukan budgetary slack, yaitu : a. Orang-orang percaya bahwa hasil pekerjaan mereka akan terlihat
bagus dimata atasan jika mereka dapat mencapai anggarannya.
b. Budgetary slack digunakan untuk mengatasi kondisi
ketidakpastian, jika tidak ada kejadian yang tidak terduga, yang
terjadi manager tersebut dapat melampaui atau mencapai
anggarannya.
c. Rencana anggaran selalu dipotong dalam proses pengalokasian
sumber daya.
Selain itu, Apriyandi (2011:26) menyebutkan empat kondisi
penting yang dapat menyebabkan terjadinya Budgetary slack yaitu:
a. Terdapat informasi asimetri antara managemen tingkat bawah
dengan atasan.
b. Kinerja manager yang tidak pasti.
c. Manager memiliki kepentingan pribadi.
d. Adanya konflik kepentingan antara managemen tingkat bawah
dengan atasan.
Budgetary slack dapat diukur menggunakan beberapa indikator.
Dunk (1993) dalam Riansah (2013:70) menyebutkan indikator
pengukuran budgetary slack yaitu pengaruh anggaran dalam motivasi
produktivitas, pencapaian anggaran dalam pelaksanaan kerja,
pengawasan dalam penggunaan anggaran, tanggungjawab anggaran,
pencapaian target dan realisasi anggaran.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa budgetary slack
merupakan perbedaan antara anggaran yang direncanakan dengan
anggaran yang sesungguhnya dibutuhkan organisasi. Budgetary slack
sengaja dilakukan untuk kepentingan pribadi penyusun anggaran
dengan mempertinggi biaya dan memperendah pendapatan dengan
tujuan supaya target anggaran dapat lebih mudah untuk dicapai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar