Paper Healy (1985) dalam Rahmawati (2012 : 112) yang berjudul pengaruh skema bonus pada keputusan akuntansi mungkin jadi penyelidikan empiris manajemen laba yang terkenal baik. Manajer mempunyai informasi yang berlebih tentang laba bersih perusahaan sebelum manajemen laba. Healy memprediksi bahwa manajer mempunyai kesempatan mengelola laba bersih untuk memaksimalkan bonus mereka dengan program kompensasi perusahaan mereka. Hearly mempertimbangkan 2 pendekatan manajemen mengeola laba bersih : 1.Mengendalikan bermacam – macam akrual dimana akrual didefinisikan secara luas termasuk porsi item pendapatan dan biaya pada laporan laba rugi yang tidak merepresentasikan aliran kas. 2.Perubahan kebijakan akuntansi Penelitian Healy menyelidiki bahwa earning mempengaruhi adanya bonus. Manajemen laba adalah sebagai contoh motivasi kontraktual dimana insentif dari manajemen laba meningkat dari adanya karakeristik skema bonus yang kontrak antra perusahaan dengan manajer adalah suatu kumpulan dasar kompensasi manajerial. Adanya motivasi kontraktual yang lain yaitu untuk meningkatkan kontrak hutang jangka panjang yang terdiri dari suatu perjanjian untuk melindungi kreditur dari tindakan manajer dengan bunga pinjaman yang baik, adanya dividen, tambahan pinjaman atau merendahkan modal kerja atau pemegang saham. Penelitian Sweeny (1994) dalam Rahmawati (2012:114) Manajemen laba dalam konteks perjanjian hutang ditemukan secara signifikan lebih besar menggunakan perubahan akuntansi dengan menaikkan laba dari pada sampel kontrolnya. Dia juga menemukan bahwa perusahaan default cenderung untuk mengambil adopsi lebih awal standar akuntansi baru ketika laba bersih yang dilaporkan meningkat.
Motivasi lain salah satunya adalah politik. Jones (1991) dalam rahmawati (2012 : 115) menemukan bahwa sampel perusahaan secara signifikan lebih besar menurunkan laba akrual selama penyelidikan ITC. Dimana perusahaan cenderung menurunkan laba perusahaan yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang ketat. Pendapatan pajak adalah salah satu motivasi yang paling nyata dari manajemen laba. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan. Laba fiskal (book-tax differences) dapat memberikan informasi tentang laba berjalan (current earning). Logika yang mendasarinya adalah sedikitnya kebebasan yang diperbolehkan dalam pengukuran laba fiskal, menyebabkan book-tax differences memberikan informasi tentang management discretion dan proses akrual. Mills dan Newberry (2001) dan Phillips et al. (2003) berpendapat bahwa para manajer mempunyai banyak kebebasan dalam pelaporan keuangan dibanding pelaporan pajak, dan dapat memanfaatkan kebebasannya untuk menaikkan laba akuntansi dengan suatu cara tertentu tanpa menaikkan laba fiskal dalam Rachmawati (2012:115).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar