Rabu, 22 April 2020

Perkembangan Kognitif Remaja (skripsi dan tesis)

Piaget (Santrock, 2007) mengatakan bahwa individu secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Piaget mengatakan bahwa ada empat tahapan yang harus dilalui individu dalam memahami dunia yaitu tahap sensomotor, tahap praoperasional, tahap operasional kongkrit, tahap operasional formal. Pada empat tahapan tersebut maka remaja termasuk ke dalam tahapan ke empat yaitu tahap operasional formal yaitu tahap di mana remaja sudah mampu bernalar secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Menurut Piaget (Santrock, 2007) remaja termotivasi untuk memahami dunianya karena hal ini merupakan bentuk adaptasi biologis. Secara aktif remaja mengkonstruksikan dunia kognitifnya sendiri dengan demikian informasi- informasi dari lingkungan tidak hanya sekedar tertuang dalam pikiran mereka. Agar remaja lebih mampu memahami dunia, remaja mengorganisasikan pengalaman- pengalaman yang mereka peroleh dan kemudian memisahkan gagasan- gagasan yang menurut mereka penting dan gagasan yang menurut mereka tidak penting yang kemudian akan digabungkan satu sama lain. Remaja juga akan mengadaptasikan pemikiran- pemikiran mereka yang melibatkan gagasan baru yang kemudian akan menambah pemahaman mereka. 
Sedangkan Vigotsky (Santrock, 2007) memiliki pandangan tersendiri mengenai perkembangan kognitif remaja. Salah satu konsep Vigotsky adalah zone of proximal development (ZPD), yang merujuk pada rentang tugas- tugas yang terlalu sulit bagi individu untuk dikuasai sendiri namun dapat dipelajari melalui bimbingan dan bantuan dari orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil. Batas bawah dari ZPD adalah level keterampilan yang mampu diraih dengan bekerja sendiri. Sementara batas atas dari ZPD adalah tingkat tangung jawab tambahan yang dapat diterima dengan bantuan instruktur yang mampu. Penekanan Vigotsky terhadap ZPD memperlihatkan keyakinannya mengenai pentingnya pengaruh sosial terhadap perkembangan kognitif. Dalam pendekatan Vigotsky, sekolah formal merupakan salah satu agen budaya yang menentukan pertumbuhan seorang remaja. Para orang tua, teman sebaya, komunitas, dan orientasi teknologi budaya juga mempengaruhi pemikiran remaja. Sikap orang tua dan kawan- kawan terhadap kompetensi intelektual mempengaruhi motivasi mereka untuk memperoleh pengetahuan. Demikian pula sikap para guru dan orang- orang dewasa lainnya di dalam komunitas tersebut. Perubahan perkembangan dalam pemprosesan informasi dipengaruhi oleh meningkatnya kapasitas dan kecepatan pemprosesan (Frye dalam Santrock, 2007). Ke dua karakteristik ini dirujuk sebagai sumber daya kognitif (cognitive resource), yang berpengaruh penting terhadap memori dan pemecahan masalah. Selama masa remaja, individu secara bertahap mengembangkan potensi untuk mengelola dan menyebarkan sumber daya kognitifnya dalam cara- cara tertentu secara terkontrol dan bertujuan (Kuhn & Franklin dalam Santrock 2007).

Tidak ada komentar: