Theory of Reason Action kemudian diperluas dan dimodifikasi oleh
Ajzen dengan teori perilaku terencana (theory of planned behavior), di mana
determinan intensi tidak hanya dua (sikap terhadap perilaku yang
bersangkutan dan norma-norma subjektif) melainkan tiga dengan
diikutsertakannya aspek kontrol perilaku yang dihayati (perceived behavioral
control). Keyakinankeyakinan berpengaruh pada sikap terhadap perilaku
tertentu, pada norma-norma subjektif, dan pada kontrol perilaku yang
dihayati. Keyakinan mengenai perilaku apa yang bersifat normatif dan
motivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan normatif tersebut
membentuk norma subjektif dalam diri individu. Kontrol perilaku ditentukan
oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit
atau mudahnya untuk melakukan perilaku yang bersangkutan. Dalam teori
perilaku terencana, faktor utama dari suatu perilaku yang ditampilkan
individu adalah intensi untuk menampilkan perilaku tertentu (Ajzen, 1991:
hal 5). Intensi diasumsikan sebagai faktor motivasional yang mempengaruhi
perilaku. Intensi merupakan indikasi seberapa keras seseorang berusaha atau
seberapa banyak usaha yang dilakukan untuk menampilkan suatu perilaku.
Sebagai aturan umum, semakin keras intensi seseorang untuk terlibat
dalam suatu perilaku, semakin besar kecenderungan ia untuk benar-benar
melakukan perilaku tersebut. Intensi untuk berperilaku dapat menjadi perilaku
sebenarnya hanya jika perilaku tersebut ada di bawah kontrol individu yang
bersangkutan. Individu tersebut memiliki pilihan untuk memutuskan
menampilkan perilaku terterntu atau tidak sama sekali. (Ajzen, 1991). Sampai
seberapa jauh individu akan menampilkan perilaku, juga tergantung pada
faktor-faktor non motivasional. Jika intensi dianggap sebagai faktor yang
konstan, maka usaha-usaha untuk menampilkan perilaku tertentu tergantung
pada sejauh mana kontrol yang dimiliki individu tersebut. Hal penting kedua
yang mendasari pernyataan bahwa ada hubungan langsung antara kontrol
terhadap perilaku yang dihayati (perceived behavioral control) dan perilaku
nyatanya , seringkali dapat digunakan sebagai pengganti atau subtitusi untuk
mengukur kontrol nyata (actual control).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar