Arsyad dan Eri Kusuma (2014), Awal perkembangan ekonomika industri didominasi oleh paradigma struktur-perilaku-kinerja atau paradigma SCP (structure-conduct-performance paradigm). Paradigma ini sangat berpengaruh pada masa-masa awal perkebangan ekonomika industri pada tahun 1950-an. Paradigma SCP dianggap sebagai pendekatan klasik ekonomika industri sekaligus titik tolak (starting point) dan bencmark bagi pembangunan berbagai pendekatan dalam analisis ekonomika industri. Pembangunan paradigma SCP dimotori oleh E. S. Mason pada tahun 1930 hingga 1940-an, lalu dilanjutkan oleh muridnya, J. S. Bain pada tahun 1950 hingga 1960-an (Clark, 2003). Menurut Lipczynski dalam Arsyad dan Eri Kusuma (2014), Kerangka analisis SCP mengemukakan hubungan keterkaitan antara struktur pasar dalam industri dengan perilaku dan kinerja perusahaan-perusahaan dalam industri. Secara spesifik, mengacu pada pendekatan SCP tradisional (konvensional), struktur pasar cenderung
mempengaruhi perilaku, dan pada gilirannya perilaku cenderung akan mempengaruhi kinerja dari perusahaan-perusahaan yang ada di dalam industri tersebut. Structure mengacu pada struktur pasar yang mengindikasikan kondisi persaingan yang ada di pasar. Struktur pasar menunjukkan karakteristik pasar, seperti elemen jumlah pembeli dan penjual, keadaan produk, dan hambatan untuk terjadinya kompetisi. Struktur pasar cenderung mempengaruhi perilaku perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Conduct, merupakan perilaku industri. Perilaku merupakan pola perilaku yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang ada di pasar untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pasar dalam rangka mencapai tujuan perusahaan masing-masing. Elemen perilaku mencakup penentuan harga, jenis, kuantitas produk yang diproduksi, penentuan standar proses dan kualitas produk, strategi periklanan, penelitian dan pengembangan serta berbagai bentuk praktek persaingan maupun kerjasama (kolusi) yang ada dalam industri. Perilaku diasumsikan mempengaruhi kinerja perusahaan dalam industri. Performance, merupakan kinerja perusahaan dalam industri. Kinerja mengacu pada pengukuran sejauh mana industri atau perusahaan dalam industri mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Gwin, 2000). Kinerja tercermin dari tingkat profitabilitas, efisiensi, dan pertumbuhan perusahaan dalam industri, maupun sejumlah variabel lain (Arsyad dan Eri Kusuma, 2014:63). Naylah (2010), paradigma SCP didasarkan pada beberapa hipotesis yaitu:
1.Struktur mempengaruhi perilaku Semakin rendah konsentrasi pasar maka akan semakin tinggi tingkat persaingan di pasar. Tinggi rendahnya konsentrasi pasar dapat dilihat dari hasil perhitungan rasio konsentrasi dan digolongkan berdasarkan pengklasifikasian CR menurut Gwin. 2.Perilaku mempengaruhi kinerja Semakin tinggi tingkat persaingan atau kompetisi maka akan semakin rendah market power atau semakin rendah keuntungan perusahaan yang diperoleh. Tinggi rendahnya tingkat persaingan dapat mempengaruhi suatu perusahaan untuk melakukan praktek kolusi. 3.Struktur mempengaruhi kinerja Semakin rendah konsentrasi pasar maka akan semakin rendah tingkat kolusi yang terjadi, atau semakin tinggi tingkat persaingan atau kompetisi maka akan semakin rendah market power-nya. Hasil ketiga hipotesis di atas menunjukkan struktur pasar mempengaruhi kinerja perusahaan dalam suatu industri. Menurut Ormanidhi dan Stringa dalam Arsyad dan Eri Kusuma (2014), menyatakan bahwa dalam prakteknya, penerapan analisis SCP lebih banyak dimanfaatkan untuk mengkaji hubungan antara struktur pasar dan kinerja perusahaan. Analisis mengenai hubungan antara perilaku perusahaan terhadap kinerja tidak terlalu banyak dilakukan karena kesulitan untuk mencari proksi (indikator) perilaku perusahaan yang mudah dikuantitatifkan. Ukuran kinerja dalam sebagian besar analisis industri direpresentasikan dengan ukuran
profitabilitas. Dalam hal ini, profitabilitas cenderung dikaitkan secara positif dengan kekuatan pasar (market power) yang dimiliki oleh perusahaan. Derajat kekuatan pasar yang semakin tinggi diikuti dengan kemampuan perusahaan untuk menetapkan harga di atas biaya marjinal yang semakin tinggi dan, selanjutnya, cenderung diikuti dengan tingkat profitabilitas perusahaan-perusahaan di dalam pasar yang juga semakin tinggi (Arsyad dan Eri Kusuma, 2014:70-71). Terdapat tiga pemikiran dalam paradigma SCP untuk menjelaskan hubungan antara struktur pasar dengan kinerja perusahaan, terutama menjelaskan tentang konsentrasi dan pangsa pasar sebagai variabel dari struktur pasar, yaitu: 1.Traditional Hypothesis yang menganggap bahwa konsentrasi merupakan proksi dari kekuasaan pasar (market power), konsentrasi pasar yang semakin besar menyebabkan biaya untuk melakukan kolusi menjadi rendah sehingga perusahaan dalam industri tersebut akan mendapatkan laba supernormal. Oleh karena itu, konsentrasi pasar akan berpengaruh secara positif dengan profitabilitas sebagai proksi dari kinerja. 2.Differentiation Hypothesis yang menganggap bahwa pangsa pasar merupakan hasil dari diferensiasi produk, perusahaan yang melakukan diferensiasi produk dapat meningkatkan pangsa pasarnya dan kemudian perusahaan dapat menetapkan tingkat harga yang lebih tinggi yang berarti akan mendapatkan profit yang tinggi juga. Dengan demikian akan terjadi hubungan positif antara profitabilitas sebagai proksi kinerja dengan pangsa pasar sebagai proksi dari struktur pasar.
Teori Structure-Conduct-PerformanceArsyad dan Eri Kusuma (2014), Awal perkembangan ekonomika industri didominasi oleh paradigma struktur-perilaku-kinerja atau paradigma SCP (structure-conduct-performance paradigm). Paradigma ini sangat berpengaruh pada masa-masa awal perkebangan ekonomika industri pada tahun 1950-an. Paradigma SCP dianggap sebagai pendekatan klasik ekonomika industri sekaligus titik tolak (starting point) dan bencmark bagi pembangunan berbagai pendekatan dalam analisis ekonomika industri. Pembangunan paradigma SCP dimotori oleh E. S. Mason pada tahun 1930 hingga 1940-an, lalu dilanjutkan oleh muridnya, J. S. Bain pada tahun 1950 hingga 1960-an (Clark, 2003). Menurut Lipczynski dalam Arsyad dan Eri Kusuma (2014), Kerangka analisis SCP mengemukakan hubungan keterkaitan antara struktur pasar dalam industri dengan perilaku dan kinerja perusahaan-perusahaan dalam industri. Secara spesifik, mengacu pada pendekatan SCP tradisional (konvensional), struktur pasar cenderung
20mempengaruhi perilaku, dan pada gilirannya perilaku cenderung akan mempengaruhi kinerja dari perusahaan-perusahaan yang ada di dalam industri tersebut. Structure mengacu pada struktur pasar yang mengindikasikan kondisi persaingan yang ada di pasar. Struktur pasar menunjukkan karakteristik pasar, seperti elemen jumlah pembeli dan penjual, keadaan produk, dan hambatan untuk terjadinya kompetisi. Struktur pasar cenderung mempengaruhi perilaku perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Conduct, merupakan perilaku industri. Perilaku merupakan pola perilaku yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang ada di pasar untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pasar dalam rangka mencapai tujuan perusahaan masing-masing. Elemen perilaku mencakup penentuan harga, jenis, kuantitas produk yang diproduksi, penentuan standar proses dan kualitas produk, strategi periklanan, penelitian dan pengembangan serta berbagai bentuk praktek persaingan maupun kerjasama (kolusi) yang ada dalam industri. Perilaku diasumsikan mempengaruhi kinerja perusahaan dalam industri. Performance, merupakan kinerja perusahaan dalam industri. Kinerja mengacu pada pengukuran sejauh mana industri atau perusahaan dalam industri mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Gwin, 2000). Kinerja tercermin dari tingkat profitabilitas, efisiensi, dan pertumbuhan perusahaan dalam industri, maupun sejumlah variabel lain (Arsyad dan Eri Kusuma, 2014:63). Naylah (2010), paradigma SCP didasarkan pada beberapa hipotesis yaitu:
1.Struktur mempengaruhi perilaku Semakin rendah konsentrasi pasar maka akan semakin tinggi tingkat persaingan di pasar. Tinggi rendahnya konsentrasi pasar dapat dilihat dari hasil perhitungan rasio konsentrasi dan digolongkan berdasarkan pengklasifikasian CR menurut Gwin. 2.Perilaku mempengaruhi kinerja Semakin tinggi tingkat persaingan atau kompetisi maka akan semakin rendah market power atau semakin rendah keuntungan perusahaan yang diperoleh. Tinggi rendahnya tingkat persaingan dapat mempengaruhi suatu perusahaan untuk melakukan praktek kolusi. 3.Struktur mempengaruhi kinerja Semakin rendah konsentrasi pasar maka akan semakin rendah tingkat kolusi yang terjadi, atau semakin tinggi tingkat persaingan atau kompetisi maka akan semakin rendah market power-nya. Hasil ketiga hipotesis di atas menunjukkan struktur pasar mempengaruhi kinerja perusahaan dalam suatu industri. Menurut Ormanidhi dan Stringa dalam Arsyad dan Eri Kusuma (2014), menyatakan bahwa dalam prakteknya, penerapan analisis SCP lebih banyak dimanfaatkan untuk mengkaji hubungan antara struktur pasar dan kinerja perusahaan. Analisis mengenai hubungan antara perilaku perusahaan terhadap kinerja tidak terlalu banyak dilakukan karena kesulitan untuk mencari proksi (indikator) perilaku perusahaan yang mudah dikuantitatifkan. Ukuran kinerja dalam sebagian besar analisis industri direpresentasikan dengan ukuran
profitabilitas. Dalam hal ini, profitabilitas cenderung dikaitkan secara positif dengan kekuatan pasar (market power) yang dimiliki oleh perusahaan. Derajat kekuatan pasar yang semakin tinggi diikuti dengan kemampuan perusahaan untuk menetapkan harga di atas biaya marjinal yang semakin tinggi dan, selanjutnya, cenderung diikuti dengan tingkat profitabilitas perusahaan-perusahaan di dalam pasar yang juga semakin tinggi (Arsyad dan Eri Kusuma, 2014:70-71). Terdapat tiga pemikiran dalam paradigma SCP untuk menjelaskan hubungan antara struktur pasar dengan kinerja perusahaan, terutama menjelaskan tentang konsentrasi dan pangsa pasar sebagai variabel dari struktur pasar, yaitu: 1.Traditional Hypothesis yang menganggap bahwa konsentrasi merupakan proksi dari kekuasaan pasar (market power), konsentrasi pasar yang semakin besar menyebabkan biaya untuk melakukan kolusi menjadi rendah sehingga perusahaan dalam industri tersebut akan mendapatkan laba supernormal. Oleh karena itu, konsentrasi pasar akan berpengaruh secara positif dengan profitabilitas sebagai proksi dari kinerja. 2.Differentiation Hypothesis yang menganggap bahwa pangsa pasar merupakan hasil dari diferensiasi produk, perusahaan yang melakukan diferensiasi produk dapat meningkatkan pangsa pasarnya dan kemudian perusahaan dapat menetapkan tingkat harga yang lebih tinggi yang berarti akan mendapatkan profit yang tinggi juga. Dengan demikian akan terjadi hubungan positif antara profitabilitas sebagai proksi kinerja dengan pangsa pasar sebagai proksi dari struktur pasar.
Teori Structure-Conduct-PerformanceArsyad dan Eri Kusuma (2014), Awal perkembangan ekonomika industri didominasi oleh paradigma struktur-perilaku-kinerja atau paradigma SCP (structure-conduct-performance paradigm). Paradigma ini sangat berpengaruh pada masa-masa awal perkebangan ekonomika industri pada tahun 1950-an. Paradigma SCP dianggap sebagai pendekatan klasik ekonomika industri sekaligus titik tolak (starting point) dan bencmark bagi pembangunan berbagai pendekatan dalam analisis ekonomika industri. Pembangunan paradigma SCP dimotori oleh E. S. Mason pada tahun 1930 hingga 1940-an, lalu dilanjutkan oleh muridnya, J. S. Bain pada tahun 1950 hingga 1960-an (Clark, 2003). Menurut Lipczynski dalam Arsyad dan Eri Kusuma (2014), Kerangka analisis SCP mengemukakan hubungan keterkaitan antara struktur pasar dalam industri dengan perilaku dan kinerja perusahaan-perusahaan dalam industri. Secara spesifik, mengacu pada pendekatan SCP tradisional (konvensional), struktur pasar cenderung
mempengaruhi perilaku, dan pada gilirannya perilaku cenderung akan mempengaruhi kinerja dari perusahaan-perusahaan yang ada di dalam industri tersebut. Structure mengacu pada struktur pasar yang mengindikasikan kondisi persaingan yang ada di pasar. Struktur pasar menunjukkan karakteristik pasar, seperti elemen jumlah pembeli dan penjual, keadaan produk, dan hambatan untuk terjadinya kompetisi. Struktur pasar cenderung mempengaruhi perilaku perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Conduct, merupakan perilaku industri. Perilaku merupakan pola perilaku yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang ada di pasar untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pasar dalam rangka mencapai tujuan perusahaan masing-masing. Elemen perilaku mencakup penentuan harga, jenis, kuantitas produk yang diproduksi, penentuan standar proses dan kualitas produk, strategi periklanan, penelitian dan pengembangan serta berbagai bentuk praktek persaingan maupun kerjasama (kolusi) yang ada dalam industri. Perilaku diasumsikan mempengaruhi kinerja perusahaan dalam industri. Performance, merupakan kinerja perusahaan dalam industri. Kinerja mengacu pada pengukuran sejauh mana industri atau perusahaan dalam industri mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Gwin, 2000). Kinerja tercermin dari tingkat profitabilitas, efisiensi, dan pertumbuhan perusahaan dalam industri, maupun sejumlah variabel lain (Arsyad dan Eri Kusuma, 2014:63). Naylah (2010), paradigma SCP didasarkan pada beberapa hipotesis yaitu:
1.Struktur mempengaruhi perilaku Semakin rendah konsentrasi pasar maka akan semakin tinggi tingkat persaingan di pasar. Tinggi rendahnya konsentrasi pasar dapat dilihat dari hasil perhitungan rasio konsentrasi dan digolongkan berdasarkan pengklasifikasian CR menurut Gwin. 2.Perilaku mempengaruhi kinerja Semakin tinggi tingkat persaingan atau kompetisi maka akan semakin rendah market power atau semakin rendah keuntungan perusahaan yang diperoleh. Tinggi rendahnya tingkat persaingan dapat mempengaruhi suatu perusahaan untuk melakukan praktek kolusi. 3.Struktur mempengaruhi kinerja Semakin rendah konsentrasi pasar maka akan semakin rendah tingkat kolusi yang terjadi, atau semakin tinggi tingkat persaingan atau kompetisi maka akan semakin rendah market power-nya. Hasil ketiga hipotesis di atas menunjukkan struktur pasar mempengaruhi kinerja perusahaan dalam suatu industri. Menurut Ormanidhi dan Stringa dalam Arsyad dan Eri Kusuma (2014), menyatakan bahwa dalam prakteknya, penerapan analisis SCP lebih banyak dimanfaatkan untuk mengkaji hubungan antara struktur pasar dan kinerja perusahaan. Analisis mengenai hubungan antara perilaku perusahaan terhadap kinerja tidak terlalu banyak dilakukan karena kesulitan untuk mencari proksi (indikator) perilaku perusahaan yang mudah dikuantitatifkan. Ukuran kinerja dalam sebagian besar analisis industri direpresentasikan dengan ukuran
profitabilitas. Dalam hal ini, profitabilitas cenderung dikaitkan secara positif dengan kekuatan pasar (market power) yang dimiliki oleh perusahaan. Derajat kekuatan pasar yang semakin tinggi diikuti dengan kemampuan perusahaan untuk menetapkan harga di atas biaya marjinal yang semakin tinggi dan, selanjutnya, cenderung diikuti dengan tingkat profitabilitas perusahaan-perusahaan di dalam pasar yang juga semakin tinggi (Arsyad dan Eri Kusuma, 2014:70-71). Terdapat tiga pemikiran dalam paradigma SCP untuk menjelaskan hubungan antara struktur pasar dengan kinerja perusahaan, terutama menjelaskan tentang konsentrasi dan pangsa pasar sebagai variabel dari struktur pasar, yaitu: 1.Traditional Hypothesis yang menganggap bahwa konsentrasi merupakan proksi dari kekuasaan pasar (market power), konsentrasi pasar yang semakin besar menyebabkan biaya untuk melakukan kolusi menjadi rendah sehingga perusahaan dalam industri tersebut akan mendapatkan laba supernormal. Oleh karena itu, konsentrasi pasar akan berpengaruh secara positif dengan profitabilitas sebagai proksi dari kinerja. 2.Differentiation Hypothesis yang menganggap bahwa pangsa pasar merupakan hasil dari diferensiasi produk, perusahaan yang melakukan diferensiasi produk dapat meningkatkan pangsa pasarnya dan kemudian perusahaan dapat menetapkan tingkat harga yang lebih tinggi yang berarti akan mendapatkan profit yang tinggi juga. Dengan demikian akan terjadi hubungan positif antara profitabilitas sebagai proksi kinerja dengan pangsa pasar sebagai proksi dari struktur pasar.
3.Efficient Structure Hypothesis yang menganggap bahwa pangsa pasar dan konsentrasi bukan merupakan proksi dari kekuasaan pasar tetapi merupakan proksi dari efisiensi perusahaan, sehingga konsentrasi tinggi tidak identik dengan kolusi. Dimana perusahaan yang lebih efisien akan bisa mendapatkan pangsa pasar yang besar, sehingga industri tersebut juga akan cenderung lebih terkonsentrasi. Berdasarkan pemikiran ini maka hubungan konsentrasi dengan profitabilitas merupakan hubungan yang tidak benar-benar terjadi, mengingat konsentrasi hanya merupakan agregat pangsa pasar yang dihasilkan dari perilaku efisiensi, dan perusahaan yang lebih efisien akan dapat memperoleh profit lebih besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar