Adapun ketidakpastian tugas dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara jumlah
informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dan jumlah informasi yang
telah dimiliki oleh organisasi (Galbraith dalam Kim et al 1998). Terdapat dua
dimensi dasar ketidakpastian tugas yaitu variabilitas dan analisabilitas tugas.
Dimensi pertama merujuk pada variabilitas tugas yang didefinisikan sebagai
frekuensi dari terjadinya pengecualian atas kejadian baru dan yang tidak
diharapkan atas prosedur standart yang dihadapi dalam penerapan teknologi,
dimana ketika individu banyak sekali menghadapi situasi yang tidak diharapkan
dengan tingkat kesalahan yang tinggi maka variabilitas tugas akan menjadi tinggi.
Dimensi kedua didefinisikan sebagai ketersediaan pengetahuan konkrit mengenai
aktifitas tugas dan tingkat kompleksitas dari proses pencarian dalam melakukan
tugas (Hacth 1997).
Hirst (1981) menyimpulkan bahwa ketidakpastian tugas mempengaruhi perilaku
dan kinerja manajer. Lebih lanjut dikatakan oleh Brownell dan Hirst (1986)
bahwa ketidakpastian tugas mempengaruhi kinerja manajer. Semakin tinggi
ketidakpastian tugas maka kinerja manajer akan menurun dan sebaliknya.Hal ini
menandakan bahwa semakin tidak pasti tugas seorang manajer (pimpinan
organisasi), maka semakin sulit menyusun target yang memuaskan untuk
dijadikan dasar penilaian prestasi manajer.
Penelitian yang dilakukan Kim et.al (1998) dalam David (2001) membagi
ketidakpastian tugas dalam dua dimensi, yaitu kemampuan menganalisis tugas
(task analyzability) dan variabilitas tugas (task variability). Task analyzability
adalah pengetahuan atau pemahaman yang kongkrit mengenai suatu kegiatan dan
tingkat kompleksitas proses pelaksanaan tugas. Variabilitas tugas menunjukkan
banyaknya variasi sub-tugas, yang ditimbulkan oleh perbedaan sub-tugas. Jika
setiap sub-tugas dapat dianalisis dengan mudah, maka untuk melakukan analisis
terhadap hubungan antara output dan inputnya juga akan jelas (Astuti, 2003).
Apabila suatu perusahaan memberikan ketidakpastian tugas (task uncertainty)
yang rendah dengan memberikan peraturan dan ketentuan yang jelas tentang
pelaksanaan kerja, seperti adanya pembagian tugas yang jelas, menggunakan
prosedur atau metode yang tetap, menugaskan orang yang berkompeten di
bidangnya, dan tipe pekerjaan telah ditentukan sebelumnya, maka hal ini
menyebabkan para manajer dapat bekerja dengan baik, tidak perlu melakukan
penyesuaian-penyesuaian dalam pekerjaan, mudah mengikuti prosedur, tidak
mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan karena memiliki seluruh
informasi yang dibutuhkan, dan tidak ada faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi keputusan para manajer yang bersangkutan (Syam dan Kusuma,
2001).
Selanjutnya, ketidakpastian tugas akan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan
individu tentang pemahaman cause effect (Hirst dalam Syam 2000) yang akan
mempengaruhi persepsi apakah ketidakpastian tugas itu tinggi atau rendah. Jika
pemahaman akan cause effect tentang suatu tugas tidak dijelaskan secara lengkap dan tidak beralasan, maka tugas tersebut memiliki ketidakpastian yang tinggi dan
sebaliknya.
Maka, dapat disimpulkan bahwa ketidakpastian tugas (task uncertainty):
1. Merupakan keadaan yang terjadi dengan cepat, dan tak terduga dimana
kehadirannya tidak diharapkan,
2. Ketidakpastian tugas terkait dengan pemahaman individu yang ada
diorganisasi tentang suatu kegiatan dan suatu kompleksitas proses
pelaksanaan tugas dan,
3. Ketidakpastian tugas mempengaruhi kinerja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar