Kepuasan individu tercapai apabila kebutuhannya sesuai dengan harapan. Terpenuhinya kebutuhan akan menimbulkan perasaaan puas, menginginkan, atau mengharapkan (Yusuf dan Subekti, 2010: 90). Kiranya cukup jelas bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan yang sangat besar terhadap informasi (Yusuf dan Subekti, 2010: 90). Semua orang membutuhkan informasi, maka informasi menjadi bahan atau bahkan komoditas yang sangat unggul dalam pola kehidupan manusia, lebih-lebih di zaman sekarang yang semakin kompleks peradabanya (Yusuf dan Subekti, 2010:80).
Dikaitkan dengan lingkungan yang mendorong timbulnya kebutuhan khususnya yang berkaitan dengan seseorang yang dihadapkan dengan berbagai media penampung informasi (sumber-sumber informasi), maka ada banyak kebutuhan yang dapat dikemukakan, seperti yang diusulkan oleh Katz, Gurevitch, dan Haas (dalam Tan, 1981: 298) sebagai berikut :a.Kebutuhan KognitifKebutuhan kognitif berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan, dan pemahaman seseorang atau lingkungannya. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat seseorang untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Di samping itu, kebutuhan ini juga dapat memberi kepuasan atas hasrat keingintahuan dan penyelidikan seseorang.b.Kebutuhan AfektifKebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan estetis, hal yang dapat menyenangkan dan pengalaman-pengalaman emosional. Berbagai media baik dalam bentuk cetakan maupun dalam bentuk rekaman elektronik juga sering dijadikan alat untuk mengejar kesenangan dan hiburan.c.Kebutuhan Integrasi PersonalKebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individu. Kebutuhan-kebutuhan ini berasal dari hasrat seseorang untuk mencari harga diri.d.Kebutuhan Integrasi SosialKebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan hubungan dengan keluarga, teman, dan orang lain di dunia. Kebutuhan ini didasari oleh hasrat seseorang untuk bergabung atau berkelompok dengan orang lain.e.Kebutuhan BerkhayalKebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan dan hasrat untuk mencari hiburan atau pengalihan (diversion). (Yusuf dan Subekti, 2010: 82-83)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar