Teori keagenan pertama kali di ungkapkan oleh Jensen dan Meckling. Jensen dan
Meckling (1976) menyatakan bahwa agency problem akan terjadi bila proporsi
kepemilikian manajerial atas saham perusahaan kurang dari 100%. Kondisi tersebut
membuat keputusan-keputusan yang diambil manajer cenderung bertindak
melindungi dan memenuhi kepentingan mereka terlebih dahulu daripada memenuhi
kepentingan pemilik. Collier (2012) berpendapat bahwa teori keagenan berfokus
kepada hubungan kontraktual dalam perusahaan, antara prinsipal (pemegang
saham) dan agen (direktur dan manajer), dimana hak dan tugas mereka
dispesifikasikan berdasarkan kontrak kerja nyata. Baik prinsipal maupun agen keduanya didorong oleh kepentingan pribadi, meskipun mereka mungkin berbeda
sehubungan dengan preferensi, keyakinan dan informasi. Sedangkan menurut
Schroeder, Clark dan Cathey (2016), teori agensi didefinisikan sebagai hubungan
konsensual antara dua pihak, dimana satu pihak (agen) setuju untuk bekerja sesuai
dengan kepentingan pihak yang lainnya (prinsipal). Contoh dari teori agensi yaitu
hubungan antara pemegang saham dengan manajer. Hal ini dikarenakan pemilik
perusahaan tidak memiliki keterampilan yang cukup dalam mengelola perusahaan
sehingga mereka menunjuk manajer untuk mengelola perusahaan dengan
memberikan kepercayaan dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan
kepentingan pemegang saham.
Menurut teori keagenan dari Jensen dan Meckling (1976), permasalahan
keagenan ditandai dengan adanya perbedaan kepentingan dan informasi yang tidak
lengkap (asymetry information) di antara pemilik perusahaan (principal) dengan agen
(agent), sebagai hasilnya akan timbul apa yang dinamakan biaya keagenan (agency
cost) yang meliputi monitoring costs, bonding costs, dan residual losses. Monitoring
cost adalah biaya yang timbul dan ditanggung oleh principal untuk memonitor
perilaku agen, yaitu untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agen,
contoh biaya ini adalah biaya audit dan biaya untuk menetapkan rencana
kompensasi manajer, pembatasan anggaran, dan aturan-aturan operasi. Sementara
bonding cost adalah biaya yang ditanggung oleh agen untuk menetapkan dan
mematuhi mekanisme yang menjamin bahwa agen yang bertindak untuk
kepentingan principal, misalnya biaya yang dikeluarkan oleh manajer untuk
menyediakan laporan keuangan kepada pemegang saham. Pemegang saham
hanya akan mengijinkan bonding cost terjadi jika biaya tersebut dapat mengurangi
monitoring cost. Sedangkan residual loss timbul dari kenyataan bahwa agen
kadangkala berbeda dari tindakan yang memaksimumkan kepentingan prinsipa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar