Menurut Melitz dan Pardue (1973), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan bank dalam memberikan pinjaman atau kredit kepada masyarakat, teori ini merumuskan model penawaran dan permintaan kredit sebagai berikut :SK = g(S,ic,ib,BD)SK= Jumlah kredit yang ditawarkan S= Cadangan Bank wajib (Kententuan dari Bank Indonesia)ic= Tingkat suku bunga kreditib= biaya opurtinitas meminjam uangDB= DepositoBerdasarkan model di atas, dapat dijelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kredit dari sisi penawaran, yaitu pertama adalah tingkat cadangan wajib bank (S). Dana cadangan bank adalah dana cadangan minimum bank yang disimpan dalam bentuk giro atau rupiah yang disimpan pada Bank Indonesia. Cadangan wajib ini merupakan bagian dari DPK yang di setorkan ke Bank
Indonesia. Tingkat cadangan bank akan mempengaruhi berapa jumlah kredit yang akan disalurkan kepada nasabah, menginggat bahwa cadangan bank adalah sebagian dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah sumber dana dalam pemberian kredit. Jadi semakin tinggi cadangan yang berada pada Bank Indonesia maka penyaluran kredit juga akan semakin sedikit begitu juga dengan sebaliknya.Icdalam model tersebut adalah suku bunga kredit. Suku bunga kredit adalah suku bunga yang di bebankan oleh bank terdahap peminjam dana. Dimana semakin tinggi penyaluran kredit maka semakin tinggi pendapatan bank melalui suku bunga kredit. Bank menginginkan spread yang tinggi pada bunga kredit karena tingginya spread maka keuntungan bank akan tercapai dimana biaya marginal dari pemberian kredit lebih tinggi dari pada biaya pengimpunan dana, selain itu biaya marginal dari pemberian kredit juga diharapkan sama dengan manfaat marginal yang diperoleh oleh bank dari jumlah kredit yang ditawarkan.Faktor berikutnya adalah biaya opportunitas atau (ib). Pendapatan bank paling besar berasal dari pemberian kredit, namun bank juga mempunyai pendapatan lain dengan mengalokasikan dana untuk investasi. Investasi yang yang dilakukan bank adalah dengan pembelian Surat Berharga Bank Indonesia (SBI) atau pembelian obligasi pemerintah. Pengalokasian dana bank dalam investasi dapat mempengaruhi kredit yang disalurkan, hal ini dikarenakan bank akan menghitung opportinity costdari pengalokasian dana innvestasi atau kredit. Apabila dinilai opportinity cost pemberian kredit lebih besar karena terkendala NPL yang tinggi dan di saat bersamaan tingkat suku bunga SBI atau obligasi lebih tinggi, maka
bank akan lebih memilih pengalokasian dana yang lebih besar pada investasi SBI atau obligasi. Pemilihan obligasi dan SBI di sebabkan nilai resiko yang rendah serta tingkat keuntungan yang sudah dapat dipastikan.Faktor yang terakhir pada model ini adalah Biaya Deposito (BD). Bank tidak hanya memberikan bunga pada kredit namun juga memberikan bunga pada deposan atau orang yang menyimpan dana pada bank sebagai bentuk balas jasa atas dana yang di simpannya. Semakin tinggibunga deposito tentunya berdampak pada tingginya bunga kredit yang ditawarkan, hal ini dikarenakan biaya pengimpunan dana cukup tinggi serta spread keuntungan yang diinginkan bank untuk mendapat keuntungan. Sehingga semakin tinggi bunga deposito maka akanmempengaruhi jumlah kredit yang ditawarkan oleh perbanakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar