a) setidak-tidaknya ada kesungguhan untuk memenuhi
kebutuhan pihak lain, atau
b) memiliki karakteristik dasar yang serupa.
Dalam
melakukan perekrutan karyawan, perusahaan sering menggunakan pendekatan
kesesuaian antara individu dengan pekerjaan yang ditawarkan (Person-Job Fit).
Kristof (1996) berpendapat pendekatan person-job fit ini kurang baik dalam proses
seleksi karyawan, efektivitas organisasi tidak hanya didukung oleh kesuksesan
tugas pekerjaan karyawan tetapi perlu memperhatikan perilaku karyawan secara
luas.
Beberapa peneliti, Chatman (1989), O’ Reilly, et al. (1991) dalam Astuti
(2010) berpendapat individu dan organisasi saling tertarik manakala terdapat
kesesuaian antara satu dengan yang lain, hal ini sangat berpengaruh terhadap
organisasi dalam merekrut karyawan dan juga sikap karyawan untuk memilih
pekerjaan tersebut. Menurut Kristof (1996) dalam Mahardika (2006), person-organization fit
(P-O Fit) dapat diartikan dalam empat konsep yaitu:
1. Kesesuaian nilai (value congruence) yaitu kesesuaian antara nilai intrinsik
individu dengan organisasi.
2. Kesesuaian tujuan (goal congruence) yaitu kesesuaian antara tujuan
individu dengan organisasi dalam hal ini adalah pemimpin dan rekan
sekerja.
3. Pemenuhan kebutuhan karyawan (employee need fulfillment) yaitu
kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan karyawan dan kekuatan yang
terdapat dalam lingkungan kerja dengan sistem dan struktur organisasi.
4. Kesesuaian karakteristik kultur-kepribadian (culture personality
congruence) yaitu kesesuaian antara kepribadian (non nilai) dari setiap
individu dan iklim atau kultur organisasi.
Vianen (2000) menjelaskan konsep P-O Fit dari perspektif supplementary
fit dan complementary fit. Supplementary fit terjadi apabila individu memiliki
karakteristik (preferences dan attitudes) yang serupa dengan karakteristik yang
dimiliki oleh individu-individu lain dalam organisasi/lingkungan yang
bersangkutan. Sedangkan complementary fit terjadi apabila karakteristik yang
dimiliki oleh individu dapat ditambahkan untuk melengkapi karakteristik yang
tidak dimiliki oleh organisasi yang bersangkutan. Hal ini dapat terjadi apabila
individu tersebut memiliki skills khusus yang berguna untuk peningkatan
kesuksesan sebuah kerja tim. Perspektif person-organization fit juga dibedakan menurut French et al.,
(1982) dalam Vianen (2000) menjadi dua yaitu supplies-values fit dan demandsabilities fit.
Dari perspektif supplies-values fit, P-O Fit tercapai apabila organisasi
mampu memuaskan nilai-nilai yang dimiliki oleh individu. Jika seorang karyawan
memiliki preferensi yang tinggi terhadap pertumbuhan atau perkembangan
(growth), maka fit dapat terjadi apabila organisasi memberikan kesempatan pada
individu tersebut untuk terus berkembang. Sedangkan perspektif demands-abilities
fit memandang P-O Fit dapat tercapai apabila individu memiliki skills dan abilities
yang dibutuhkan oleh organisasi yang bersangkutan.
Menurut Bowen et al., (1991), terdapat manfaat potensial yang dapat
diperoleh dengan menerapkan person-organization fit dalam organisasi, yaitu:
1. Pekerja memiliki sikap yang baik (seperti: kepuasan kerja yang tinggi,
komitmen organisasi dan semangat kelompok).
2. Perilaku individu yang lebih baik (seperti: kinerja lebih baik dan rendahnya
turnover).
3. Memperkuat desain organisasi (seperti: dukungan rancangan kerja dan
budaya organisasi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar