Dikemukakan oleh Hanafi, Mamduh M (2014:88) ada keterbatasan analisis
laporan keuangan yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Data yang dicatat dan dilaporkan oleh laporan keuangan mendasarkan pada
harga perolehan (historical cost). Metode harga perolehan dipakai oleh para
akuntansi karena metode tersebut dinilai palling objektif dibanding metode lain
seperti metode harga pasar atau harga penggantian saat ini (current
replacement cost). Metode akuntansi juga mendasarkan pada metode akrual
yang berusaha mempertemukan pendapatan dengan biaya-biaya yang berkaitan
dengan usahamemperoleh pendapatan tersebut. Metode seperti ini tida
memperhatikan kapan muncul atau keluarnya kas. Dalam jangka pendek antara
metode kas dengan metode akrual barangkali tidak menghasilkan informasi
yang sama.
2. Penyusunan suatu laporan keuangan juga didasarkan pada beberapa alternatif
metode akuntansi (misal metode FIFO, LIFO, rata-rata persediaan). Dua
perusahaan yang mempunyai kondisi yang sama, barangkali akan memberikan
informasi yang berbeda karena perbedaan metode akuntansi.
3. Upaya perbaikan barangkali bisa dilakukan oleh pihak manajemen untuk
memperbaiki laporan keuangan sehingga laporan keuangan nampak bagus.
4. Banyak perusahaan yang mempunyai beberapa divisi atau anak perusahaan
yang bergerak pada beberapa bidang usaha (industri). Untuk perusahaan
semacam ini, analis akan kesulitan memilih perbandingannya karena
perusahaan tersebut bergerak pada beberapa industri. Juga data-data divisi
untuk mengetahui prestasi divisi biasanya tidak lengkap dilaporkan, sehingga
analis akan mengalami kesulitan meganalisis prestasi divisi-divisi dalam
perusahaan.
5. Inflasi atau deflasi akan mempengaruhi laporan keuangan terutama yang
berkaitan dengan rekening-rekening jangka panjang. laporan yang
menggunakan harga perolehan akan cenderung terlalu rendah melaporkan datadata laporan keuangan.
6. Rata-rata industri merupakan rata-rata perusahaan yang ada dalam industri.
Ada beberapa perusahaan yang tidak bagus yang dipakai juga untuk
perhitungan rata-rata industri. Juga rata-rata industri bukan merupakan standar
yang selalu baik, yang seharusnya diikuti oleh perusahaan karena rata-rata
industri hanya rata-rata perusahaan di industri. Perusahaan yang ingin sukses
biasanya harus berada diatas rata-rata industri, bukannya sama dengan rata-rata
industri. Angka yang lebih rendah dibandingkan rata-rata industri juga tidak
selalu jelek. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan
baik-buruknya suatu angka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar