Piaget (Santrock, 2007) mengatakan bahwa individu secara aktif membangun
pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Piaget
mengatakan bahwa ada empat tahapan yang harus dilalui individu dalam memahami
dunia yaitu tahap sensomotor, tahap praoperasional, tahap operasional kongkrit,
tahap operasional formal. Pada empat tahapan tersebut maka remaja termasuk ke
dalam tahapan ke empat yaitu tahap operasional formal yaitu tahap di mana remaja
sudah mampu bernalar secara lebih abstrak, idealis, dan logis.
Menurut Piaget (Santrock, 2007) remaja termotivasi untuk memahami
dunianya karena hal ini merupakan bentuk adaptasi biologis. Secara aktif remaja
mengkonstruksikan dunia kognitifnya sendiri dengan demikian informasi- informasi
dari lingkungan tidak hanya sekedar tertuang dalam pikiran mereka. Agar remaja
lebih mampu memahami dunia, remaja mengorganisasikan pengalaman- pengalaman
yang mereka peroleh dan kemudian memisahkan gagasan- gagasan yang menurut
mereka penting dan gagasan yang menurut mereka tidak penting yang kemudian akan
digabungkan satu sama lain. Remaja juga akan mengadaptasikan pemikiran-
pemikiran mereka yang melibatkan gagasan baru yang kemudian akan menambah
pemahaman mereka.
Sedangkan Vigotsky (Santrock, 2007) memiliki pandangan tersendiri
mengenai perkembangan kognitif remaja. Salah satu konsep Vigotsky adalah zone of
proximal development (ZPD), yang merujuk pada rentang tugas- tugas yang terlalu
sulit bagi individu untuk dikuasai sendiri namun dapat dipelajari melalui bimbingan
dan bantuan dari orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil. Batas bawah dari
ZPD adalah level keterampilan yang mampu diraih dengan bekerja sendiri. Sementara
batas atas dari ZPD adalah tingkat tangung jawab tambahan yang dapat diterima
dengan bantuan instruktur yang mampu. Penekanan Vigotsky terhadap ZPD
memperlihatkan keyakinannya mengenai pentingnya pengaruh sosial terhadap
perkembangan kognitif.
Dalam pendekatan Vigotsky, sekolah formal merupakan salah satu agen
budaya yang menentukan pertumbuhan seorang remaja. Para orang tua, teman sebaya,
komunitas, dan orientasi teknologi budaya juga mempengaruhi pemikiran remaja.
Sikap orang tua dan kawan- kawan terhadap kompetensi intelektual mempengaruhi
motivasi mereka untuk memperoleh pengetahuan. Demikian pula sikap para guru dan
orang- orang dewasa lainnya di dalam komunitas tersebut.
Perubahan perkembangan dalam pemprosesan informasi dipengaruhi oleh
meningkatnya kapasitas dan kecepatan pemprosesan (Frye dalam Santrock, 2007). Ke
dua karakteristik ini dirujuk sebagai sumber daya kognitif (cognitive resource), yang
berpengaruh penting terhadap memori dan pemecahan masalah. Selama masa remaja,
individu secara bertahap mengembangkan potensi untuk mengelola dan menyebarkan
sumber daya kognitifnya dalam cara- cara tertentu secara terkontrol dan bertujuan
(Kuhn & Franklin dalam Santrock 2007).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar