Tunadaksa merupakan sebutan halus bagi orang-orang yang
memiliki kelainan fisik. Khususnya anggota badan seperti tangan, kaki,
atau bentuk tubuh. Salah seorang guru dari salah satu sekolah luar biasa
mengatakan tunadaksa adalah istilah lain dari tuna fisik berbagai jenis
gangguan fisik yang berhubungan dengan kemampuan motorik dan
beberapa gejala penyerta yang mengakibatkan seseorang mengalami
hambatan dalam mengikuti pendidikan normal, serta dalam proses
penyesuaian diri dengan lingkungannya. Namun tidak semua anak
tunadaksa memiliki keterbelakangan mental. Malah ada yang memiliki
kemampuan daya pikir lebih tinggi dibandingkan anak normal pada
umumnya. Bahkan tak jarang kelainan yang dialami oleh penyandang
tunadaksa tidak membawa pengaruh buruk terhadap perkembangan jiwa
dan pertumbuhan fisik serta kepribadiannya. Demikian pula ada di antara
anak tunadaksa hanya mengalami sedikit hambatan sehingga mereka
dapat mengikuti pendidikan sebagaimana anak normal lainnya (Smart,
2012: 44).
Secara etiologis, gambaran seseorang yang diidentifikasi mengalami
ketunadaksaan, yaitu seseorang yang mengalami kesulitan mengoptimalkan fungsi anggota tubuh sebagai akibat dari luka,
pertumbuhan salah bentuk, dan akibatnya kemampuan untuk melakukan
gerakan-gerakan tubuh tertentu mengalami penurunan (Efendi, 2009:
114).
Didalam Wikipedia, pengertian tunadaksa adalah individu yang
memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular
dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan,
termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan
pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam
melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi,
sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan
koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan
fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
Antara anak normal dan tunadaksa memilki peluang yang sama
untuk melakukan aktualisasi diri. Hanya saja, banyak orang yang
meragukan kemampuan dari anak tunadaksa. Perasaan yang iba
berlebihan selalu membuat seseorang tidak mengizinkan anak tunadaksa
melakukan kegiatan fisik. Dengan adanya ketunaan pada diri mereka,
eksistensinya sering terganggu. (Smart, 2012: 45)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar