Minggu, 22 Mei 2022

Hubungan Inflasi dengan Penyaluran kredit (skripsi tesis dan disertasi)

Inflasi merupakan indikator terdapatnya pertumbuhan ekonomi atau dapat dikatakan sabagai tanda bergeraknya ekonomi. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan inflasi, yaitu konsumsi masyarakat yang
meningkat,berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.Inflasi juga bisa diartikan menurunnya sebuah nilai mata uang secara continue. Artinya apabila inflasi disebabkan oleh kosumsi dan berlebihmya likuiditas maka inflasi merupakan cerminan kosumsi di masyarakat yang tinggi dan membuat permintaan uang meningkat seperti kredit yang meningkat dan menimbulkan inflasi.Bagi dunia usaha , inflasi memyebabkan ketidak pastian dan spekulasi sehingga dapat menggangu perencanaan dan perncapaian target kredit perbankan. Menurut Haryati (2000), hubungan inflasi dan penyaluran kredit adalah negatif, menurut Haryanti tingginya inflasi menyebabkan naiknya suku bunga sehingga saat terjadi kenaikan suku bunga masyrakat lebih memilih saving dari pada pengambilan kredit menginggat pengambilan kredit memiliki biaya yang lebih mahal dan kurang menguntungkan, di sisi lain saat inflasi tinggi membuat resiko pengambilan kredit cukup tinggi dan keadan perekonomian cenderung tidak kondusif dalam menjalankan usaha sehingga inflasi berkorelasi negatif terhahap kredit.Sedangkan menurut Eller et al (2010, dalam Utari), hubungan negatifinflasi dan permintaan kredit dapat dilihat dari dua aspek, pertama, saat inflasi telah menyentuh batas tertentu akan berasosiasi dengan volatilitas inflasi yang secara signifikan dapat menganggu fungsi pasar keuangan dengan meningkatkan ketidakpastian. Kedua, jika suku bunga normal tingggi, akan membuat debitur memilih kredit dengan durasi yang pendek, yang pada gilirannya membatasi volume kredit yang dipinjam.

Tidak ada komentar: