Rabu, 15 Februari 2023

Hubungan Antara Kebermaknaan dalam Bekerja dan Kepuasan Kerja Karyawan (skripsi, tesis, dan disertasi)

Karyawan dipandang sebagai sumber daya yang sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian khusus, karena karyawan adalah salah satu penunjang suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. As’ad (2002), menjelaskan bahwa berhasil tidaknya suatu organisasi dalam mencapai suatu tujuan serta efesiensi kerja tergantung pada karyawan yang melakukan pekerjaan. Kepuasan kerjamerupakan hal yang penting bagi organisasi dalam menciptakan kelangsungan hidup suatu organisasi. Tujuan organisasi tidak akan tercapai apabila tidak didukung oleh kepuasan kerja para karyawan. Kepuasan kerja dalam bekerja sangat berpengaruh terhadap kinerja dan produktifitas perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus menumbuhkan kepuasan kerjapadakaryawannyaagarpara karyawan dapatmenemukankebermaknaan dalam bekerjadan
 alasannya dalam bekerja, yang akhirnya membuat karyawan mencintai apa yang dilakukannya.Steger, Dik, and Duffy (2012) mengemukakan bahwa ada tiga aspek yang dimiliki oleh individu yang memiliki kebermaknaan dalam bekerjaaspek pertama yaitu kebermaknaan pribadi, kebermaknaan pribadi dalam konsep ini dapat dipahami melalui empat hal. Pertama, yaitu pemahaman pribadi dengan mengenali kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan diri secara objektif, baik yang potensial maupun yang sudah teraktualisasi. Hal demikian akan memperjelas gambaran mengenai diri sendiri yang diistilahkan dengan konsep diri.Sebagaimana yang dikemukakan Calhoun and Acocella (1995) bahwa konsep diri merupakan gambaran mengenai diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri, pengharapan bagi diri dan penilaian terhadap diri sendiri. Kedua yaitu bertindak positif, dengan cara membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang baik dan bermanfaat sehingga akan memberi dampak positif pula terhadap perkembangan pribadi dan kehidupan sosial. Ketiga yaitu pengakraban hubungan, dengan membina hubungan yang akrab dengan oranglain sehingga dihayati sebagai hubungan yang dekat, mendalam, saling percaya dan saling memahami. Terakhir yaitu, melakukan ibadah dengan melaksanakan perintah Tuhan dan mencegah diri dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya menurut ketentuan agama. Ibadah yang dilaksanakan dengan khusyu’ dapat menimbulkan perasaan tentram, mantap dan tabah. Manusia secara hakiki mampu menemukan
 makna yang ada dalam dirinya dengan mendekatkan diri pada agama serta mendapatkan ketenangan menghadapi persoalan-persoalan hidup dan pekerjaan dengan lebih bijaksana.Hal –hal di atas sejalan dengan faktor kepuasan kerja yang dijelaskan oleh Munandar (2001) yang dimana di dalam diri karyawan memiliki faktor instrinsik yang berbeda –beda seperti halnya kepribadian, nilai –nilai hidup yang dimiliki serta usia dan pengalaman yang dimiliki sehingga menjadi patokan bagaimanaindividu tersebut membawa pengalaman serta pandangan dan pemikiran yang dimilikinya untuk di jadikan acuan dalam bertindak untuk mendapatkan kebermaknaan bagi dirinya sendiri dan orang yang ada di sekitarnya.Selain itu jika di tinjau dari aspek kepuasan kerja sendiri, orang yang memiliki kebermaknaan pribadi dapat dikatakan sebagai karyawan yang memiliki potensi untuk maju dan berkembang pesat. Hal ini dikarenakan karyawan sudah dapat memandang segala sesuatu dalam dua sisi secara harmonis. Mungkin sebagian besar karyawan lain akan sangat termotivasi jika mendapatkan gaji yang besar, namun sangat sedikit karyawan menyadari bahwa gaji yang besar akan datang jika karyawan tersebut memiliki performa kerja yang bagus.

Tidak ada komentar: