Jumat, 08 Oktober 2021

Komitmen Organisasional (skripsi dan tesis)


Mekta (2016) mendefinisikan komitmen organisasi merupakan sikap yang
merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan dimana
anggota organisasi mengekpresikan perhatiannya terhadap organisasi. Komitmen
organisasi dapat tumbuh dari ikatan emosional terhadap perusahaan yang meliputi
dukungan moral, nilai-nilai dalam perusahaan serta kemauan dalam diri untuk mengabdi
pada perusahaan. Pamungkas (2014) menyebutkan komitmen organisasi merupakan
identifikasi dari keterlibatan seseorang terhadap organisasi. untuk tetap
mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi dan bersedia berusaha keras bagi
pencapaian tujuan organisasi.
Komitmen organisasi mencakup kebanggaan anggota, kesetiaan anggota, dan
kemauan anggota pada organisasi. Susanti dan Palupiningdyah (2016) mengemukakan
bahwa karyawan memiliki komitmen organisasi yang tinggi bila memiliki kepercayaan
dan menerima tujuan dan nilai organisasi, Berkeinginan untuk berusaha ke arah
pencapaian tujuan organisasi, dan memiliki keinginan yang kuat untuk bertahan sebagai
anggota organisasi. Selain itu, Haris (2017) menyatakan komitmen organisasi sebagai
kepercayaan karyawan menerima tujuan-tujuan organisasi dan memilih tetap bertahan
dan tidak meninggalkan organisasi.
Menurut Schermerhorn, Hunt, Osborn, dan Uhl-Bien (2011), bahwa komitmen
organisasional merupakan tingkat loyalitas yang dirasakan individu terhadap organisasi.
Sedangkan Newstrom (2011) memberikan pengertian yang sama antara organizational
commitment dan employee loyality, yaitu sebagai suatu tingkatan dimana pekerja
mengidentifikasi organisasinya dan ingin melanjutkan secara aktif berpartisipasi di
dalamnya. Selanjutnya, pekerja menunjukan bahwa diri dan organisasinya memiliki
kesesuaian dalam hal etika dan harapan sehingga timbul rasa satu kesatuan antara diri
dan perusahaannya.
Konsep komitmen organisasi berkaitan dengan tingkat keterlibatan orang dengan
organisasi dimana mereka bekerja dan tertarik untuk tetap tinggal dalam organisasi
tersebut. Pandangan ini dipertegas Colquitt, Lepine, dan Wesson (2011) bahwa
komitmen organisasi adalah sebagai keinginan pada sebagian pekerja untuk tetap
menjadi anggota organisasi. Dengan demikian komitmen organisasi mempengaruhi
apakah seorang pekerja tetap tinggal sebagai anggota organisasi (retained) atau
meninggalkan untuk mengejar pekerjaan lain (turnover). Ini artinya, komitmen
merupakan suatu sikap yang mencerminkan loyalitas pekerja pada organisasi dan
merupakan suatu proses yang sedang berjalan melalui mana peserta organisasi
menyatakan perhatian mereka terhadap organisasi dan kelanjutan keberhasilan dan
kesejahteraannya. Sejalan dengan hal itu Kaswan (2012) menyatakan komitmen
organisasi didefinisikan sebagai sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada
organisasi dan proses berkelanjutan dimana anggota organisasi mengekspresikan
perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan.
Sebagai bentuk refleksi dari sikap karyawan, kedekatan emosional dan bentuk
perhatian karyawan terhadap organisasinya untuk untuk mencapai keberhasilan dan
keberlanjutan suatu organisasi Luthans (2012), komitmen sudah dianggap sebagai salah
satu sikap karyawan yang banyak mendapatkan perhatian peneliti di bidang perilaku
organisasi. Sutrisno et al (2018) menyatakan bahwa komitmen organisasional terbentuk
karena adanya kepercayaan, kemauan dan keinginan untuk mencapai suatu tujuan agar
dapat mempertahankan eksistensinya sebagai bagian dari organisasi dalam kondisi baik
ataupun buruk. Komitmen berperan penting pada kinerja karyawan (Ramadhan, 2017)
yang dapat menjadi motivasi atau mendorong seseorang untuk bertanggung jawab
terhadap kewajibannya (Brodoastuti, 2016), sehingga karyawan dapat menghadapi
setiap tantangan dan kesulitan yang dihadapinya.
Secara singkat pada intinya beberapa defenisi komitmen organisasi dari
beberapa ahli diatas mempunyai penekanan yang hampir sama yaitu : proses pada
individu (pegawai) dalam mengidentifikasikan dirinya dengan nilai-nilai, aturan-aturan
dan tujuan organisasi. Dalam dunia kerja, komitmen seseorang dalam organisasi
perusahaan seringkali menjadi isu yang penting. Begitu pentingnya hal tersebut, sampaisampai beberapa organisasi berani memasukan unsur komitmen sebagai salah satu
syarat untuk memegang suatu jabatan/posisi yang ditawarkan dalam iklan - iklan
lowongan pekerjaan. Sayangnya meskipun masih belum memahami arti komitmen
secara sungguh-sungguh. Padahal pemahaman tersebut sangatlah penting agar tercipta
kondisi kerja yang sangat kondusif sehingga perusahaan dapat berjalan efektif dan
efisien.
Kanter (1986), mengemukakan :
1. Komitmen berkesinambungan (continuance commitment), yaitu komitmen
yang berhubungan dengan dedikasi anggota dalam melangsungkan kehidupan
organisasi dan menghasilkan orang yang mau berkorban dan berinvestasi pada
organisasi;
2. Komitmen terpadu (cohesion commitment), yaitu komitmen anggota terhadap
organisasi sebagai akibat adanya hubungan sosial dengan anggota lain di
dalam organisasi. Ini terjadi karena karyawan percaya bahwa norma-norma
yang dianut organisasi merupakan norma-norma yang bermanfaat;
3. Komitmen terkontrol (control commitment), yaitu komitmen anggota pada
norma anggota organisasi yang memberikan perilaku yang diinginkannya.
Norma yang dimiliki organisasi mampu memberikan sumbangan terhadap
perilaku yang diinginkannya.
Menurut Meyer, Allen, dan Smith (1998) mengemukakan tiga komponen
komitmen organisasional, yaitu:
1. Affective commitment, terjadi apabila karyawan ingin menjadi bagian dari
organisasi karena adanya ikatan emosional;
2. Continuance commitment, muncul apabila karyawan tetap bertahan pada suatu
organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan lain, atau karena tidak
menemukan pekerjaan lain;
3. Normative commitment, timbul dari nilai-nilai dalam diri karyawan. Karyawan
bertahan menjadi anggota organisasi karena adanya kesadaran bahwa
komitmen terhadap organisasi merupakan hal yang seharusnya dilakukan.
Komitmen organisasi yang telah diterapkan dan menjadi pedoman bagi pegawai
untuk terus meningkatkan loyalitas kerjanya sangat dipengaruhi berbagai faktor dalam
pencapainnya. Selanjutnya Sopiah (2008) mengemukakan ada 5 faktor yang berpengaruh
terhadap komitmen organisasi yaitu: (1) budaya keterbukaan, (2) kepuasan kerja, (3)
kesempatan personal untuk berkembang, (4) arah organisasi dan (5) penghargaan kerja
yang sesuai dengan kebutuhan.
Selain itu komitmen organisasi juga memberikan berbagai faktor yang
mempengaruhinya, hal ini ditegaskan oleh Steers (1985) yang menyatakan bahwa faktor
yang mempengaruhi komitmen organisasi adalah sebagai berikut :
1. Kepercayaan
Pegawai yang memiliki komitmen organisasi tentunya akan merasa
bangga dapat bergabung dengan perusahaannya. Dalam kerangka
komitmen, kepercayaan pegawai pada organisasi menyebabkan antara lain
pegawai merasa organisasi mampu memenuhi kebutuhan dan
menyediakan sarana yang diperlukan.
2. Kemauan
Kemauan pegawai untuk bekerja lebih giat dan dengan sekuat tenaga demi
mencapai tujuan organisasi mencerminkan tingginya tingkat komitmen
pegawai. Dengan adanya kemauan dari para pegawai paling tidak dapat
digunakan untuk memprediksi tingkah laku pegawai, dalam hal ini
tanggung jawabnya pada perusahaan.
3. Kesetiaan
Secara umum kesetiaan menunjuk kepada tekad dan kesanggupan
mentaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang disertai dengan
penuh kesadaran dan tanggung jawab. Pegawai yang mempunyai kesetiaan
yang tinggi pada perusahaan tercermin dari sikap dan tingkah lakunya
dalam melaksanakan tugas serta tekad dan kesanggupan mereka terhadap
apa yang sedang disepakati bersama.

Tidak ada komentar: