Menurut Santrock (2002: 272) dukacita
(grief) adalah kelumpuhan emosional, tidak
percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa,
sedih, dan kesepian yang menyertai disaat kita
kehilangan orang yang kita cintai. Sedangkan
menurut Papalia, dkk (2008: 957) ialah
kehilangan, karena kematian seseorang yang
dirasakan dekat dengan yang sedang berduka
dan proses penyesuaian diri kepada kehilangan.
Glick, dkk (dalam Lemme, 1995: 201)
membagi tahapan grief menjadi tiga tahap, yaitu:
a. Tahap inisial respon, Tahap pertama ini
dimulai ketika peristiwa kematian terjadi
dan selama masa pemakaman dan ritualritual lain dalam melepas kematian orang
yang disayangi. Reaksi awal terhadap
kematian orang yang disayangi pada tahap
ini meliputi shock atau kaget dan
mengalami perasaan tidak percaya.
Seseorang yang ditinggalakan akan merasa
mati rasa, bingung, merasa kosong, hampa,
dan mengalami disorientasi atau tidak
dapat menentukan arah.
b. Tahap intermediate, Tahapan ini adalah
lanjutan dari beberapa kondisi pada tahap
sebelumnya dan timbul beberapa kondisi
baru yang merupakan lanjutan atas reaksi
kondisi sebelumnya. Kemarahan, perasaan
bersalah, kerinduan, dan perasaan kesepian
merupakan emosi-emosi yang umum
terjadi pada tahapan ini.
c. Tahap recovery, Pada tahap ini, pola tidur
dan makan sudah kembali normal dan
orang yang ditinggalkan mulai dapat
melihat masa depan dan bahkan sudah
dapat memulai hubungan yang baru. Pada
tahap ini perilaku yang muncul yaitu sudah
dapat mengakui kehilangan yang terjadi,
berusaha melalui kekacauan yang
emosional, menyesuaikan dengan
lingkungan tanpa kehadiran orang yang
telah tiada dan melepaskan ikatan dengan
orang yang telah tiada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar