Perishable item adalah produk/barang yang memiliki waktu siklus hidup
pendek atau dengan kata lain mudah kadaluwarsa. Produk-produk yang mudah
kadaluwarsa adalah bahan makanan dan bahan kimia yang jika dikonsumsi melewati batas waktu kadaluwarsanya akan menyebabkan efek samping yang
tidak baik bagi kesehatan. Selain berbahaya bagi tubuh, produk yang kadaluwarsa
sudah jelas merugikan perusahaan karena setelah produk tersebut memasuki masa
kadaluwarsa, produk tersebut tidak bisa dijual lagi. Bahkan permintaan pelanggan
menurun saat mendekati tanggal kadaluwarsanya (Hsu, 2012). Produk yang
kadaluwarsa harus segera dikeluarkan dari gudang penyimpanan sehingga tidak
semakin meningkatkan biaya simpan. Disisi lain, dengan adanya produk yang
kadaluwarsa menyebabkan persediaan terlalu sedikit dan dapat menyebabkan
tidak terpenuhinya permintaan sehingga menyebabkan adanya keuntungan yang
hilang (Rikardo et al., 2015).
Pengendalian persediaan untuk produk yang bersifat perishable lebih sulit,
terlebih apabila permintaan produk tersebut fluktuatif dan tidak pasti. Untuk
mengantisipasi kekurangan persediaan akibat hal tersebut, sebagian perusahaan
menyiasatinya dengan menyediakan persediaan kebutuhan bahan baku yang
banyak. Namun persedian bahan baku yang berlebih, menimbulkan biaya
kadaluwarsa yang besar dan kerugian akibat kehilangan penjualan (Suryajaya,
Octavia, & Widyadana, 2012).
Biaya-biaya yang hilang akibat bahan baku yang
kadaluwarsa ini yaitu biaya pembelian, biaya simpan, biaya transportasi, dan
biaya pemesanan dan biaya akibat kekurangan produk (kehilangan penjualan).
Produk/barang yang mudah kadaluwarsa juga akan mengalami
deterioration. Deterioration adalah penurunan nilai yang mengakibatkan
kerusakan pada suatu produk. Cepat lambatnya deterioration tergantung pada
sistem penyimpanan produk, terlebih lagi produk segar serti buah-buahan, sayuran
ataupun daging. Waktu kadaluwarsa produk menunjukan waktu terakhir kapan
produk tesebut dapat digunakan. Meskipun tingkat penurunan nilai cukup lambat,
hal tersebut tetap berpengaruh pada sistem penyimpanan dan tidak bisa di
abaikan. Klasifikasi penyimpanan produk gudang berdasarkan hal berikut (Goyal
& Giri, 2001) :
1. Keusangan/kuno/ketinggalan jaman. Hal ini merujuk pada kehilangan nilainya
akibat perkembangan teknologi atau peluncuran produk baru sehingga produk
lama menjadi tidak muktahir lagi. 2. Penurunan nilai. Hal ini merujuk pada kerusakan, cacat produksi, penguapan
dan sebagainya yang terjadi pada produk. Misalnya bahan makanan, darah,
film fotografi yang waktu penggunaan memiliki batas maksimal dan setelah itu
tidak bisa digunakan sama sekali.
3. Tidak mengalami kerusakan/penurunan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar