Pemrograman linier (linier programming) adalah teknik pengambilan
keputusan untuk memecahkan masalah pengalokasian sumber daya yang terbatas
diantara berbagai kepentingan seoptimal mungkin. Teknik ini dikembangkan oleh
L. V. Kantorovich, seorang ahli matematik dari Rusia, pada tahun 1939.
Pemrograman linier merupakan salah satu metode dalam riset operasi yang
memungkinkan para manajer dapat mengambil keputusan dengan menggunakan
pendekatan analisis kuantitatif. Teknik ini telah diterapkan secara luas pada
berbagai persoalan dalam perusahaan, untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan penugasan karyawan, penggunaan mesin, distribusi dan
pengangkutan, penentuan kapasitas produk, maupun dalam menentukan portofolio
investasi.
Menurut Jay Heizer dan Barry Rander yang diartikan oleh Dwianoegrahwati
Setyoningsih dan Indra Almahdy (2010:658) sebuah teknik matematik yang
didesain untuk membantu para manajer operasi dalam merencanakan dan
membuat keputusan yang diperlukan untuk mengalokasikan sumber daya.
Menurut John Beigel (2009:139) linier programming is mathematically
possible to eliminate the barriers that are Linier and solve the problems of
relatively large.
Menurut Tjutju Tarliah Dimyati dan Ahmad Dimyati (2011:17)
pemrograman linier adalah perencanaan aktivitas-aktivitas untuk memperoleh
suatu hasil yang optimum, yaitu suatu hasil yang mencapai tujuan terbaik diantara
seluruh alternatif yang fisibel.
Menurut Eddy Herjanto (2008:43) mengemukakan bahwa pemrograman
Linier (linier programming) adalah teknik pengambilan keputusan untuk
memecahkan masalah mengalokasikan sumber daya yang terbatas diantara
berbagai kepentingan seoptimal mungkin.
Karena penggunaannya semakin meluas, teknik pemrograman linier pun
mengalami perkembangan. Sejak analisis dilakukan dengan cara yang sederhana
baik aljabar maupun grafis untuk kasus sederhana kini teknik ini bisa digunakan
untuk kasus yang memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dengan ratusan
bahkan ribuan variabel dengan ditemukannya metode simpleks.
Metode simpleks dikembangkan oleh George B. Dantzig pada tahun 1947, yang merupakan metode
yang paling luas dipakai dalam pemrograman linier.
Perkembangan komputer digital elektronik dengan kemampuannya untuk
melakukan kalkulasi hitungan yang jauh lebih cepat dari cara manual sangat
membantu dalam pengunaan teknik ini. Tjutju Tarliah Dimyati – Ahmad Dimyati
(2011:26) mengemukakan dalam menggunakan model pemrograman linier,
diperlukan beberapa asumsi sebagai berikut :
1. Asumsi Kesebandingan (proportionality)
1) Kontribusi setiap variabel keputusan terhadap fungsi tujuan adalah
sebanding dengan nilai variabel keputusan.
2) Kontribusi suatu variabel keputusan terhadap ruas kiri dari setiap pembatas
juga sebanding dengan nilai variabel keputusan.
2. Asumsi Penambahan (additivity)
1) Kontribusi setiap variabel keputusan terhadap fungsi tujuan bersifat tidak
bergantung pada nilai dari variabel keputusan yang lain.
2) Kontribusi suatu variabel keputusan terhadap ruas kiri dari setiap pembatas
bersifat tidak bergantung pada nilai variabel keputusan yang lain.
3. Asumsi Pembagian (divisibility)
Dalam persoalan pemrograman linier, variabel keputusan boleh diasumsikan
berupa bilangan pecahan.
4. Asumsi Kepastian (certainty)
Setiap parameter, yaitu koefisien fungsi tujuan, ruas kanan, dan koefisien
teknologis, diasumsikan dapat diketahui secara pasti. Suatu masalah pemrograman hanya dapat dirumuskan ke dalam persoalan pemrograman
linier apabila asumsi–asumsi diatas sudah terpenuhi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar