Laba didefinisikan sebagai pendapatan dan keuntungan dikurangi beban dan
kerugian selama periode pelaporan. Menurut Wild, Subramanyam, dan Halsey (2005:
110) ada empat pertimbangan praktis dalam pengukuran laba sebagai berikut :
a. Masalah Estimasi
Pengukuran laba bergantung pada estimasi atas hasil dimasa depan. Estimasi
tersebut memerlukan alokasi pendapatan dan beban pada periode sekarang
dan masa depan. Walaupun pertimbangan para profesional yang terlatih dan
berpengalaman mencapai konsensus (variasi menjadi berkurang), pengukuran
laba tetap memerlukan pilihan-pilihan tertentu.
b. Metode Akuntansi
Standar akuntansi yang mengatur pengukuran laba merupakan hasil
pengalaman profesional, agenda badan pengatur, pengaruh sosial lainnya.
Standar mencerminkan keseimbangan antara faktor-faktor tersebut, termasuk
kompromi atas berbagai kepentingan dan pandangan pengukuran laba.
c. Insentif Pengungkapan
Idealnya, praktisi berkepentingan atas penyajian laporan keuangan secara
wajar. Namun, laporan keuangan dan pengukuran laba menanggung tekanan
kompetisi, keuangan, dan masyarakat. Insentif ini mendorong perusahaan
untuk memilih ukuran laba “yang dapat diterima” daripada laba “yang sesuai” berdasarkan lingkungan bisnis. Analisis harus mempertimbangkan insentif
tersebut dan selanjutnya mengevaluasi laba.
d. Keragaman Pengguna
Laporan keuangan merupakan laporan bertujuan umum bagi banyak pengguna
dengan kebutuhan yang beragam. Keragaman penggunaan ini
mengimplikasikan bahwa analisis harus menggunakan laba sebagai ukuran
awal profitabilitas. Selanjutnya laba disesuaikan dengan kepentingan dan
tujuan pengguna, berdasarkan informasi dalam laporan keuangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar