Dalam bukunya, Daft (2006) membagi jenis persediaan menjadi tiga yaitu
barang jadi sebelum pengiriman, barang setengah jadi, dan bahan baku. Persediaan
6
barang jadi (finished-goods inventory) adalah barang – barang yang telah melewati
proses produksi tetapi belum dijual. Ini merupakan persediaan yang sangat kelihatan.
Persediaan barang jadi bersifat mahal karena perusahaan telah menginvestasikan
tenaga kerja dan biaya – biaya lainnya untuk membuat produk jadi. Persediaan barang
setengah jadi (work-in-process inventory) adalah bahan – bahan yang melewati
tingkat proses produksi tetapi belum merupakan produk jadi. Persediaan bahan baku
(raw material inventory) adalah bahan – bahan dasar untuk proses produksi
perusahaan. Persediaan ini adalah yang paling murah karena organisasi belum
menginvestasikan tenaga kerja ke dalamnya.
Menurut Heizer dan Render (2005) persediaan dapat dikelompokkan kedalam
empat jenis, yaitu persediaan bahan baku (raw material inventory), Persediaan barang
setengah jadi (working in process inventory), Persediaan MRO (maintenance / repair
/ operating inventory), dan Persediaan barang jadi (finished goods inventory).
Persediaan bahan baku (raw material inventory) adalah material yang pada umumnya
dibeli tetapi belum memasuki proses pabrikasi, sedangkan persediaan barang
setengah jadi (working in process inventory) adalah bahan baku atau komponen yang
sudah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai atau menjadi produk jadi.
Persediaan MRO (maintenance / repair / operating inventory) yaitu persediaan yang
khusus diperuntukkan bagi pasokan pemeliharaan, perbaikan, dan operasi untuk
menjaga agar proses produksi tetap produktif, dan persediaan barang jadi (finished
goods inventory) adalah persediaan yang telah selesai diproses atau produk yang
sudah selesai dan menunggu pengiriman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar