Untuk mengukur stres kerja adalah indikator yang digunakan oleh Patricia (2006) dimana indikatornya antara lain: Fisiologis, Kognitif, Subyektif, Perilaku, dan Keorganisasian.
- Fisiologis, yaitu kadar gula dalam darah meningkat, tekanan darah naik, biji matamembesar, denyut jantung menjadi cepat, mulut terasa kering.
- Kognitif, yaitu individu tidak mampu untuk mengambil keputusan yang baik, sangat pekaterhadap kritik, tidak dapat berkonsentrasi dengan baik.
- Subyektif atau emosi (perasaan yang hanya dapat dirasakan oleh individu, yaitu perasaangelisah dan ketakutan, agresif, lesu, muram, merasa lelah, merasa sangat kecewa,kehilangan kesabaran, merasa diri rendah dan merasa terpencil
- Perilaku (perilaku yang ditampilkan akibat stres), yaitu mudah terkena kecelakaa,penyalahgunaan obat, emosi yang gampang meledak, makan berlebihan, merokok atau minum secara berlebihan
- Keorganisasian, yaitu suka membolos pada jam kerja, prosuktivitas rendah, mengasingkandiri dari teman kerja, selalu merasa tidak puas dan keterikatan serta loyalitas terhadap organisasi menurunaspek-aspek stres kerja ini dipakai dalam penelitian karena cukup representatif untuk menggambarkan stres kerja yang dialami oleh para karyawan.
Pengukuran stress kerja yang lain adalah Beehr dan Newman (dalam Rice, 1999). Pengukuran ini berdasarkan konstruk dari gejala–gejala yang ditunjukan seseorang saat mengalami stres kerja yaitu terdapat 3 tipe yaitu, gejala fisik, gejala psikologis dan gejala perilaku.
Dalam penelitian ini akan menggunakan pengukuran Patricia (2006) dimana indikatornya antara lain: Fisiologis, Kognitif, Subyektif, Perilaku, dan Keorganisasian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar