Dalam manajemen operasi , sering timbul pertanyaan
berapa banyak jumlah barang persediaan yang harus perusahaan
simpan, dikarenakan terdapat pandangan bahwa persediaan adalah
aset dan juga liabilitas (Koumanakos ,2008). Terlalu banyak
persediaan akan mengkonsumsi banyak tempat , menciptakan
beban finansial ,dan juga meningkatkan resiko kerusakan dan
kehilangan barang. Sebaliknya ,kekurangan persediaan akan
menandakan kinerja perusahaan yang buruk seperti forecasting
dan penjadwalan yang tidak tepat serta perhatian yang kurang
terhadap proses dan produksi sehingga manajemen akan membayar
biaya kompensasi yang lebih untuk hal tersebut.
Sebelum melihat kedalam metode pengendalian persediaan,
perlu ditinjau kembali untuk tujuan seperti apa pengendalian
persediaan itu dilakukan. Umumnya pengendalian persediaan
dilakukan untuk membuat penyimpanan persediaan seefisien
mungkin (Waters, 2003). Terdapat beberapa cara untuk mengukur
efisiensi penyimpanan persediaan yaitu jumlah persediaan yang
disimpan, biaya persediaan (holding cost) , berapa kali terdapat
shortages (kekurangan persediaan ) ketika permintaan tidak dapat
terpenuhi, perputaran barang (stock turnover) , dan sebagainya.
Yang paling umum untuk digunakan sebagai ukuran kinerja
mungkin adalah tingkat pelayanan yang diberikan kepada
konsumen. Jika persediaan disimpan dalam jumlah kecil , maka akan sulit untuk memenuhi permintaan konsumen dan akan terjadi
shortages. Sebaliknya , jika persediaan disimpan dalam jumlah
besar , kesempatan untuk terjadi shortages akan berkurang tetapi
biaya penyimpanan akan tinggi. Tujuan pengendalian persediaan
yang paling umum adalah untuk meraih atau memenuhi layanan
pelanggan dengan biaya minimum.
Menurut model EOQ , pabrik memesan beberapa barang
atau bahan baku ke pemasoknya setiap jangka waktu tertentu ,
dengan ukuran pesanan (order quantity ) yang cukup untuk
memenuhi permintaan produksi untuk periode waktu tertentu
(Fazel, 1997). Untuk model ini, jumlah pesanan ekonomis yang
16
dapat meminimalisir biaya total persediaan dapat dihitung secara
matematis. Biaya –biaya tersebut termasuk carrying cost, biaya
transportasi , dan harga pembelian dari barang tersebut. Biayabiaya tersebut dapat dibagi menjadi biaya-biaya yang lebih spesifik
, misalnya carrying cost dapat dibagi menjadi biaya penyimpanan
fisik, biaya reorder atau pemesanan kembali, dan lain-lain
(Waters,2003).
Material atau bahan baku yang dibeli oleh suatu perusahaan
kemungkinan memiliki pola konsumsi yang serupa atau bisa juga
tidak serupa. Untuk pola konsumsi yang serupa dalam biaya
pembelian maupun biaya penyimpanan maka permintaan dan pola
konsumsi dapat ditentukan sebelumnya dan digunakan sebagai
dasar untuk bernegosiasi dengan pemasok (Joshi dan Campbell ,
1991 ) dalam (Fazel , 1997). Model EOQ inilah yang paling sesuai
untuk menentukan jumlah pesanan untuk karakteristik barang yang
telah disebutkan sebelumnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar