Manajemen dan pengendalian persediaan sangatlah penting dalam
sebuah organisasi dikarenakan jika terdapat kegagalan dalam manajemen
persediaan maka perusahaan akan mengalami kerugian yang signifikan.
Menurut Benwell (1996) dalam Siali, et al (2013) manajemen persediaan
bermula dari pemasok dan kesalahan-kesalahan dari pemasok akan
menyebabkan keterlambatan pengiriman barang yang akan berakibat pada
jumlah barang yang tinggi yang mengantri di dek penerimaan, atau lebih
buruk lagi barang-barang tersebut dapat melewati perusahaan tanpa tercatat
sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat akurasi persediaan.
Menurut Waters (2003) terdapat beberapa jenis persediaan menurut
fisiknya antara lain :
1. Bahan baku ( Raw material )
Bahan baku adalah item yang dibeli dari supplier untuk digunakan sebagai
input dalam proses produksi. Bahan baku tersebut akan dimodifikasi ataupun
diubah menjadi barang jadi. Jenis persediaan inilah yang akan menjadi fokus
dalam penelitian ini yaitu bahan baku kayu sengon yang digunakan untuk
membuat plywood.
2. Bahan pembantu ( supplies ) Bahan pembantu adalah bahan yang digunakan untuk membantu proses
produksi yang bukan merupakan bagian dari barang jadi. Sebagai contoh
untuk membuat kayu lapis diperlukan lem perekat antar veneer.
3. Persediaan barang dalam proses ( work in process )
Barang dalam proses adalah barang setengah jadi yang masih harus diproses
atau diolah lebih lanjut untuk menjadi produk akhir.
4. Persediaan barang jadi ( finished goods )
Barang jadi merupakan produk akhir yang telah selesai diolah yang siap
untuk dijual , didistribusikan maupun disimpan.
Manajemen persediaan yang efisien akan membantu organisasi dalam
menurunkan lead time persediaan dan juga perusahaan akan mendapatkan
keunggulan kompetitif seiring memperoleh kepercayaan dari konsumen
(Siali et al, 2013).
Terdapat empat fungsi persediaan menurut Heizer dan
Render (2008) yaitu :
1. Decouple atau pemisahan beberapa tahapan dari proses produksi.
Sebagai contoh , jika perusahaan mengalami fluktuasi persediaan ,
maka persediaan tambahan mungkin akan diperlukan untuk melakukan
decouple proses produksi dari pemasok.
2. Melakukan decouple perusahaan dari fluktuasi permintaan serta
menyediakan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi
pelanggan .
3. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pebelian dalam
jumlah yang besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang.
4. Melindungi dari inflasi dan kenaikan harga. Dikarenakan kemungkinan
terjadi ketidakstabilan ekonomi maka barang barang dalam persediaan
akan terhindar dari hal tersebut. .
Istilah persediaan (inventory) sendiri menunjukkan segala sesuatu atau
sumber-sumber daya perusahaan yang disimpan dengan tujuan sebagai
antisipasi pemenuhan permintaan (Handoko, 2008). Menurut Waters (2003)
terdapat tiga macam jenis persediaan yaitu bahan mentah, barang dalam
proses dan barang jadi. Persediaan bahan mentah ( raw materials )
merupakan barang-barang yang tiba dari pemasok dan disimpan sampai
diperlukan. Sedangkan persediaan barang dalam proses ( work in process )
merupakan barang-barang hasil dari proses produksi tetapi masih perlu
diproses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi. Persediaan barang yang
telah selesai diproses inilah yang disebut dengan persediaan barang jadi (
finished goods). Sumber daya- sumber daya ini sering dapat dikendalikan
secara lebih efektif melalui penggunaan berbagai sistem atau model
manajemen persediaan.
Dalam melakukan penyimpanan pastinya terdapat beberapa biaya
yang perlu dipertimbangkan (Handoko, 2008) ,yaitu :
1. Biaya penyimpanan ( holding costs / carrying costs )
Biaya penyimpanan merupakan
biaya-biaya yang terkait secara langsung
dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan persediaan biasanya
11
berkisar antara 12 sampai 40% dari harga barang. Sedangkan untuk
perusahaan manufaktur biasanya berkisar pada 25%.
2. Biaya pemesanan ( order costs )
Biaya pemesanan yaitu biaya yang berasal dari pembelian pesanan dari
supplier. Biaya pemesanan dapat meliputi biaya telephone, biaya
pengepakan, biaya pengiriman , dan lain-lain.
3. Biaya penyiapan (setup costs )
Biaya ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli tetapi diproduksi sendiri
oleh perusahaan. Biaya penyiapan ini meliputi biaya mesin, biaya persiapan
tenaga kerja langsung , biaya scheduling, biaya ekspedisi , dan lain-lain.
4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan ( shortage costs )
Biaya ini timbul jika persediaan yang ada tidak dapat mencukupi
permintaan. Biaya ini merupakan biaya yang paling sulit diperkirakan.
Shortage costs dapat meliputi biaya kehilangan penjualan, kehilangan
konsumen, biaya pemesanan khusus, terganggunya operasi , dan lain-lain.
5. Biaya Pembelian ( purchasing cost )
Biaya pembelian merupakan harga per unit atau per satuan apabila barang
dibeli dari pihak luar , atau biaya produksi per unit apabila barang
diproduksi sendiri oleh perusahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar