Jumat, 24 April 2020

PATOFISIOLOGI TUBERKULOSIS (skripsi dan tesis)


TB primer : Mikobakterium
Tuberkulosis (MTB) yang mengalami
inhalasi melalui saluran napas mencapai
permukaan alveoli, MTB tumbuh serta
berkembang biak dalam sitoplasma
makrofag dan membentuk sarang tuberkel
pneumonik yang disebut sarang primer atau
kompleks primer. Melalui aliran limfe MTB
mencapai kelenjar limfe hilus. Dari sarang
primer akan timbul peradangan saluran
getah bening menuju hilus (limfangitis
lokal) dan diikuti pembesaran kelenjar getah
bening hilus (limfadenitis regional). Sarang
primer ditambah limfangitis lokal ditambah
limfadenitis regional dikenal sebagai
kompleks primer.
Idea Nursing Journal Mulyadi,dkk
163
TB post primer : Infeksi MTB post
primer akan muncul beberapa bulan atau
tahun setelah terjadi infeksi primer karena
reaktivasi atau reinfeksi. Hal ini terjadi
akibat daya tahan tubuh yang lemah. Infeksi
tuberkulosis post primer dimulai dengan
sarang dini yang umumnya terdapat pada
segmen apikal lobus superior atau lobus
inferior dengan kerusakan paru yang luas
dan biasanya pada orang dewasa.
Patogenesis dan manifestasi patologi
tuberkulosis paru merupakan hasil respon
imun seluler dan reaksi hipersensitiviti tipe
lambat terhadap antigen kuman tuberkulosis,
perjalanan infeksi tuberkulosis terjadi
melalui 5 tahap.
Wallgreen membuat suatu skema fase
perjalanan dan penyebaran TB primer yang
mengikuti suatu pola tertentu yang meliputi
empat tahapan sebagai berikut :
Tahap pertama : terjadi rata-rata 3-8
minggu setelah masuknya kuman,
memberikan test tuberculin yang positif,
disertai demam dan pada fase ini terbentuk
komplek primer.
Tahap kedua : berlangasung ratarata
3 bulan (1-8 bulan) sejak pertama
kuman masuk. Pada fase ini sering
terjadi penyebaran milier atau terjadi
meningitis TB.
Tahap ketiga : terjadi rata-rata
dalam 3-7 bulan (1-12 bulan), pada fase ini
terjadi penyebaran infeksi ke pleura.
Tahap keempat : rata-rata dalam
waktu 3 tahun (1 - 6 tahun), terjadi setelah
komplek primer mereda, tahap ini
merupakan periode skeletal.
Penyebaran dan perkembangannya
tidak harus mengikuti tiap tahap, adakalanya
dengan cepat menuju tahap lanjut.

Tidak ada komentar: